Part V. (Manja)

459 38 0
                                        

Ayo ayo mampir dan nikmati. (Kayak makanan aja)

Silakan di vite dulu sebelum membaca ya...

Sorry for typo.

Saat ini Arza berada di dalam balkon kamar Hani. Ternyata pemandangan kota Jakarta lebih terlihat indah ketika dilihat pada malam hari dari tempat yang letaknya lebih tinggi seperti balkon kamar Hani.

Arza menempelkan ponselnya ke telinga. Dua kali nada hubung membuat Arza menunggu, hingga akhirnya orang yang berada di seberang sana mengangkat teleponnya.

"Gimana dengan kantor?"

"Baik, Pak. Pak Raffa juga datang tepat waktu."

"Alhamdulillah. Kalau proyek bagaimana?"

"Masih kondusif, Pak. Kami masih berusaha."

"Oh, gitu. Bagaimana dengan investornya? Berkurang?"

"Alhamdulillah investornya bertambah, Pak."

"Tambah?"

"Ya, Pak."

"Berapa?"

"Dua orang, Pak."

"Sudah kamu cek latar belakang mereka?"

"Sudah, Pak. Yang satunya dulu pernah bekerja sama dengan perusahaan, jadinya tim lebih percaya, Pak. Yang lainnya cukup terkenal dikalangan pembisnis. Jadi, tim mudah mengecek latar belakangnya, Pak."

"Oh, bagus itu."

"Benar, Pak."

"Ada kendala lain?"

"Ada, Pak. Tapi masih tahap standart, Pak."

"Apa itu?"

"Ada kesalahan sama proyek yang di Jepang, Pak."

"Kesalahan gimana?"

"Ada pergantian pegawai, Pak. Jadinya sistem sedikit eror."

"Sudah ada orang mengecek ke sana?"

"Baru berangkat hari ini, Pak."

"Kenapa saya tidak diberitahu?"

"Saya kira pak Raffa sudah memberitahu bapak."

"Belum. Saya belum bisa menghubungi dia."

"Mungkin pak Raffa masih disibukkan dengan proyek yang ada di sini, Pak."

"Sekarang kamu lagi di proyek yang mana?"

"Saya di kantor pusat, Pak. Pak Raffa menugaskan saya untuk memegang kendali kantor pusat selama bapak dan pak Raffa tidak ada."

"Kantor pusat kamu tinggalkan dulu, berikan tugas kamu sama sekretaris satu. Kamu saya kirim ke Jepang. Saya pikir kamu tahu banyak tentang proyek di Jepang."

"Baik, Pak."

"Kamu atur waktu keberangkatannya, ajak tim utama bersama kamu."

"Baik, Pak."

"Ada masalah lagi?"

"Semoga tidak ada lagi, Pak."

"Ya, semoga. Kalau begitu saya tutup dulu."

"Baik, Pak."

Arza menutup ponselnya, kemudian dia membukanya lagi. Kali ini dia mencoba untuk menghubungi Raffa. Tetapi, sepertinya Raffa benar-benar sibuk. Raffa masih belum bisa dihubungi.

My Husband Is KoreanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang