Hani meremas kedua tangannya. Tangannya terasa sangat dingin. Hani merasa gugup luar biasa. Makanan yang sudah disuguhkan sedari tadi tidak lagi menarik bagi Hani. Hani sudah tidak ingin menyantap makanan mahal yang Arza pesan untuknya.
Kepala Hani bergerak, pangannya mengedar mengelilingi sisi ruangan yang saat ini dia tempati bersama Arza. Duduknya terlihat tidak nyaman sekali. Sesekali Hani akan meluruskan kakinya, menekuk kakinya, begitulah seterusnya.
Hani menoleh ke arah suaminya. Suaminya tampak biasa saja. "Ini siapa sih sebenernya yang harus merasa tegang? Kok malah jantung aku yang dag dig dug? Dia malah keliatan adem ayem aja tuh. Apa ini yang namanya salah kaprah ya? " batin Hani.
"Kok dia belum muncul juga sih, Kak?" Hani mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi tempat untuk mencari lagi. Restoran Jepang yang berada tak jauh dari rumah mereka. Arza sengaja memesan tempat pertemuan yang tidak jauh dari rumah, alasannya karena demi keamanan Hani.
"Sabar, jalanan di sinikan macet," ucap Arza.
Arza kembali menyodorkan potongan buah apel yang dipesannya tadi. Di mana pun mereka, Arza harus selalu siap menyediakan buah apel untuk ibu hamil yang satu ini.
"Kayak di Jakarta."
"Iya. Macet itu sudah kondisi wajib bagi ibukota negara."
"Kapan ya di Jakarta gak macet lagi?"
"Kalau mereka mau berjalan kaki kemana pun mereka pergi, pasti tidak macet."
"Terus sampe tujuannya lama dong."
"Itulah manusia. Selalu ingin mencapai tujuan dengan cara yang instan, tidak peduli dengan orang lain, tapi memang kita harus hidup mengikuti jaman yang maju. Supaya kita tidak tertinggal, dan bisa melanjutkan hidup."
"Ya Allah. Suamiku ini luar biasa ya." Hani bertepuk tangan dan tertawa. Malam ini Arza benar-benar hebat, selain dari rupanya, dari pola pikirnya juga luar biasa.
Arza ikut tertawa. Karena gemas dengan sang istri, Arza mencuri ciuman ketika Hani lengah. "Ya Allah, cantik sekali istriku ini," ucapnya dibuat-buat. Meniru nada suara Hani tadi. "Anugrah terbesar dari Allah."
Belum sempat Hani tersipu malu, suara seseorang yang tak asing lagi menyapa gendang telinga mereka. Wanita bernama Choi Seo Hee itu telah tiba.
***
Suasana menjadi canggung. Ketiga manusia itu masih setia berdiri. Arza merangkul pinggang Hani erat. Menyampaikan pesan lewat perlakuannya kepada Hani, meminta agar Hani tenang saja.
"Sit down, please," ucap Arza sopan. (Silakan duduk.)
Bukannya tidak bisa berbahasa Korea, Arza dan Seo Hee jelas fasih berbahasa Korea, tetapi Arza sengaja menggunakan bahasa Inggris agar Hani mengerti apa yang sedang dibicarakan.
"Aku pikir kamu tidak bisa datang, kamu sangat sibuk, benar?"
" Ya. Tetapi, aku harus datang ketika kamu mengundangku datang."
"Sebelum kita berbicara lebih serius. Aku ingin memperkenalkan seseorang kepadamu." Arza menoleh ke arah Hani sebentar. "She is Keinarra Hanita, or Hani. She is my wife."
Wanita bermata sipit itu tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. Sesama wanita Hani bisa merasakan hal yang sama seperti model cantik itu. Wanita itu berusaha untuk tegar. Meskipun hati kecilnya menangis.
"I know," jawabnya sambil tersenyum.
Hani menoleh ke arah suaminya. Kening Hani mengerut menandakan kalau dia terkejut, berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan suaminya. Arza nampak tenang dan tidak terkejut sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Is Korean
RomancePerjodohan? Gak like! ---- "Saya mengajak kamu untuk menemui orang tua saya." "Untuk apa?" "Melamar kamu." "Kenapa mau melamar saya? Anda bukan pacar saya." "Kalau begitu saya akan menjadikan kamu pacar saya. Kamu mau menjadi pacar saya?" ----- "J...
