Hani bersalaman dengan mamanya sebelum memasuki mobil hitam milik suaminya. Hari ini dia dan Arza akan menginap di rumah orang tua Arza.
"Kalau sudah sampai di Bandung kamu hubungi mama," ucap mamanya.
Hani menganggukkan kepalanya. "Ok, Mamaku sayang. Nanti aku langsung kabarin mama kok. Tenang aja."
Bu Ranti mengantar Hani sampai ke dalam mobil. Lewat kaca mobil bu Ranti berbicara dengan Arza. "Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, Za. Kalau kamu capek nyetir, istirahat aja dulu."
"Iya, Ma," ucap Arza.
Setelah mendengar semua nasihat dari bu Ranti, Arza menyalakan mobilnya. Mobil yang membawa Hani dan Arza sudah berlalu meninggalkan kediaman pak Satri.
Diperjalanan menuju ke rumah orang tua Arza, mertua Hani. Hani selalu berceloteh panjang lebar. Katanya Hani sih biar gak bosen di jalan.
"Udah berapa lama ayah sama ibu tinggal di Bandung?" tanya Hani.
"Udah lama banget sih."
"Berapa lama?"
"Kurang lebih 20 tahunan."
"Sebelumnya tinggal di mana?"
"Di Jakarta."
"Berapa tahun tinggal di Jakarta?"
"Kurang lebih 5 tahunan."
"Berarti ayah sama ibu tinggal di Indonesia udah 25 tahunan dong?"
Arza mengangguk singkat. Bukan karena dia tidak ingin menjawab ucapan Hani. Tetapi, karena ada beberapa orang polisi di depan jalan sana.
"Terus kalau tinggal di Korea?" lanjut Hani.
"Nanti dulu ya? Di depan sana ada polisi," ucap Arza dengan nada lembut karena memang dia tidak ingin menyinggung perasaan Hani.
Hani mengangguk. "Ok. Eh, tapi polisi itu mau apa?"
"Han, nanti dulu bicaranya," tegas Arza.
Hani mengangguk lagi. Kali ini bibirnya dia kunci rapat-rapat. Sepertinya di depan sana baru saja terjadi kecelakaan, karena itulah jalanan menjadi macet dan terdapat beberapa orang polisi.
Arza membuka jendela mobilnya, kemudian bertanya kepada seorang ibu penjual minuman. "Bu, di depan ada kecelakaan ya?"
Si ibu penjual minuman itu mengangguk. "Iya."
"Korbannya banyak, Bu?"
"Banyak, Mas. Ada empat katanya sih."
"Oh, gitu. Terima kasih ya, Bu."
"Iya, Mas."
Arza kembali menutup kaca mobilnya, lalu melaju secara perlahan untuk bisa melewati kemacetan jalanan ibukota. Mobil Arza semakin melambat ketika sampai di tempat kecelakaan.
Hani meringis ngeri melihat banyak darah yang menggenang aspal. Hani bahkan harus mengalihkan pandangannya saat itu juga.
"Kenapa, Han?" tanya Arza dengan nada cemas. "Kamu kenapa?"
Hani meminum air mineral yang sempat dia bawa dari rumah. Setelah meminum air itu, Hani menjawab pertanyaan Arza. "Aku liat banyak darah, Kak. Aku gak sengaja liat korban kecelakaannya, Kak."
Arza menarik tangan kanan Hani untuk digenggamnya. "Jangan dilihat lagi."
"Masih kebayang."
"Mikirin hal lain aja."
Hani menggeleng kuat. "Gak bisa," rengeknya.
"Main hp aja. Yang penting jangan mikirin kecelakaan itu lagi. Sebentar lagi kita keluar dari jalanan ini, sabar ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Is Korean
RomancePerjodohan? Gak like! ---- "Saya mengajak kamu untuk menemui orang tua saya." "Untuk apa?" "Melamar kamu." "Kenapa mau melamar saya? Anda bukan pacar saya." "Kalau begitu saya akan menjadikan kamu pacar saya. Kamu mau menjadi pacar saya?" ----- "J...
