Alya mematung di tempatnya. Tidak bergeming sama sekali. Masih dengan posisi yang sama, duduk di samping Feri. Mendengar dua kata yang bertentangan sekaligus, rasanya Alya mau terjun ke jurang aja.
Gadis ini masih diam, lidah nya kelu membantu begitu saja. Tenggorokan kering, ingin rasanya dia menangis tapi tidak bisa.
Feri yang di sebelahnya juga terdiam. Entah diam untuk menunggu komentar dari Alya atau bersiap menembakkan peluru lagi. Kalau dipikir itu... tadi Feri nembak Alya tapi juga ngucapin salam perpisahan.
Hening sampai terdengar helaan nafas dari pemuda ini, "lo kenapa diem dah."
Kenapa katanya.
KENAPA.
Alya memicingkan mata, padahal dikit lagi air matanya mau keluar. Tapi dirusak sudah oleh celetukan sampah tadi. Kan dia pengen kayak di drama Korea gitu.
Si cewe nangis terus di peluk sama di elus-elus oleh si cowo.
Tapi Feri ya Feri. Kaca bening yang bener-bener lempeng, ga ada peka-peka nya.
"Lo tuh tadi serius gak sih ngomong sama gue?" Alya gatal juga sebenarnya dari tadi mau nanya begini. Tapi halusinasi nya lebih tajam daripada logika.
Feri mengangkat sebelah alisnya, mengerjap-ngerjap sebelum akhirnya menyeletuk, "lo tuh budek apa emang tuli?"
Alya mengumpat.
"Gue bilang apa tadi, gue suka sama lo tapi hidup gue udah gak lama lagi, gitu aja kok gak denger," ucapnya santai. Mengulang kalimatnya tadi.
Gadis ini melengos malas, Feri tuh sebenarnya sama kayak anak cowo kelasnya. Cuma, bobrok nya itu dadakan. Untung Alya gak kaget, soalnya Biya juga gitu.
"Lo kalau mau mati tobat, gak usah bikin gue ngumpat," balasnya sarkas mengikuti gaya bicara Feri.
Feri membelalakkan mata, tak percaya gadis ini akan menganggap nya mati. "Lah siapa yang mau mati goblok?"
"Lo tadi yang bilang katanya hidup udah gak lama lagi," balasnya mengingat ucapan Feri. Feri tertawa, keras.
Pemuda disampingnya ini benar-benar sudah tidak waras, "lo kalau emang udah gak sanggup hidup ya gak usah jadi gila gini. Kasian gue lihat nya," kata Alya menurunkan nada intonasinya seakan Feri benar-benar mau mati.
Feri menghela nafas, mendecih sesaat. Lalu melihat Alya seutuhnya. Gadis ini terperanjat kaget, tidak menyangka pemuda disebelahnya akan memandang kearah dirinya.
"Heran gue, yang kayak gini kok bisa juara kelas," kata Feri membuat Alya memanyunkan bibirnya. Mata Feri menghangat begitu saja, Alya tuh sadar gak sih kalau bibir nya manyun tuh jadi imut?
"Hei," panggilnya sambil mengetuk kepala Alya. "Gue masih mau hidup. Maksud gue gak akan lama lagi itu, hidup gue di samping lo tinggal beberapa bulan ini. Setelah itu gue pindah," lanjut Feri menatap Alya lurus-lurus.
Lawan bicaranya ini diam. Bahkan membatu lagi. "Fer, lo itu siapa nya pak Toyo?"
"Ha?"
Alya menyerah.
Gadis ini berdiri, rasanya ingin lari. Lari dari pemuda yang entah punya sihir apa. Baru mau melangkah, tangan nya sudah di tarik. Tubuh Alya kembali menghadap Feri, "lo mau kemana?"
"Mau mati."
Feri mengumpat.
"Gue belum selesai ngomong sama lo, sini dulu," pinta Feri masih menggenggam tangan Alya. Alya menggeleng, "gue mau ke IPS 2."
Feri mengernyit, "ngapain?"
"Ngamuk."
Detik berikutnya, gadis ini memberontak dan berlari ke arah kelas temannya itu, 10 IPS 2. Meninggalkan Feri yang kehilangan nyawanya. "Gue mati aja kali ya?"
Sementara itu, "HUAAAA FIRAAAAA!!"
"APA ANJIR?!"
Emang yang namanya Darto itu latah mulu. Fira yang dipanggil datang, "napa Al?"
Mata Alya berair, mulutnya menekuk ke bawah. "HUHUHHU FIRAA!"
Fira pasrah, tubuhnya di goyang-goyang kan.
"Huhuhu dia katanya hidup gak lama lagi, terus katanya suka sama gue. Tapi dia bilang mau pindah terus masa dia ngatain gue budek apa tuli gitu," cerocos Alya aneh, Fira bahkan membuka mulutnya lebar-lebar.
"Ngomong apa sih lo?"
Alya tambah histeris, "IHHH LO TUH YA GUE ADUIN KAK EGI NIH!!"
"Lah kak Egi mau mati," celetuk Davin yang dari tadi nguping. Fira melirik Davin tajam, menyuruh pemuda itu diam.
"Ih bodo ah, gue mau ke Jeje aja," ucapnya lalu pergi kembali ke kelasnya.
Fira melengos malas, tidak heran dia dengan sikap random Alya tadi. Fira pikir ini pasti masalah laki-laki. Tadi Alya bilang ada yang suka kan sama dia? Hm, ambyar tuh anak.
"Fir," panggil Davin mencolek tangan Fira. Dengan kerlipan polos dia bertanya, "Kak Egi beneran mau mati?"
Fira mendelik. Melihat Davin malas, "CHANDRA DAVIN NIH DOAIN LO MAU MATI KATANYA!"
"HE ENGGAK APAAN ANJIR! DEVAN NIH CALON LO!"
"BERANI YA LO!"
"IYA AMPUN FIRA!"
A/n
Hehe halo Kak Egi, aku kangen :(
KAMU SEDANG MEMBACA
10 IPA 1 [ END ]
Novela Juvenil( C O M P L E T E D ) SERIES OF DC HIGHSCHOOL Kelas 10 IPA 1 bukanlah kelas biasa. Banyak yang bisa terjadi di dalamnya. Bahkan, orang luar menyebutnya kelas aneh bin ajaib. Sama seperti kakaknya 11 IPA 4, anak-anak elit berkumpul jadi satu dikela...
![10 IPA 1 [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/148739661-64-k635145.jpg)