0.1

25.8K 2.1K 97
                                        

"Menjijikan."

Hentikan.

"Sampah sepertimu nggak pantas melihatku seperti itu!"

Hentikan.

"Kamu bangga dengan wajahmu itu hah?"

Kumohon berhenti.

"MATI SAJA SANA! MATI!"

KUBILANG HENTIKAN!


Dengan satu tarikan nafas yang tertahan, aku berhasil bangun dengan peluh yang masih bercucuran dan nafas yang tersengal-sengal.

Mimpi itu lagi.

Aku menerawang ke seluruh kamar apartemenku. Tidak ada apapun disini. Dia sudah tak ada lagi.

Benar. Itu sudah lama berlalu.

Aku menghembuskan nafas panjang, sambil mencoba untuk mengatur detak jantungku yang berdetak terlalu cepat daripada biasanya.

Cuma mimpi. Cuma mimpi.

Kulirik alarm digital yang ada dinakasku.

05.59 AM

Bagus. Sudah pagi.

Itu artinya aku tidak perlu lagi repot-repot memaksakan tubuhku untuk kembali tidur.

Pipp Pipp Pipp Pipp Pipp

Alarm digital itu melaksanakan tugasnya untuk membangunkanku tepat setelah pukul 05.59 berubah menjadi 06.00.

Tanganku meraih alarm digital tersebut dan mengganti modenya menjadi off. Aku bangkit dari tempat tidurku dan pergi ke dapur untuk meminum air serta menenangkan pikiranku.

Pagi ini kumulai dengan membuat sarapan sederhana berupa telur orak-arik dan selembar roti panggang, ditemani dengan saus tomat dan mayonaise.

Perkenalkan, namaku Kim Nakwon, 18 tahun. Aku adalah seorang siswi dari sekolah khusus perempuan yang baru saja lulus tahun ini dan sedang menjalani liburan panjang sebelum akhirnya masuk ke universitas.

Sebenarnya nggak panjang-panjang amat sih, soalnya liburan panjang itu akan berakhir besok. Ya, besok aku sudah menjadi mahasiswi.

Tapi sejujurnya aku khawatir. Aku khawatir tentang diriku yang akan masuk universitas umum sebentar lagi, aku takut tidak bisa bertahan disana.

Bukan tanpa alasan aku takut tidak bisa bertahan disana, tapi aku ini punya phobia yang cukup parah—atau mungkin sangat parah.

Bipp Bipp Bipp Bipp Bipppppp

Pintu apartemenku terbuka dan kemudian seseorang masuk sambil membawakan banyak kantung belanjaan. Dia Park Siyeon, temanku sejak SMP.

Siyeon masuk ke universitas yang sama denganku tapi berbeda jurusan, aku jurusan psikologi dan dia jurusan bisnis (karena orangtuanya pengusaha). Karena memutuskan untuk pindah ke Seoul, akhirnya orangtua Siyeon membelikan kami berdua apartemen kecil dengan satu kamar (sesuai keinginan kami).

"Kamu kenapa keringetan gitu?" tanyanya sambil duduk disampingku dan memakan sarapannya yang sudah kubuat. "Mimpi tentang hal itu lagi?"

Aku mengangguk.

Sebenarnya aku tidak ingin menceritakannya pada kalian, tapi kupikir kalian harus tahu. Aku adalah seorang anak piatu, ibuku sudah meninggal dan ayahku ... yah dirawat di rumah sakit jiwa.

Aku hidup sebatang kara sejak masih kelas dua SMP, bersama dengan phobiaku tentunya. Aku tidak punya sanak keluarga yang mau menampungku, hingga akhirnya Siyeon dan keluarganya mengulurkan tangannya padaku. Mereka membiayai semua keperluanku hingga sekarang.

Untuk membalas kebaikan mereka, aku berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan beasiswa semasa sekolah dulu hingga masuk universitas. Sekarang aku juga bekerja part time untuk uang saku tambahan, sehingga mereka tidak perlu repot-repot mengirimkan tambahan uang saku padaku dan Siyeon.

"Kamu kok kambuh lagi? Tiga tahun belakangan ini nggak mimpi itu la—Jangan bilang gara-gara besok mau masuk universitas?!!" pekiknya.

Aku menggeleng. "Nggak kok."

"Kamu sih dibilanginnya batu! Aku bilang kan nggak usah ke universitas ini!"

"Tapi disini jurusan psikologinya yang paling bagus, Yeon."

Alasan aku masuk jurusan psikologi karena aku harus belajar menghilangkan phobiaku dan tentunya membantu orang-orang diluar sana yang bernasib sama denganku.

"Pokoknya aku nggak mau tau ah, kamu harus konsultasi sama psikiater!"

Aku melotot. "Nggak mau!" pekikku.

"Kenapa nggak mau?!!" tanya Siyeon gemas.

"Ya-Yah habis aku nggak separah itu! Dan aku nggak gila!"

"Jangan banyak ngelak, Kim Nakwon. Kamu itu makin parah. Aku mau kamu sembuh, makanya kali ini turuti aku," ujar Siyeon final.

Kalau Siyeon sudah bilang "turuti aku", itu sudah final. Sudah tidak bisa dibantah. Sudah tidak bisa diganggu gugat.

"Tapi kenapa harus psikiater?" tanyaku. "Psikolog kan bisa."

"Kita pernah coba cara itu dan hasilnya nol. Makanya coba ke psikiater, siapa tau kamu butuh obat khusus."

Park Siyeon, kamu menyebalkan.

🥀

Siapa yang tahu bahwa Siyeon akan menjadwalkan konsultasiku secepat ini? Ya, dia mendaftarkanku seenaknya kemarin dan hari ini aku dipaksa olehnya untuk pergi konsultasi.

Dia bilang psikiater yang menanganiku kali ini luar biasa, dulu waktu dia stress belajar sesama SMA, orangtuanya membawanya kepada si psikiater ini. Tapi Siyeon nggak diresepkan obat apa-apa, cuma diajak curhat aja katanya.

Dia bekerja di rumah sakit yang cukup terkenal di Seoul, Siyeon bilang jadwal si psikiater ini luar biasa padatnya, setiap hari selalu ada pasien untuknya. Makanya Siyeon bilang aku sangat beruntung karena bisa konsultasi dengannya secepat ini.

Siyeon sudah kenal dekat dengannya, jadi Siyeon mengundang psikiater itu ke apartemen kami.

Sambil menunggu kedatangannya, aku menemani Siyeon untuk membeli buah, soalnya alih-alih cemilan, psikiater kenalan Siyeon ini lebih suka buah.

Sambil menunggu Siyeon selesai membeli buah, aku memperhatikan orang-orang berlalu lalang dan itu membuatku tertekan.

Sejak aku punya phobia ini, aku takut keramaian, aku mudah tertekan dan panik ketika ada didalam keramaian, dan parahnya lagi dunia diluar apartemen kami adalah hal yang menakutkan untukku.

Mungkin Siyeon benar. Phobiaku makin parah.

Selesai membeli buah, aku dan Siyeon kembali ke apertemen kami dan membereskannya sedikit.

Ting Tong

"Kayanya Dokter Myungho udah dateng deh. Bukain dong, Nakwon."

Aku pun berjalan ke pintu apartemen kami dan membukakan pintu untuk psikiater tersebut.

Jika saja apartemen kami punya layar interhome, aku dapat melihat wajah si psikiater. Sayangnya apartemen kami tidak punya dan aku sudah terlanjur membukakannya pintu.

"Apa kamu Kim Nakwon-sshi?"

Pada momen ini, aku menyesali keputusanku untuk menuruti Siyeon.

-tbc-

Yappp!
Aku muncul dengan versi daddy yang baru hehehe.

Test ombak dulu yuk💦

Daddyable | Xu MinghaoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang