11.

855 147 19
                                        




XI.
Make a Move!

Dirinya tidak bisa tinggal diam. Kali ini ia harus bergerak, mengatur semuanya agar bisa berjalan selurus yang diharapkan. Pria itu akhirnya mengganti mobilnya dengan yang baru karena mobil lama yang sudah terlanjur diketahui oleh gadisnya sebagai mobil temannya. "Hyung, lalu kapan kau akan memberitahunya mengenai latar belakangmu?" Taehyung yang sedari tadi memainkan bullpen berhenti seketika. "Entahlah."

"Cepat atau lambat ia harus mengetahuinya, hyung. Kau kan tahu dia sudah memberitahu semua mengenai latar belakangnya."

"Iya iya aku tahu itu."

"Jangan sampai ia tahu hal ini dari orang lain, hyung. Kau pasti akan menyesal." Jihoon memberikan beberapa berkas untuknya. "Aku tidak bisa menyelesaikan semuanya. Nanti aku akan buat beberapa konsepnya nanti kau tinggal mengikuti. Paham?" Jihoon heran kali ini dengan atasannya. Tidak biasanya Taehyung memberikan pekerjaan yang biasa diatur oleh pria itu kepadanya.

Dia tahu sekali jika Taehyung itu orang yang perfectionist, jadi jika ada pekerjaan yang menyangkut dengan reputasi perusahaan pasti pria Kim itu yang akan menanganinya. "Kau yakin, hyung?" Jihoon bertanya dengan ragu. "Aku tahu kau pasti bisa menangkap konsepku dengan baik. Aku sadar bahwa diriku tidak boleh sering lembur. Dan.. Aku lebih bisa memperkerjakanmu dengan sebagaimana mestinya."

"Bukan hanya duduk menunggu, memberikan informasi dan meminta tanda tangan." Taehyung lalu tersenyum simpul. "Kalau masih merasa sulit kau bisa bertanya langsung kepada koordinator bagian marketing. Esoknya nanti aku akan perbaiki."

"Kamu punya rekan kerja lain bukan? Pasti dalam perusahaan memiliki tim yang memiliki keahlian di masing-masing bidang. Kamu bisa bagi tugas itu kepada mereka dan kau sebagai ketua melakukan double check. Itu bahkan lebih mudah ketimbang menangani semuanya sendiri, Taehyung."

Pria bermarga Kim itu tersenyum bodoh mengingat kembali saran Seulgi. Dia sadar akan satu hal: manajemen perusahaannya mulai berubah semenjak gadis itu memberikan pemikirannya. "Any question?" Dia berdiri dari tempat duduk dan bersiap keluar dari ruangannya. "Tidak, hyung! Kurasa kau memutuskan hal itu dengan tepat. Aku dan karyawan bisa pulang cepat sekarang tanpa perlu menunggumu selesai lembur hehe."

"Baiklah. Aku pergi duluan untuk menjemputnya."

"Selamat berkencan, hyung" Jihoon tersenyum kotak meniru senyumnya.


***

Taehyung berdiri tepat didepan cafe dimana Seulgi bekerja paruh waktu. Dia sudah membawa mobil barunya. Setelan jas mahal yang dipakainya sudah tersimpan rapi, tersisa kemeja putih polos yang menempel dibadannya. Ah, tidak lupa juga ia memakai kacamata agar memiliki kesan workaholic.


"Dimana Seulgi?" Tanyanya pada penjaga kasir setelah masuk kedalam dan tidak melihat Seulgi disana. "Dia baru saja pergi ke toilet, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Ia pun melirik jam tangan sekilas sebelum menjawab. "Bilang padanya jika ada yang menunggunya."

"Baiklah, tuan."


Kurang dari lima menit gadis itu datang menghampirinya yang duduk dekat meja kasir. Masih berseragam lengkap dengan apron kanvas dan rambut dikuncir. "Hei! Apa yang membuatmu datang kemari?" Taehyung tersenyum melihat Seulgi. "Well, surprise?" Lawan bicaranya pun mendesah panjang. "Kau selalu bilang begitu disaat tiba-tiba datang kemari."


"Aku datang menjemputmu, Seulgi. Bukankah sekarang sudah saatnya kau pulang?"


"Iya, aku baru saja ingin bersiap tapi kamu datang. Tunggu sebentar yah." Pria itu mengangguk dan setelahnya Seulgi pergi. Taehyung berpikir, hari ini akan terasa singkat jika hanya mengantarnya pulang nanti. Bagaimana jika pergi berbelanja disebuah mall atau pergi makan eskrim bersama?


"Taehyung-ah!" Secepat kilat ia berdiri. Senyum lebarnya hilang sembari melihat Seulgi yang keluar bersama seorang pria. "Oppa, dia adalah Taehyung." Gadis itu menunjuk dirinya. "Dan Taehyung, dia adalah Seokjin oppa." Baik Seokjin maupun Taehyung keduanya saling beradu pandang dengan tatapan tidak suka. Keduanya tidak tertarik untuk saling bersalaman ataupun membungkukkan badan sebagai rasa hormat. "Jadi kamu akan pulang bersamanya?" Tanya Seokjin yang dibalas anggukan oleh Seulgi.


Seulgi berpindah tempat dari samping Seokjin ke samping Taehyung. Dia mulai merasakan aura yang tidak sedap.


"Pastikan Seulgi pulang dengan selamat. Jika tidak maka akan kupastikan nyawamu pertama yang akan kuambil." Taehyung geram. Rasa tidak suka pria itu terhadapnya terlihat begitu kentara. Ia pun hanya memilih diam lalu menggandeng tangan Seulgi keluar dari cafe. Pria itu mencoba untuk mengontrol dirinya.


Seokjin kesal. Dia juga tidak suka dengan Taehyung. Tetapi wajah pria itu sepertinya cukup familiar. Sepertinya dia pernah bertemu dengan Taehyung sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan, diamana dia bertemu dengan pria itu?



***


Jihoon masuk kedalam ruangan atasannya lalu memberikan amplop coklat ukuran besar diatas meja kerja. "Hyung, Ibumu sudah tahu mengenai apartemen barumu juga Seulgi noona." Dengan cepat Taehyung membuka amplop itu dan melihat beberapa foto ibunya bersama seseorang yang diyakininya adalah seorang mata-mata.


"Ibumu baru saja balik dari Swiss dan tadi menelpon dikantor katanya ia ingin datang sekitar jam-"



Ceklek.



Taehyung dengan cepat merapikan meja kerjanya lalu pandangannya beralih pada arloji yang dipakainya. Dia tahu yang membuka pintu itu adalah ibunya. Mana ada bawahan yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? "Hyung ibumu tadi bilang akan datang sekitar 2 jam lagi tapi-"

"Baguslah dia datang sekarang," dirinya pun berdiri dan merapikan jas yang dipakainya. "Nanti aku bisa pulang cepat dan menjemput Seulgi." Setelah mengatakannya ia pun langsung fokus pada ibunya yang berjalan menuju meja kerjanya. "Mama~" panggilnya manja sembari mengeluarkan senyum kotaknya yang ia yakini sangat disukai oleh ibunya. "Anakku aku merindukanmu!"


Keduanya berpelukan sambil melepas rindu. "Bagaimana dengan pekerjaanmu? Berjalan lancar bukan?" Nyonya Kim bertanya dengan suara lembut. "Pastinya! Semuanya berjalan dengan sempurna!"


"Ibu datang kemari karena ingin menanyakan sesuatu- ah! Aku ingin makan malam bersamamu dengan gadis yang hampir setiap hari menemanimu di apartemen."





Deg.




"Mama sengaja datang cepat agar kamu bisa memberitahukan gadis itu agar dia bisa bersiap-siap. Bilang padanya berdandan yang cantik yah? Mama ingin melihat calon menantu yang cantik."




Kekacauan mulai datang. Bagaimana jika nanti ibunya datang dengan baju mewah merek ternama bersamaan dengan tas yang dibandrol dengan harga jutaan won? Apakah Seulgi masih percaya bahwa dirinya adalah orang biasa?







______________________________

Twitterpated be continue

Jalan cerita mulai buntu, ditambah pekerjaan disini mulai menumpuk kejar deadline :( semoga masi sukak dengan ceritanya.
Terima kasih @jkpsgm_ karena udah notice aku
kalo readers nya udah 1k💜
Terima kasih untuk semua yang support aku maaf gabisa sebut atuatu><

TwitterpatedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang