Seoul, Korea Selatan
Duduk bersantai sambil menonton TV dan ditemani cemilan serta buah-buahan segar, Hani menikmati setiap waktu bersantainya. Pagi tadi Arza bangun terlambat karena Hani mengalami jetlag, karenanya semalaman Arza tidak tidur,.
"Bu Arza, sudah saatnya minum susu."
Hani mengangguk singkat tanpa mengalihkan fokusnya dari layar TV. Bahkan, ucapan asisten rumah tangganya yang bernama Ajeng ini tidak dipedulikannya.
"Bu, kalau Pak Arza tau Ibu telat minum susu, beliau akan marah kepada saya, Bu."
Sekarang Hani menolehkan kepalanya kepada wanita berumur 30 tahunan itu. "Susunya mana? Oh iya, biasanya jam segini aku minum susu dan roti selai cokelat."
"Saya siapkan dulu roti selai cokelatnya, Bu."
"Gak usah, Mbak. Aku minum susu aja, lagipula perut aku masih kenyang nih." Hani mengambil segelas susu yang ada di atas nampan. Selesai meneguk isinya hingga setengah, Hani kembali memanggil mbak Ajeng yang tadi pamit pergi ke dapur.
"Ada lagi, Bu?"
"Temenin jalan-jalan yuk, cuacanya lagi bagus di luar."
Mbak Ajeng mengganguk singkat, kemudian dia mengambil dua jaket untuk dirinya dan majikannya itu. Salah satu pesan dari Arza. Kemana pun mereka pergi, mbak Ajeng harus memastikan istri tuannya itu tidak kedinginan.
Tangan kanannya menjinjing kresek yang berisi air minum, pesan dari tuannya yang lain adalah selalu menyiapkan minum untuk Hani. Ibu hamil yang satu itu mudah kehausan. Tangan kirinya ia gunakan untuk menggandeng Hani. Bukan pesan dari Arza, tetapi inisiatif Hani sendiri.
"Mbak Ajeng udah nikah?" tanya Hani setelah duduk di ayunan taman dekat rumah.
"Sudah, Bu."
"Udah punya anak?"
"Sudah, Bu."
"Oh... berapa?"
"Tiga, Bu."
"Wah... laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan semuanya, Bu."
"Gak pengen buat anak lagi? Siapa tau laki-laki?"
Mbak Ajeng sedikit tertawa mendengar ucapan majikannya, tak lama ia mengendalikan diri untuk tetap bersikap sopan. "Tidak, Bu. Saya sudah merasa cukup. Lagipula mau diberi makan apa kalau anak saya banyak dan pekerjaan saya seperti ini?"
"Lho? Kak Arza ngasih gajih yang cukupkan buat mbak Ajeng?"
"Iy, Bu. Alhamdulillah. Tapi tetap saja kurang, apalagi ketiga anak saya sudah bersekolah semua. Biaya hidup semakin membesar, Bu. Suami saja juga hanya supir taksi."
"Jangan ngeluh, Mbak. Kita harus selalu bersyukur."
"Iya, Bu. Saya merasa sangat bersyukur, setidaknya saya dan suami saya masih bisa bekerja dan bisa menyekolahkan ketiga anak kami."
***
"Dari mana, Han?"
Hani tersenyum senang, kemudian berlari kecil menghampiri suaminya yang sudah berada di rumah. "Jalan-jalan sama Mbak Ajeng."
Arza menoleh ke arah asisten rumah tangganya dan memberi isyarat untuk meninggalkan ruang tamu sekarang juga. "Bosan di rumah?"
"Gak. Cuma pengen main aja. Selagi ada temennya."
"Besok ajak aku saja. Biar aku dan Bintang semakin akrab."
"Iya. Oh ya, kenapa Kakak pulang cepet?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Is Korean
RomancePerjodohan? Gak like! ---- "Saya mengajak kamu untuk menemui orang tua saya." "Untuk apa?" "Melamar kamu." "Kenapa mau melamar saya? Anda bukan pacar saya." "Kalau begitu saya akan menjadikan kamu pacar saya. Kamu mau menjadi pacar saya?" ----- "J...
