Jangan lupa untuk beramal sebelum membaca, dengan cara tekan bintangnya.
Tks.
Mandi pagi tadi Hani menghabiskan banyak waktu. Tubuhnya luar biasa berkeringat. Hani harus membersihkan diri dari ujung kuku kakinya, hingga ujung rambutnya.
Mandi paginya dia lakukan dengan perlahan, alasannya karena Hani merasakan ngilu pada tubuhnya. Dan, Hani juga masih mengantuk luar biasa. Sepertinya semalam dia tidur mendekati waktu subuh.
Selesai mandi, Hani segera berpakaian. Menggunakan pakaian yang cocok untuk kondisinya saat ini. Hani juga merias wajahnya dengan riasan lebih karena wajahnya kini terlihat pucat dan lelah.
Setelah keluar dari kamar, Hani tidak berhenti menggerutukan hal yang menurut Arza tidak terlalu penting. Pagi-pagi begini pasangan suami istri itu sudah berdebat.
"Tuh lihat. Merah semua." Hani menunjukkan leher putih mulusnya kepada sang suami. Kalau Hani menunjukkan wajah kesalnya, lain halnya dengan Arza yang tampak senang. Arza tersenyum melihat bekas-bekas percintaannya semalam dengan Hani.
Oh ya, jangan lupakan perbuatannya tadi pagi juga. Disaat Hani baru membuka matanya, sang suami sudah kembali berbuat ulah kepada tubuh polos istrinya.
Arza menyentuh kulit leher istrinya dengan gerakan lembut. "Kurang banyak ya?" goda Arza.
Hani segera menghempaskan tangan Arza. "Kak!"
"Apa sih?"
"Aku malu." Malu luar biasa. Hani tidak bisa membayangkan bagaimana respon ayah dan ibu mertuanya ketika melihat Hani nanti. Mungkin kedua mertuanya akan berpikir kalau Hani terkena penyakit kulit.
Arza menghela napas panjang. "Kenapa harus malu?" tanyanya dengan nada melembut.
Arza tahu benar perasaan Hani, istrinya itu pasti merasa tidak nyaman karena tanda kemerahan yang Arza perbuat. Arza juga tidak menyangka perbuatannya bisa sampai semerah itu.
"Malu aja, gak enak rasanya kalo ada yang liat." Hani menunjukkan wajah murungnya. Sebenarnya dia tidak masalah kalau Arza meninggalkan jejak merah seperti itu, tetapi Hani merasa malu kalau ada orang lain yang melihatnya.
"Itu merah-merah kan aku yang buat. Suami kamu. Memang salah?" Arza kembali membela diri. Arza hanya ingin membuat Hani terbiasa, tanda-tanda merah seperti itu tidak dilarang dalam sebuah pernikahan. Apalagi pelakunya adalah si suami.
"Ihh, kalau ayah sama ibu lihat gimana? Malu tahu," kesal Hani. Hani masih merajuk. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merajuk. Selama ini Hani selalu hidup dengan menjaga penampilannya yang terlihat rapih. Dia tidak ingin berpenampilan tidak baik di hadapan orang lain.
"Pake syal untuk nutupinnya," saran Arza.
Nyatanya Arza juga tidak tega membuat sang istri memberengut kesal seperti sekarang. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Mana mungkin Arza tarik kembali tanda-tanda merah yang memenuhi tubuh sang istri. Ingatkan Arza untuk bisa menahan diri ketika berhubungan lagi dengan Hani.
"Kan aneh. Cuaca panas begini pake syal."
"Ya tidak perlu ditutupi kalau begitu."
"Kak Arza..."
"Tutupi pakai rambut kamu. Jangan kebanyakan merengek, ayah sama ibu sudah menunggu kita sarapan bersama di bawah. Ayo, cepat kita turun."
Akhirnya Hani memilih menurut kepada suaminya. Untung saja rambut panjang Hani bisa sedikit menutupi jejak merah suaminya, Hani juga mengoleskan bedaknya di area berwarna merah itu agar tersamarkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Is Korean
RomancePerjodohan? Gak like! ---- "Saya mengajak kamu untuk menemui orang tua saya." "Untuk apa?" "Melamar kamu." "Kenapa mau melamar saya? Anda bukan pacar saya." "Kalau begitu saya akan menjadikan kamu pacar saya. Kamu mau menjadi pacar saya?" ----- "J...
