16 Perasaan Sensitif

1K 77 0
                                        

~

"Mil, pinjem tugas boleh gak?" Ayesha memasang wajah memelasnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mil, pinjem tugas boleh gak?" Ayesha memasang wajah memelasnya. Ia lupa kalau hari ini ada praktikum anatomi dan tugasnya pun belum selesai.

"Selama tiga hari ini lo ngapain aja sih, Cha?" tanya Mila tidak habis pikir. Namun, ia tetap menyodorkan bukunya berisi tugas yang sahabatnya minta.

"Aku istirahat, Mil," jawabnya. Netranya tak sengaja melihat jarum jam yang ada di dinding tepat diatas papan tulis putih.

"Yaa Allah, 20 menit lagi jam 1. Aduhh, Mil," rengek Ayesha panik. Bahkan tangannya sudah gemetaran saat menyalin tugas dari Mila.

"Mampus sudah. Terima nasib kalo lo gak bakal masuk praktikum lagi." Bukannya menyemangati, justru Mila menjatuhkan semangatnya. Sejatuh-jatuhnya.

Ayesha menghela napas pasrah. Sebenarnya, ia pun malas melakukan praktikum kalau Kholif ada disana. Bukan malas, lebih tepatnya ia malu. Apalagi setelah pria itu menolongnya tiga hari yang lalu. Bahkan memeluknya. Jantungnya tidak dapat diajak kompromi.

Gadis itu menepuk jidatnya dan menutup wajahnya, berusaha menahan malu sebelum berhadapan dengan pria itu. Tingkahnya tak luput dari perhatian Mila yang menyimpan curiga.

"Aneh lo. Kenapa?" Mendengar pertanyaan itu, sontak Ayesha menoleh kearah sahabatnya dan memilih untuk menggelengkan kepala. Kalau sampai ia menceritakan tentang Kholif yang menolongnya, bisa-bisa ia jadi bahan ejekan atau minimal Mila akan jadi Mak Comblang.

"Gak. Aku gak apa-apa. Cuma dikit pusing," alibinya.

Mila ber-oh ria meski dalam hati, ia tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang keluar dari mulut sahabatnya.

"Lima menit lagi. Yuk, kita ke depan lab. Anak-anak yang lain udah pada disana pasti. Makanya sepi."

Ayesha mempersiapkan semuanya dan pasrah akan diomeli oleh para asisten. Mungkin salah satunya adalah Kholif, si musim salju. Wait, kalau Ayesha ingat lagi malam itu musim salju tergantikan dengan musim semi yang berhasil membuat kehangatan menjalar diseluruh tubuhnya. Bahkan hatinya pun ikut bermekaran seperti tumbuhan yang mekar setelah musim dingin pergi.

Baik, kita akan lihat bagaimana Kholif akan memarahinya. Sedikit menguji adrenalinnya. Tapi Ayesha rasa cukup menantang. Hatinya sudah siap menanggung dan menahan semuanya kalau Kholif memarahinya.

"Yuk," ajak Ayesha yang mulai bersemangat dan menarik lengan Mila yang ketar-ketir mengambil bukunya. Mila dibuat bingung oleh perubahan sikap Ayesha padahal tadi Ayesha sudah pasrah dengan jalannya. Sekarang, berbeda 180 derajat.

GoodBye, Memories! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang