44 Minta Maaf

1K 73 21
                                        

~

Sejak semuanya terbongkar, berita itu langsung sampai ke telinga kedua orang tua Kholif

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejak semuanya terbongkar, berita itu langsung sampai ke telinga kedua orang tua Kholif. Disaat itu juga, Abi dan Uminya menyuruh putranya datang ke rumah untuk membicarakan semuanya. Ada rasa malu dan kecewa yang mereka rasakan sebagai orangtua. Ia pikir putranya dahulu hanya sebatas meminum minuman haram meski itu pun sangat terlarang dalam agama. Tapi Azka tidak menyangka bahwa putranya pernah memperkosa seorang gadis.

Plak!

Saat Kholif tiba, sebuah tamparan keras medarat dipipi pria itu. Namun, tamparan itu bukan dari Abinya, melainkan dari Uminya sendiri. Fidah teramat sakit hati karena ulah putranya. Sebagai seorang wanita, Fidah merasa hancur mendapati kenyataan tentang masalalu menantunya. Ia sama sekali tidak tahu menahu tentang itu. Fidah pun merasa gagal menjadi seorang ibu yang mendidik putranya untuk menghargai seorang wanita.

"Lif, berapa kali Umi bilang sama kamu. Kalo kamu nyakitin perempuan, sama saja kamu nyakitin Umi. Kamu pernah gak sih mikirin Umi sedikit aja saat kamu lakuin itu, hah?" Suara Fidah bergetar hebat. Ia malu dan tidak sanggup bertemu dengan Zidna, sahabatnya.

"KAMU TAU, LIF? HANCUR HATI UMI!"

"KAMU MIKIR GAK BAGAIMANA PERASAAN SEORANG IBU? IBU MANA YANG GAK HANCUR SAAT ANAKNYA MENJADI KORBAN PEMERKOSAAN?"

Kholif hanya bisa terdiam dan mematung mendengarkan Uminya yang meluapkan segala kekecewaan. Yah, ia berhasil menghancurkan segalanya. Kepercayaan Umi dan Abinya, dalam sekejap hilang.

"Ma-maafin aku, Umi, Abi. Aku udah kecewain kalian," lirih Kholif. "Waktu itu aku setengah sadar. Niatnya aku mau nolongin, tapi aku yang malah kepancing. Maafin aku."

"Kamu bilang maaf? Maaf kamu gak bisa balikin apa yang udah terjadi sama istri kamu." Kali ini Azka angkat suara.

Pria paruh baya itu sangat ingin menghajar putranya. Tapi tidak sekarang. Sebagai seorang Ayah, ia pun merasa dirinya gagal dalam mendidik putranya.

Tiba-tiba, Azka melayangkan pukulan dipipinya membuat semua orang disana tercengang. Tak terkecuali Khoiril yang awalnya masa bodoh. Fidah hanya berteriak histeris dan takut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Baru kali ini, ia melihat Azka sefrustasi itu.

"Disini yang harus dihukum itu Abi."

Bugh!

"Abi gagal menjadi seorang Ayah."

Bugh!

"Abi gak bisa didik anak laki-laki Abi jadi lelaki yang bertanggung jawab."

Khoiril berlari menahan Abinya agar berhenti memukuli dirinya sendiri. Fidah langsung memeluk suaminya dengan tangis yang sudah pecah.

GoodBye, Memories! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang