17 Keadaan Ayesha

1K 81 0
                                        

~

Rebahan sepertinya sudah menjadi aktivitas menyenangkan di hari libur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rebahan sepertinya sudah menjadi aktivitas menyenangkan di hari libur. Sudah tiga jam Ayesha hanya melakukan aktivitas itu dengan ponsel di tangannya. Kali ini tidak perlu ditanya apa yang ia lakukan di ponselnya. Karena sudah pasti hanya membuka platform orange yang berisi banyak cerita menarik di dalamnya.

Wajahnya terlihat sumringah. Sesekali ia senyum-senyum sendiri, membayangkan ia berada diposisi itu. Lucu, memang. Disaat orang-orang lebih menyukai cerita yang bergambar, justru Ayesha lebih menyukai yang hanya tulisan. Karena katanya daya imajinasinya meningkat. Ia bisa membayangkan dirinya berada diposisi itu.

Namun setelah berjam-jam, sepertinya ia mendapat titik kebosanannya. Justru Ayesha memilih membuka youtube yang tiba-tiba perempuan itu mendapati cuplikan video yang membuat darahnya berdesir. Matanya pun ikut berkaca-kaca.

Maraknya kejadian pelecehan seksual. Banyak perempuan diluar sana yang tidak lagi dijunjung tinggi kehormatannya. Padahal Rasullullah SAW sangat menjaga kehormatan perempuan dan memuliakannya.

Tiba-tiba terlintas bayangan yang sama di kepala perempuan itu. Sama seperti beberapa malam yang lalu.

"TIDAAAKKK!" Teriakan Ayesha di sore hari mengejutkan Zidna yang sedang melakukan ritual memasak untuk makan malam.

"Sha? Kenapa?" tanya Zidna setengah berteriak dari lantai bawah.

"AAAA! PERGII!"

Zidna seketika menghentikan kegiatannya. Lalu berlari keatas dan memanggil Bibi yang baru saja tiba berbelanja bulanan. Wanita paruh baya itu menggedor pintu kamar putrinya yang lagi-lagi berteriak histeris.

"Ayesha, bukan pintunya, Nak." Air mata Zidna berhasil menembus pertahanannya. Keadaan Ayesha yang seperti itu membuat traumanya kembali. Apalagi pada saat putri satu-satunya mencoba lompat dari jembatan.

"GAAAK! PERGII! JANGAN DEKET-DEKET!" Ayesha membuang seluruh benda yang ada di meja kearah pintu karena ketakutan. Entah apa yang ada dibayangannya.

Satpam yang berjaga pun berlari menaiki tangga diikuti dengan seorang pembantu yang tak kalah panik. 

Pecahan kaca pun terdengar beriringan dengan suara teriakan Ayesha yang tidak lagi terdengar semakin membuat panik Bundanya.

"Pak, bukain yah," pinta Zidna yang sudah panik. Ditambah lagi suami dan kedua putranya tidak mengangkat panggilannya. Belum lagi, rasa panik bercampur khawatir dari seorang wanita paruh baya itu semakin meningkat kala ia tak lagi mendengar suara jeritan atau teriakan putrinya dari dalam kamarnya.

"Aduhh, semuanya lagi pada ngapain sih gak angkat telpon?" gerutunya.

Namun, terlintas dibenaknya seseorang yang mungkin bisa membantunya. Zidna langsung menghubungi sosok yang dimaksud saat Pak Satpam pun berusaha mendobrak pintu dengan tubuh gemuknya.

GoodBye, Memories! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang