VIII.
Nah"Astaga HAHAHA!" Tawa Jihoon pecah mendengar cerita Taehyung. Pria itu membalas tawa itu dengan sebuah decakan sebelum berucap. "Dia bukan wanita biasa, hyung." Dirinya sempat ingin membuka mulut tetapi sudah didahului oleh Jihoon. "Kau juga orang yang perlu disalahkan disini! Kenapa memilih apartemen itu yang ternyata memiliki harga diatas rata-rata?"
"Hyung-nim, kau disini yang perlu disalahkan. Kau adalah pria yang terbiasa tinggal dirumah kelas mansion makanya melihat ruang tamu sepetak yang dirasa cukup luas untuk kelas menengah dirasa tidak ada apa-apanya." Cibir Jihoon. Ya dirinya juga menganggap bahwa yang paling bersalah adalah Taehyung. Bagaimanapun juga Taehyung tidak boleh lancang mengatakan seperti itu jika ingin terlihat 'sederhana'.
Hening. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.
***
Hujan membasahi bumi dari pagi hingga sore. Jalanan Kota Seoul dipenuhi dengan kendaraan mobil yang lalu-lalang. Jarang terlihat orang dijalanan karena hujan yang masih setia membasahi tanah. Seulgi sedang bersiap-siap untuk pulang ke apartemen dan tanpa di sadari olehnya Seokjin sedang memperhatikannya. "Seulgi, sudah siap untuk pulang?" Sahut Seokjin membuat gadis itu sadar jika didalam ruangan itu bukan hanya dirinya.
Seulgi menyelesaikan acaranya menyimpan kembali barang didalam locker sebelum menjawab. "Ia, tetapi hujan masih cukup deras diluar." Gadis itu mengunci locker-nya lalu menggendong tas. "Mau kuantar pulang?" Tawar pria berbahu lebar itu dan langsung dibalas dengan senyum sumringah olehnya. Tetapi tak lama kemudian senyum itu pudar. "Aku tahu kalau kau ingin meminta imbalanku, oppa."
"Aku hanya ingin kerumahmu saja, Seulgi."
"Ada maksud apa ingin kerumahku?"
"Selama mengantarmu aku tidak pernah turun dan singgah kerumahmu. Jadi aku ingin mengantar sekalian mampir, Seulgi-ah."
Gadis itu tampak diam berpikir. Tidak ada salahnya menerima tawaran Seokjin. Tapi, apa cuma itu tujuannya? Seulgi masih tidak yakin dengan alasan pria itu. "Aku serius, Seulgi. Kau tahu jika aku tidak pernah meminta hal aneh darimu." Timpal Seokjin seolah membaca pikiran Seulgi. Pada akhirnya gadis itu mengiyakan dan mereka pulang bersama.
Dalam perjalanan mobil SUV milik Seokjin berhenti tepat didepan tokoh kue didaerah gangnam. Seulgi menyerngit heran dan bertanya kenapa. "Untuk orang dirumah. Kan tidak enak jika datang tidak membawa apa-apa." Tanpa mendengar protes Seulgi pria itu langsung keluar mobil meninggalkan Seulgi sendirian. Memang tidak ada salahnya. Tapi bukankah ini agak berlebihan?
Setelah membeli kue mobil pun berjalan menuju ke apartemen dimana Seulgi beserta keluarganya tinggal. Dalam perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Gadis itu sempat tertidur. "Dasar beruang..." Gumam Seokjin yang sesekali menoleh ke arah Seulgi sembari tersenyum simpul. Sesudah itu tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulutnya. Dia tidak ingin membangunkan Seulgi dan menikmati perjalanan.
"Kang Seulgi, kita sudah sampai." Seokjin melepas sabuk pengamannya dan Seulgi lalu mengguncang ringan tubuh gadis itu. "Seulgi-ah" perlahan mata monolid itu mulai terbuka, sebuah senyum terpancar dari wajahnya dan membuat Seokjin otomatis tersenyum dalam. "Maaf aku ketiduran." Suara parau Seulgi terdengar, dan Seokjin tidak berhenti tersenyum lalu mencubit pipinya karena tingkah gadis itu terlihat menggemaskan.
***
Mata Daniel melebar ke bukaan maksimal setelah membuka pintu apartemen. Dilihatnya sosok Seulgi bersama seorang pria yang tidak dikenalinya. "Oppa, dia adalah Daniel," Seulgi menunjuk dirinya sebentar. "Daniel, dia adalah Seokjin. Kim Seokjin." Mata gadis itu bertemu dengan adiknya. Seokjin dan Daniel saling memberi salam sekilas.
Oppa? Mungkinkah dia pacar noona? Pikir Daniel mulai menebak.
Setelah mereka masuk kedalam rumah muncul ayah Seulgi dari ruang tamu. "Selamat malam, Ayah!" Sapa Seulgi beserta senyum khasnya. "Siapa pria beruntung itu sayang?" Dengan secepat kilat Seokjin sudah berada didepan tuan Kang lalu membungkukan badan sebagai tanda hormat. "Perkenalkan Om, saya Kim Seokjin. Teman sekaligus rekan kerja dari Seulgi."
"Yah... Seokjin wajahmu tampan sekali."
"Aku sudah bilang begitu ke Seulgi tapi dia tidak pernah mempercayainya Om."
"Hyak Oppa!"
Seokjin dan Ayah Seulgi pun tertawa ringan melihat Seulgi. Suasana apartemen mulai terasa hangat dikarenakan Seokjin yang memiliki selera humor yang sama dengan tuan Kang. Tetapi Daniel masih belum merasa nyaman dengan Seokjin dan terus menerus mengobservasi Seokjin dari ujung kepala hingga kaki. Menilai dan mempertimbangkan apakah pria itu pantas bersama noona-nya.
Hari sudah sepenuhnya gelap dan hujan sudah cukup lama berhenti. Ayah Seulgi beserta Seokjin bersenda gurau bersama di ruang tamu. Seulgi, dirinya duduk disamping Seokjin sedangkan Daniel duduk berhadapan dengannya. Ayah Seulgi duduk menengahi mereka. Sorot mata Daniel kepada Seulgi mengisyaratkan 'siapa sebenarnya pria itu'. Tetapi gadis itu hanya bersikap acuh tak acuh yang membuat Daniel kesal.
Drrt! Drrt!
Ponsel Seulgi yang tergeletak begitu saja diatas meja bergetar berkali-kali. Sontak Daniel, Seulgi, dan Seokjin langsung menghentikan aktivitas masing-masing lalu mengalihkan pandangan mereka pada benda persegi itu. Lagi, kedua mata Daniel melebar ke bukaan maksimal. Dia tahu sekali orang yang menelpon Seulgi melalui aplikasi apa. Dari nama yang muncul pada layar pun dapat langsung diketahuinya.
Seulgi dengan enteng mengambil ponsel itu lalu ditempelkan ke salah satu telinganya. Dirinya agak menjauh dari ruang tamu sembari bercerita dengan ponselnya.
"Siapa yang menelponmu Seulgi?" Tanya Seokjin setelah Seulgi duduk kembali disampingnya. "Menurutmu???" Goda Seulgi lalu tersenyum jahil. Seokjin hanya memasang muka datar menandakan bahwa ia serius dan tidak ingin bercanda. Gadis itu berdeham sekilas. "Dia temanku. Ada yang salah?" Tambahnya. Seulgi menatap Seokjin tepat pada matanya, memperhatikannya. Sorot mata pria itu terlampau jelas menandakan rasa tidak sukanya.
Seokjin melihat nama yang menelpon di ponsel Seulgi. Dia cukup tahu bagaimana kegiatan gadis itu sehari-hari, dan setahunya Seulgi jarang bergaul dengan lawan jenis terkecuali keluarga juga rekan kerjanya. Nama kontak yang hanya bertuliskan tiga huruf membuat dirinya merasa panas. Nama itu terkesan spesial.
Apakah Seulgi diam-diam telah memiliki pacar?
Jika benar, kenapa dirinya tidak tahu dengan hal itu? Dan kenapa hubungan itu terkesan misterius? Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Seulgi mengenai hubungannya?
______________________________
Twitterpated be continue
Mohon tinggalkan kritik dan saran kalian yah :")

KAMU SEDANG MEMBACA
Twitterpated
Fanfiction[completed] Cerita tentang hubungan yang saling mengikat, hampir tanpa ada kata 'cinta' didalamnya. Kata bukan berarti rasa, tetapi makna dari sebuah kata yang memunculkan 'perasaan'. Berawal dari sebuah aplikasi chatting, nasib mereka menjadi beru...