"Selamat siang, ayah, ibu. Ini aku, Kang Daniel, pria yang lancang mencintai anak kalian."
Hari ke sembilan belas di musim gugur. Derajat suhu semakin berkurang bersamaan dengan ranggasnya dedaunan.
Jika didengar lebih dekat, gemuruh itu sangat kencang dan jelas di dalam dada sepasang insan.
Namun, seluruh sendi terasa sangat ringat saat kedua tangan akhirnya bertautan.
Nyaman, tepat, dan menenangkan.
"Ibu, ayah, Jihoon sudah tahu berbagai hal tentangku.
"Aku pun sudah paham dengan mimpinya, bagaimana cara mendapatkan hatinya, apa yang bisa mengganggunya, dan bagaimana caranya mencintaiku.
"Kami sudah jauh lebih memahami satu sama lain. Karena itulah aku memutuskan, ini sudah cukup."
Akhirnya hari ini tiba.
Sebentar lagi, tautan tangan itu tidak hanya ada untuk ketenangan, tapi juga untuk menemaninya di sisa perjalanan.
Hingga maut memisahkan.
"Ibu, ternyata Jihoon tidak pernah menuntut banyak.
"Ia merasa cukup dengan segala kelemahanku, ia mengerti aku yang kekanakan. Aku belajar dari kasih sayang dan kesetiaannya, sampai aku merasa tidak butuh apapun lagi di dunia ini.
"Aku hanya membutuhkannya untuk sisa hidupku."
Ingin tahu berapa kali Daniel berkata pada dirinya sendiri, bahwa Jihoon adalah bunga dari setiap tawanya, selimut dari setiap sepinya, dan motivasi dari setiap mimpinya?
Puluhan kali?
Bukan.
Ratusan kali?
Hampir.
Ribuan kali pun, Daniel tidak akan pernah berhenti berkata bahwa Jihoon menyempurnakan hidupnya, terlepas dari apapun keterbatasan yang pria itu miliki.
"Ayah, Jihoon sungguh kuat, sangat bisa diandalkan, dan aku tidak akan pernah meragukannya lagi.
"Tapi ia tetap seorang manusia yang punya sisi lemah di hatinya. Ia tetap putramu yang berharga, yang tidak ingin kau lihat terluka.
"Aku cukup percaya diri untuk maju menggantikan ayah menampung perasaan khawatir itu.
"Ibu, ayah, izinkan aku berada di sisinya untuk waktu yang lebih lama, mencintainya dengan caraku selagi kami beranjak tua. Walaupun, aku tahu benar cintaku tidak pernah akan setara dengan milik ibu, dan tidak akan lebih solid dari penjagaan ayah.
"Aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa atas kehidupannya, apalagi menjaminnya. Karena Jihoon paling tahu apa yang benar-benar diinginkannya, hidup dan kehidupannya, di dunia ini, tetap miliknya. Aku hanya bisa menjamin ibu dan ayah bisa melepas kekhawatiran pada putra kalian sepenuhnya."
Hari ke sembilan belas di musim gugur. Derajat suhu semakin berkurang bersamaan dengan ranggasnya dedaunan.
Disusul dentang jam, janji itu terucap. Mulus, lantang, penuh harapan.
Mereka berhadapan, menyampaikan ulang janji itu melalui hangatnya tatapan.
"Aku berjanji akan selalu menjagamu. Untuk hari ini, besok, dan sampai saatnya nanti."
"Ibu, ayah, izinkan aku menggenggam tangannya.
"Karena aku percaya, untuk itulah kalian menghadirkannya; Park Jihoon."
Hari ke sembilan belas di musim gugur. Derajat suhu semakin berkurang bersamaan dengan ranggasnya dedaunan.
Tapi satu cinta semakin bersemi dan ramai bermekaran.
Mereka berciuman.
Untuk pertama kalinya.
Di atas altar.
A/N:
Asek udah niqa 🌚🌚

KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Gestures [NielWink]
FanficDitulis kalau ada ide saja, jadi tidak ada tamatnya. [Alternate Universe] Drabbles and oneshots about sweet gestures in Kang Daniel and Park Jihoon relationship. So, well... it's mostly fluff. WARNING: 📍 Shounen-ai/Yaoi/Boys love 📍 Pairing: NielWi...