andai kamu bisa mendekat akan kubiskkan bahwa aku rindu padamu selama ini.
Ah tapi sayangnya itu hanya ‘andai’.
--
“jadi gimana, Bram?”
Yang diajak bicara menghembuskan napas berat. “huh, aku udah bilang dari dulu, Velin. Itu perasaan kamu hak kamu mau seperti apa.”
Velin menunduk. Daritadi ia mencurahkan isi hatinya tentang Derin, termasuk tentang perasaan Derin kepadanya.
“gak bisa, Bram.”
“kenapa? Aku lagi alasannya? Dari dulu aku bilang, aku udah ada seseorang, Velin,” katanya sambil tersenyum berusaha memberi pengertian.
“Derin juga ada seseorang Bram..”
“Derin memang ada seseorang tapi hati Derin itu ada kamu.”
Velin tertawa sumbang setengah menatap malas Bram lalu membuang muka. “kamu nggak tau siapa orang itu.” Bram diam, bingung juga mau menjawab apa.
“aku tau seseorang di hati kamu siapa. Aku tau seseorang yang berada di Derin itu siapa. Dia orang yang sama, Zill.”
Bram tertegun sejenak. jadi, Zill yaang ia tau balum sepenuhnya ia tau?
“katanya dunia ini adil, ada tinggi ada rendah, tapi nyatanya cuma rendah yang tersiksa.” Lagi-lagi Velin tertawa sumbang.
“yang tinggi, yang rendah pun sama tersiksanya. Tapi sayang, kamu hanya melihat satu sisi, penderitaan yang kamu alami tanpa melihat penderitaan orang lain. Belajar mengerti perasaan dan penderitaan orang lain, Velin. Di dunia ini yang tersiksa bukan kamu aja.”
Kursi roda Bram di dorong oleh Velin mendekati sumber cahaya matahari pagi. Pagi ini memang ia sengaja membawa Bram melihat matahari pagi sekalian cerita juga.
“jadi, sebenarnya siapa Zill di dunia Derin?” kapala Bram mendangak ke samping menghadap Velin.
“dia sepupu Derin. tapi Derin menganggap lebih, kalau dia cinta sama Zill, semacam brother complex.”
“dan Zill.. aku rasa dia masih sayang kamu,” tidak lagi berani membalas tatapan Derin Velin membuang muka. Jujur hatinya sakit mengatakan ini apalagi ditambah wajah Bram yang kian berseri mendengar kata tadi.
Bram menetralisirkan mukanya jadi biasa saja. Ia mengerti perasaan Velin. Ia tau bahwa Velin menyukainya sejak SMP tapi sayangnya Bram Cuma menggap adik saja. Lalu di sini siapa yang pantas disalahkan, Velin yang berharap lebih, atau Bram yang memberi harapan? Ah iya ini salah Velin. Bram tak memberi harapan cuma Velin yang menggap Bram memberi harapan.
Kamu pernah seperti Velin? Berharap pada apa yang seharusanya tidak diharapkan.
“Velin dan Derin. lucu ya dua nama yang hampir mirip haha. Jika kamu sedang berupaya melepas aku, dan Derin sedang berupaya mengikhlaskan Zill,” ujar Bram menggantung.
“maka berjuanglah bersama Derin, Velin. Agar kalian berdua mengerti arti dari benar-benar mengikhlaskan.”
“iya, velin dan Derin suatu saat pasti akan bisa mengikhlaskan seseorang. Tapi, mengikhlaskan belum berati melupakan, kan?”
“di dunia ini apapun bisa diikhlaskan, bisa dimaafkan, tapi belum tentu dilupakan,” ucap Velin.
“jika kamu masih mengingatnya berarti kamu pendendam.”
“kamu salah. mengingat belum tentu pendendam, mengingat berarti mengenang. Mengenang pada siapa hati ini dibahagiakan dan pada siapa hati ini dipatahkan kebahagiaannya.”
Kalah telak. Bram lagi-lagi terdiam. Velin itu jarang ngomong sekalinya berbicara bisa buat lawan bicaranya bingung mau balas kayak apa. Velin juga sebenarnya murdi yang pintar cuma dia nya saja yang diam terus di kelas. Buktinya ia masuk rank 5 besar, hanya saja setiap ditanya teman-temannya dia peringkat berapa dia jawabnya ya tidur aja. Benar kata orang, yang diam biasanya mengahnyutkan.
“sudah ya, Bram. Aku antar kamu balik ke ruang rawat. Aku mau pulang, bilang pada Derin bahwa Bram menyuruku melupakanmu.”
“Velin, sampaikan salamku pada derin. bilang padanya haru menjaga baik kamu. Velin itu berharga dan Derin orang istimewa yang bisa menjaga orang yang berharga.”
_
Velin berjalan santai di lorong rumah sakit keadaanya sepi mungkin belum waktunya jam besuk tiba sebabnya belum banyak yang terlalu datang. Mata Velin memang ke depan, tapi perasaanya mundur ke belakang seperti ada orang yang mengikutinya. Bukan soal apa-apa hanya dikahwatirkan hantu tau sendirilah rumah sakit selalu ada rumor makhluk tak kasat mata.
“DOR!!”
Bukan suara tembakan, melainkan suara mengagetkan dari manusia tengil di belakangnya. Seenaknya kagetin ia kayak gitu kalau kena serangan jantung kan brabe.
Menusia tengil di depannya cengengesan padahal rrespon Velin itu datar, dingin pula, kesal juga sebenarnya hanya saja wajah kesalnya disembunyikan.
“gimana? Kaget gak?” mungkin kalau orang-orang liat itu semacam preman sedang memalaki gadis. Satu-satunya orang yang tampang preman dan kenal Velin itu cuma Pandi.
Jangankan menjawab menengok Pandi pun Velin segan.
“ketemu Bram kan lo?”
“selingkuh dari Derin ceritanya, nih?”
Kaki jenjang Pandi berusaha menyamai langkah kecepatan Velin. Ia tau kalau velin akan bereaksi macam ini. Tapi tetap saja ia menerornya dengan pertanyaan
.
“ternyata nengokin Bram juga. Guna juga gue chat lo kasih kabar tentang siumanya Bram.”
Chat? Yang kemarin? Bersama Derin? maksud Pandi tuh apa sih mengirimi ia pesan dengan nomor yang ganti-ganti.
“tau apa si lo tentang gue, kehidupan gue, ataupun Bram?!” kata Velin melirik sinis.
“taulah, wong daritadi gue ikutin lo, kemanapun sayang.” Badan Pandi sedikit maju lalu menyetarakan tingginya dengan Velin wajahnya ikut mengamati lekat-lekat.
Tuhkan, katanya sukanya sama Zill tapi kepo-innya Velin. Mau Pandi tuh apa..
Velin tak mundur ia balik membalas tatapan Pandi. Tangannya dengan kasar mendorong wajah Pandi menjauh, cukup kencang membuat Pandi terhuyung ke belakang sedikit.
“ya udah, semisal lo pilih Derin daripada gue ataupun Bram. Gue harap princess kecil gue bisa bahagia, haha.” Tawa Pandi. Kakinya mengayun-ngayun ke depan layaknya anak kecil yang sedang berjalan kegirangan.
Tak apalah jalannya mau seperti apa, kayak gimana. Yang penting akhirnya ia pergi.
_
SEE YOU!
Kata Pandi, kalau sudah memilih jangan menyesal, ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia
Teen FictionIni tentang Derin; yang menjaga Senjanya, Bulan yang mengiri mataharinya, Dan berakhir dalam jiwa yang hilang. Ini pun tentang Velin, tentang mencari seseorang yang melengkapi jiwanya, Tentang Mematahkan harapannya, Ah ini juga bersama Sang Bulan ya...
