2.3

5.4K 1.3K 30
                                        












"mau ke mana?"

"keluar."

"papa sama mama lagi gak di rumah, ga usah aneh-aneh."

"yes, i do. i'm indeed weird as you say."

lino menatap manik adiknya tepat setelah ia selesai berbicara. lino tidak tahu kenapa felix menjadi super sensitif sejak pulang dari rumah sakit tadi.

lino menawari bantuan saja felix tolak mentah dengan penegasan 'don't bother me.' kemudian lino ajak makan bersama pemuda itu malah berkata, 'just shut up.'

jadi jangan salahkan lino jika dia sedikit terbawa emosi sekarang.





"lo kenapa sih? sensi amat mulai tadi?" pemuda itu memasang raut tak suka, "gua salah apa hah?"

"i'm not in the mood to talk with you."

lino lantas mendorong salah satu pundak felix, tidak dilepas tapi malah ia cengkram cukup kuat, "seengaknya jawab, gua salah apa sama lo?"

"nope." felix terkekeh, "satu-satunya di sini yang salah gua, pikiran gua, semua mimpi gua."

lino mengurangi tekanan pada pundak felix, "maksudnya?"


























"gua udah bilang, gua sama lo kecelakaan. tapi gak ada yang percaya." felix lagi-lagi tertawa, "do you know what i feel? bingung, pusing, marah, semuanya."





"chaewon sudah kembali, kalian bilang chaewon gak pernah hilang, lalu besoknya kalian bilang gak kenal chaewon. gua udah ngejalanin hari sabtu, gua udah lihat kalian main basket, guaㅡ"

"felix," selaan lino menghentikannya, "lo tenang dulu, pelan-pelan. napas lo kecepetan."

spontan felix melengos, berusaha menata tempo tarikan napas dan membuangnya perlahan. begitu mulai tenang, barulah lino mengajaknya kembali bercakap.

"sudah tenang?" ujar lino.

"sedikit."

"oke, terserah soal mimpi lo yang bikin lo kayak gini. yang penting, mau lo apa sekarang?"



























"keluar, ke rumah hyunjin."

[iv] nightmare side ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang