Aku akan selalu mengingatkan, vote dulu ya...
Happy reading...
Hani mengelap kedua tangannya setelah selesai mengepel lantai. Jarang sekali dia melakukan pekerjaan rumah tangga semacam ini. Arza tidak pernah meminta Hani untuk mengepel lantai, Arza hanya meminta Hani untuk membersihkan kamar tidur mereka. Karena kamar tidur mereka jauh lebih sering digunakan.
Arza adalah tipe laki-laki yang cinta akan kebersihan. Dari semua sudut rumah, kamar tidur harus selalu bersih dan rapih. Menurut Arza, mereka berdua menghabiskan lebih banyak waktu di dalam kamar, karena itulah kebersihan kamar tidur adalah yang paling utama.
Selesai mengepel lantai, Hani mengumpulkan seluruh pakaian kotor miliknya dan milik Arza ke dalam keranjang khusus pakaian kotor. Hani juga menarik sprei, sarung bantal dan guling, serta selimut untuk dicuci.
Setelah semua cucian sudah terkumpul menjadi satu, Hani memasukkannya ke dalam mesin cuci pakaian. Tak lupa Hani menambahkan detergen. Setelah mengatur waktu untuk mencuci pakaian, Hani bergegas menuju kamar tidurnya bersama Arza.
Hani memasuki ruangan khusus yang berada di dalam kamar tidurnya. Ruangan tersebut bersebelahan dengan kamar mandi. Di dalam ruangan tersebut Hani dan Arza biasa menyimpan seluruh pakaian, sepatu, dan sandal.
Di dalam ruangan tersebut terdapat empat lemari besar. Lemari satu berisi pakaiannya dan juga Arza. Lemari kedua berisi jaket dan jas milik Arza. Lemarin ketiga berisi tumpukan selimut, sprei, sarung bantal dan sarung guling. Lemari keempat berisi barang-barang penting seperti perhiasan milik Hani, jam tangan, surat-surat perusahaan dan sebagainya.
Untuk menyimpan sepatu dan sandal Hani menggunakan rak yang cukup besar. Saking besarnya rak tersebut, Hani sampai bisa menyimpan boneka-boneka kesayangannya, juga novel dan buku-buku miliknya serta milik Arza.
Dalam tumpukan selimut yang jumlahnya cukup banyak, Hani kebingungan mencari sprei. Sepertinya dia harus memisahkan selimut dan sprei dan menempatkannya dalam satu tumpukan khusus.
Hani berkacak pinggang memandangi lemari di depannya. "Apa aku minta dibelikan lemari baru lagi ya? Khusus buat sprei gitu," ucap Hani. "Tapi nanti ruangan ini jadi sempit dong. Cuma untuk sprei masa harus pisah lemari lagi. Ribet lagi dong aku?"
Hani akan membicarakan masalah ini dengan Arza nanti malam. Hani membutuhkan satu buah lemari yang berukuran kecil, untuk sprei dan sisa ruangnya dia gunakan untuk menyimpan novel-novel miliknya. Masalahnya adalah Hani mulai membeli banyak novel terjemahan. Lemari khusus novelnya seakan kehabisan ruang.
Hani menoleh ke arah belakang, dia mendengar suara pintu kamar yang dibuka. Tiba-tiba Hani merasa waspada. Hani mengingat jelas ucapan Arza, tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam rumah mereka kecuali mereka berdua.
Kalau begitu, siapa orang datang bahkan bisa masuk ke dalam rumah tanpa Hani ketahui? Atau jangan-jangan pencuri? Orang jahat? Atau pembunuh?
Hani bergegas membuka ponselnya. Tangannya gemetar menekan tombol ponselnya. Dia harus segera menghubungi suaminya. Arza harus mengetahui kondisinya saat ini.
"Halo, Hani?"
"Kak Arza..."
"Kamu kenapa?"
Hani mengernyit. "Kok suaranya kak Arza kayak di deket aku ya?" Hani menyentuh leher belakangnya. Jangan bilang yang berhasil masuk ke dalam kamarnya adalah hantu. Dan hantu itu mengeluarkan suara yang serupa dengan suara milik Arza.
"Kak Arza..."
"Hani? Kenapa, Han?"
Tiba-tiba Hani merasakan si hantu memegang bahunya. Demi Allah yang Maha Pelindung. Hani gemetar. Sepertinya saat ini Hani sedang bermimpi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Is Korean
RomancePerjodohan? Gak like! ---- "Saya mengajak kamu untuk menemui orang tua saya." "Untuk apa?" "Melamar kamu." "Kenapa mau melamar saya? Anda bukan pacar saya." "Kalau begitu saya akan menjadikan kamu pacar saya. Kamu mau menjadi pacar saya?" ----- "J...
