13.

778 152 25
                                        





XIII.
The Past


"Hyungnim!" Seru Jihoon membuat Taehyung menoleh padanya. "Aku ingin memperingatkanmu. Jika wanita kecewa kepada pria maka akan susah membalikkan keadaan." Jihoon hanya melihat wajah datar Taehyung, seperti tidak tertarik dengan pembicaraannya. "Maaf aku sebagai sekertaris terlalu lancang. Tapi bicara soal perempuan aku yang lebih banyak tahu darimu, hyung." Pria bermarga Park itu pun memberikan jeda, memperhatikan atasannya yang mulai mendengarkan dalam diam. "Menyembunyikan sesuatu pada pasangan adalah suatu hal fatal."

"Jangan buat dirimu menyesal, hyung."

"Aku akan memikirkan cara untuk jujur padanya nanti. Sekarang aku harus selesaikan proposal untuk investasi di-"

"Hyung, kau serius dengan gadismu?" Taehyung menatap Jihoon tidak suka karena memotong perkataan yang dianggapnya penting. "Apakah kau.. bahkan sudah mengatakan kepada gadis itu jika kau mencintainya?" Taehyung menghela nafas jengah. Dengan sikap acuh tak acuh ia pun bersedekap sebelum menjawab. "Kita dipertemukan dalam sebuah aplikasi jodoh. Itu berarti aku dan Seulgi sudah menjadi pasangan."

"Itu hanyalah aplikasi untuk menghubungkan- ah bilang saja sebagai jembatan untuk kedua insan menemukan pasangannya, bukan berarti pertemuan si A dan si B dalam aplikasi itu otomatis berpacaran. Yang menentukan kelanjutan hubungan adalah kalian dan bukan aplikasi, hyung." Kata Jihoon panjang lebar. "Coba pikirkan lagi. Apakah perasaan suka padanya mulai muncul? Apakah jantungmu berdetak tidak normal jika berada disampingnya?" Tambahnya lagi lalu memperhatikan pria didepannya yang kelihatan tidak mengerti dengan ucapannya.

Jihoon selaku sepupu dari Taehyung mengerti dengan kondisi pria itu. Dia tahu sedari bangku SMP hingga SMA atasannya itu mengambil sekolah privat atas keinginan Orangtuanya, dan keputusan mereka memiliki alasan. Tetapi dampak yang diberikan karena itu terkesan fatal dimata Jihoon. Lalu bagaimana nanti masa depan dari hyung-nya itu jika tidak mengerti apa arti dari cinta?

"Hyung." Panggil Jihoon ketika dia tidak mendengar suara Taehyung untuk menjawab pertanyaannya. Mereka beradu pandang cukup lama. "Apakah semenyedihkan itu masa lalumu hingga kau menjadi seperti sekarang?"


***

Seulgi yang melihat keduanya semakin berbincang lebih dalam dan pertanyaan dalam pikirannya semakin menuntut untuk meminta jawaban, akhirnya pun membuka suara. "Maaf menginterupsi pembicaraan kalian." Taehyung dan ibunya pun melihat dia. Tiba-tiba Seulgi merasa gugup dan bibirnya terasa kelu untuk bersuara. "Ada apa, sayang?"








Deg.








Itu adalah suara dari Ibu Taehyung. Suara keibuan itu terdengar begitu kental dan mengingatkannya pada almarhum Ibunya. Seulgi pun mengepalkan tangan, berusaha menguatkan diri agar airmatanya tidak keluar. Tanpa ada aba-aba tangan Taehyung sudah menggenggam tangannya lembut karena tidak ada respon darinya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya pria itu memastikan dengan suara yang pelan dan dibalas anggukan oleh Seulgi. "Begini tante aku-"

"Panggil saja aku ibu, Seulgi." Dengan cepat gadis itu menoleh bersamaan dengan airmatanya mengalir di wajahnya. Ibu Taehyung melihatnya dan langsung menyuruh Taehyung pergi ke kantor. "Ibu akan menelponmu jika pembicaraanku dengan Seulgi sudah selesai." Kata ibunya setelah mendengar penolakan darinya karena pria itu penasaran dengan Seulgi yang tiba-tiba menangis.

TwitterpatedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang