Apa yang akan kalian lakukan saat sweet seventeen-mu malah mendapatkan suatu musibah? Seperti, diperkosa.
Ada tiga pilihan saat musibah itu datang; tetap melanjutkan hidup meski perlahan menghancurkanmu, memilih mengakhiri hidup meski hidupmu pun t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"APA?" Teriak Zidna ketika mendengar kabar di waktu menjelang tengah malam.
Sudah dari tadi perasaannya tidak enak saat putrinya tak kunjung tiba ke rumah dari tempat kajiannya. Ketakutan menguasai hati seorang wanita paruh baya itu mengingat kejadian mengerikan yang didapatkan oleh Ayesha.
"Rumah sakit mana, Sus?" Suara Zidna bergetar sekaligus panik.
"Ohh, baik. Saya akan segera kesana," finalnya.
Wanita paruh baya itu meneriaki suaminya dari lantai bawah. Ia benar-benar panik mendengar kabar bahwa anaknya pingsan dan saat ini berada di rumah sakit. Sebagai orang tua, Zidna merasa lalai karena membiarkan putrinya keluar tanpa pengawasan.
"Ayah, Ayesha masuk rumah sakit, Yah."
Zidna kalang kabut. Ia berlari masuk ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Sementara Azzam pun ikut berlari dari ruang kerjanya di lantai dua menuju kamar untuk menenangkan istrinya yang sudah pasti histeris.
"Bun, tenang yah," ujar Azzam sembari mengekori istrinya yang mencari jilbabnya.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mas? Anak kita lagi di rumah sakit dan kita gak tau penyebabnya. Aku takut, Mas." Air matanya berhasil membasahi wajahnya hingga terlihat sangat lembab.
Azzam langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya. Ia berusaha menenangkan wanita yang berhasil menjadi seorang ibu dari putra-putrinya. Semenjak kejadian yang mengenaskan itu terjadi pada putrinya, Zidna selalu merasa gagal menjadi seorang ibu. Ia selalu merasa gagal menjaga putrinya. Padahal tugas menjaga mereka bukan hanya dirinya. Melainkan, Azzam pun seharusnya ikut andil.
"Aku salah. Aku gagal jadi seorang ibu." Zidna tak henti-hentinya menyalahkan dirinya kalau ia-lah penyebab kecelakaan yang dialami putrinya.
"Sayang, tenang yah. Tugas jagain Ayesha bukan cuma kamu. Tapi aku juga. Maafin aku karna gak bisa jagain putri kita dengan baik. Aku juga ngerasain hal yang sama Bun, tapi aku mau kita lalui ini bareng-bareng. Jangan sendirian yah, sayang," lirih Azzam dengan suara parau. Ia berharap istrinya bisa tenang dan memaafkan dirinya.
Deru napas Zidna perlahan mulai teratur. Kata-kata Azzam berhasil menenangkan istrinya yang sejak tadi hanya menangis histeris tanpa tahu apa yang harus ia lakukan sebelum ke rumah sakit. Mungkin saja kalau Azzam tidak ada, Zidna akan lupa menutup auratnya ke rumah sakit.
Zidna pun membalas pelukan suaminya dengan pelukan erat. Ia membutuhkan pelukan itu untuk menenangkan dirinya. Bahkan, si suami dengan suka rela memberikan bahunya untuk sang istri yang menumpahkan air matanya. Meski bajunya sendiri akan basah.