Apa yang akan kalian lakukan saat sweet seventeen-mu malah mendapatkan suatu musibah? Seperti, diperkosa.
Ada tiga pilihan saat musibah itu datang; tetap melanjutkan hidup meski perlahan menghancurkanmu, memilih mengakhiri hidup meski hidupmu pun t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kembali pada rutinitas tiap harinya. Ayesha datang ke kampus dengan wajah berbinar. Ia sudah menganggap masalahnya dengan Naila dan Khoiril sudah usai. Meski pria itu masih saja sering menghubunginya. Gadis itu tidak tau dari mana Khoiril mendapatkan nomor ponselnya. Intinya, ia tidak ingin lagi berurusan dengannya.
Ada hal yang lebih tidak menyehatkan jantungnya saat kedua orang tuanya menyuruhnya untuk duduk baik-baik dihadapan mereka. Ayesha pikir ia sudah membuat kesalahan karena Ayah dan Bundanya seperti ingin menyidangnya. Ternyata, satu pertanyaan dari Ayahnya membuatnya mati kutu.
"Kamu dilamar sama laki-laki tadi. Dia normal, kan?"
Saat itu Ayesha hanya bisa melongo. Apakah dimata kedua orang tuanya, ia tidak punya daya tarik gitu? Mereka berdua terlalu meremehkannya.
"Kamu beneran suka sama dia?" tanya Bundanya lagi.
"Ayah sama Bunda tuh kenapa sih? Kursi Echa belum panas loh, udah diwawancarai kayak gini," keluhnya.
"Sebenernya Bunda udah pengen nanyain kamu, tapi gak enak karna ada laki-laki tadi."
Sang ayah juga menyetujui. "Ayah liat, dia cowok yang baik. Tapi tidak buat kamu."
Ayesha mengernyit bingung. Ucapan Ayahnya seolah mengandung sarat ketidaksetujuan jika ia menikah dengan Kholif. "Maksud Ayah?"
Zidna menoleh kearah sang suami seolah memberikan kode.
"Bukan apa-apa, nak. Anak Ayah pantes dapetin yang jauh lebih baik."
Seketika, perasaan kecewa melanda hati Ayesha. Perasaan yang bukan kehendaknya. Entah kenapa dalam hati ia berharap bahwa Ayahnya mengiyakan lamaran itu. Katakan saja bahwa ia sedang gengsi mengakui Kholif itu mempunyai tempat yang spesial di hatinya. Walaupun, ia seringkali menolak pria itu terang-terangan.
Mengingat kejadian itu membuat hati Ayesha gundah dan kembali kecewa. Padahal pembicaraan itu sudah lewat beberapa hari.
"Ca, udah lama nunggu?" panggil Mila saat keluar dari kampus usai mengikuti rapat himpunan.
"Lumayan. Beneran gak mau ikut kajian ntar malem?" tanya Ayesha untuk kesekian kalinya.
Mila menggeleng. "Gak, Ca. Gue itu belum dapet hidayah."
Ayesha memutar bola matanya malas. Jawaban Mila dari awal sama. Belum dapat hidayah. "Hidayah itu dicari."
Mila menangkup wajah Ayesha sehingga bibirnya menjadi monyong bak bebek. "Iya, Ustadzah."