45 Mulai Berbeda

1.1K 67 0
                                        

BARU UP LAGI.
Soalnya, akhir-akhir ini aku gak ada mood buat nulis sih sebenarnya. Jadi aku biasanya nge-blank dong. Udah diusahain kok, nulisnya dikit-dikit, tapi tetap aja feelnya gak kerasa.

Happy Reading! 💕

~

"Abang, Bunda, aku mau pulang ke rumah sama Mas Kholif

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Abang, Bunda, aku mau pulang ke rumah sama Mas Kholif."

Semua mata tertuju pada seorang wanita yang memilih pilihan yang tidak seharusnya ia pilih. Lisannya memang berkata seperti itu, tetapi hatinya tetap tidak ikhlas untuk ikut bersama Kholif. Namun, semua yang Ayesha lakukan adalah demi kebaikannya dan anak yang ia kandung.

Tidak terima dengan keinginan adiknya, Attar spontan menggebrak meja.

"KENAPA, SHA?" tanyanya dengan suara yang meninggi. Kenapa adiknya begitu bodoh? Adiknya lebih memilih untuk menyakiti dirinya demi bersama dengan pria brengsek dan pengecut itu.

Kholif yang melihat respon dari sahabatnya hanya bisa menerima. Sebagai saudara, wajar Attar begitu membenci sosok yang ikut andil menghancurkan adiknya.

"Ke-kenapa, nak?" Suara Zidna terdengar bergetar dengan mata berair yang memandang putrinya.

"Jangan tinggalin Bunda." Wanita paruh baya itu sontak memeluk putrinya dengan erat. Demi Allah, sungguh Zidna sangat tidak ikhlas jika putri satu-satunya harus kembali bersama menantunya yang munafik dimatanya. Ia tidak ingin Ayesha makan hati selama bersama Kholif.

Ayesha menggeleng. "Aku gak ninggalin Bunda kok. Tapi, aku tetap harus kembali sama suami, Bun. Aku masih sah istrinya."

Tiba-tiba, Zidna beralih menuju Kholif dan menampar pria itu. Seharian, Kholif mendapatkan tamparan dan bogeman di wajahnya hingga terasa kebas. Ia tidak menolak karena ia sadar bahwa ia pantas mendapatkannya.

Zidna memukul keras dada menantunya dan berteriak histeris.

"CERAIKAN PUTRI SAYA!"

Kalimat itu terus terulang-ulang hingga Ayesha meneteskan air matanya kembali. Ia ingin menangis tapi tidak di depan keluarganya. Ia harus berusaha untuk kuat dan membuktikan bahwa yang ia lalui saat ini akan terselesaikan sendiri. Tanpa bantuan Abang dan Bundanya. Sudah cukup Ayesha merasa menyusahkan keluarganya selama ia kehilangan kendali hidup.

"Bu-bunda, cukup!" seru Ayesha dan menarik Zidna dalam pelukannya.

"Aku gak apa-apa, Bun. Aku udah dewasa. Aku bukan Ayesha yang dulu mencoba untuk bunuh diri lagi." Ayesha berusaha menenangkan Bundanya.

GoodBye, Memories! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang