iya untuk semua pertanyaan

89 3 1
                                        

Jika semesta tak mengizinkanku padamu. Maka ku berharap semesta mengizinkan melihatmu tanpa kau tau.
--
“ya elah tinggal terima buat jadi pacar Derin aja mesti diem kayak gini dulu lo.” Kata Shasa. Mulutnya lama kelamaan dipenuhi mi ayam.

Velin melirik dingin. “tau dari siapa lo?”

“tau dari Vano. Tu bocah gue sogok pake permen karet aja juga bakal kasih tau.”

Vano ciri-ciri mulut ember emang.

“udah tinggal jawab iya aja si. Kalo lo gak mau Derin buat gue aja dah.”
“gak!”

Shasa tersenyum jenaka mendengar omongan velin yang spontan. Velin itu mau tapi malu- malu kucing.
Velin bangun dari duduknya, lalu mengecup pipi Shasa sekilas. Senyum miringnya terlempar untuk Shasa. Shasa yang shock menggeram kesal, kaget lagi makan dicium sekilas gini. Ia menengok ke arah Velin, benar saja cewek itu sudah lari ngacir ke luar warung lesehan sambil melambai ke arahnya.

“WOY SIALAN YANG BAYAR MI AYAM TIGA MANGKOK SIAPA?!” teriak Shasa.

Mata Shasa memandang nanar tiga mangkok kosong dihadapannya. Dikiranya Velin bakalan traktir Shasa. Taunya nggak, kalau tau gitu Shasa nggak bakal nambah makan mi ayamnya.

---

Velin turun dari mobil taksi pas di tempat di mana ia dan Derin sering ke sana. Apalagi kalau bukan rumah pohon di dekat tebing. Kaki Velin perlahan menaiki tangga satu persatu, ketika sudah mencapai dalam rumah pohon ia duduk lalu menulis di buku yang Derin beri padanya kemarin.

Senyum tipis terpampang jelas di wajahnya. Ia merobek kertas dari buku itu dan menempelkannya di dinding rumah pohon.

‘Velin sudah menemukan jawabannya. Jawabnnya; iya.’

“tapi kan Derin belum benar-benar bilang.” Velin kaget bukan main, daritadi ia sendirian di atas sini, tapi suara Derin tiba-tiba muncul mengagetkannya.

“dari kapan di sini?”

“dari liat Velin senyum-senyum sendiri sambil tulis ini,” tangan Derin mengelus tulisan Velin. Ia melempar senyum miring, nah kan Velin terciduk senyum-senyum sendiri tulis itu. Padahal aslinya daritadi Derin berada disekitar rumah pohon itu dan melihat Velin menaiki rumah pohon Derin mengikutinya.

‘ya sudah jadi gimana, Velin sudah memiliki rasa ke Derin?’

“belum..”  Velin menghela napas sambil membaca tulisan Derin. “tapi akan. Makanya buat perasaan Velin menetap pada Derin.”

“iya.”

Keduanya terdiam. Bingung. Random. Sebenarnya kemana perasaan mereka. Mereka berdua terjebak dalam rasa yang seharusnya tidak pantas ditempati, mereka berdua sama-sama saling butuh topangan dalam hal perasaan.

“Velin suka menyendiri, ya?” tanya Derin.

“iya, Derin juga kan?” Derin berdehem menanggapi pertanyaan Velin.

Lagi-lagi hening, tak ada obrolan lagi. Siang itu, angin cukup bersahabat, cuaca cukup panas, cahaya memaksa masuk menerobos celah atap. Mata Velin menjadi hazel terkena paparan cahaya matahari, rambutnya berubah sedikit pirang dan ikut melambai-lambai mengikuti gerakan angin.

“ternyata kita sama, ya. Suka menyendiri dikala jiwa lelah dengan keramaian,”kata Derin.

Velin terkekeh sinis. “iya, jika berada dikeramaian serasa sendiri, buat apa? Percuma.”

“Ada jiwa yang lelah tetapi keadaan memaksa untuk terus, padahal Semesta tau jiwa ini ada saatnya lelah.”

“sepertinya semesta enggak memihak untuk itu.”

“kalau semesta enggak memihak. Jadi harus apa?”

“sabar, Derin.”

“sabar pun tak cukup jika raga tidak kuat menopangnya, Velin.” Derin mengeluarkan napas dari mulutnya perlahan.

Tidak ada jawaban dari Velin. Keduanya asyik menikmati semilir angin yang menampar halus permukaan kulit mereka, apalagi ditambah kenikmatan pemandangan Ibu Kota yang sedang macet tampak kecil dari atas sini.

“jadi gimana?” kaki Derin menjulai ke bawa, duduk di bagian ujung rumah pohon tak membuat nyali cowo itu menciut.

“gimana apanya?”

“jawaban untuk pertanyaan Derin yang ini.” Tangannya menulis kembali hanya saja kali ini tidak ditempel langsungdiberi ke Veli. Tulisannya pun masih sama keadaaanya—tulisan buruk hampir nggak kebaca.
untuk Avelina Senja.

Derin mau Velin jadi dunia Derin, kekasih Derin, pacar Derin, bahkan sampai jadi istri Derin, haha.

Velin mengangguk-anggukan kepalanya dan juga terkekeh sebentar. “iya, iya.”

“ya udah kalau gitu kita pacaran, kali ini beneran.” Derin memandang lempeng sambil bermuka dingin. Derin itu aneh, ntar sifatnya hangat beberapa menit kemudian menjadi sifat dingin kayak gini.

“mau ke mana?” matanya yang tajam melirik Velin yang sedang turun.

“mau pulang.” Kepala Derin mengangguk-angguk membiarkan Velin pulang.

Katanya sekarang udah jadi ‘pacar’. Tapi pacarnya pulang tidak ditahan. Jangankan ditahan untuk pulang, ada tawaran dianter aja nggak

--

Mama Velin mengerling jail pada anaknya yang baru pulang itu. Baru selangkah kakinya masuk ibunya itu sudah mecegat depan pintu sambil tersenyum jail. Rani maju selangkah dan berdiri di sambing anaknya, bahunya menyenggol-nyenggol bahu Velin, mencolek dagu anaknya genit.
Ini emak-emak kenapa sih..

“ngaku abis dari mana?!”

“Indonesia.” Yang dikatakan Velin tak ada salahnya. Ia memang tidak pergi ke luar negeri, tetap stay di negeri tercinta.

“ya kalau itu mah tau. Maksudnya daritadi pergi ke mana,  sama siapa?”

“sama orang.” Lagi-lagi bener juga Velin menjawabnya walaupun agak songong. Tapi sebenarnya siapa yang salah, Rani yang bertanya tidak jelas atau Velin yang menjawab songong?

“abis sama Derin kan? Hayo ngaku.” Kedua bahunya terangkat acuh, ia tak menghiraukan Rani. Lebih baik ke dapur untuk minum air dingin.

“ngaku aja, tadi sama Derin kan? Derin posting di instagrm lho, mama Ingefollow akun Derin tapi nggak difollback, so ngartis pacar kamu.” Tetap tak mengindahkan omongan ibunya, Velin membiarkan Rani ngoceh sana-sini. Curhat tentang followersnya Derin yang setiap minggu bertambah pesat, oh atau cerita tentang followers instagram Rani yang berkurang satu, yang tadinya 100 berkurang jadi 99 orang, Cuma hal sepele tapi bikin Rani gregetannya Masyallah.

“nih, liat Derin posting foto dari atas rumah pohon. Ini kamu kan.”  Rani mengulurkan foto yang dijepret dari rumah pohon ke arah bawah. Benar. Itu Velin yang sedang berjalan pulang, meski muka Velin tak terlihat tapi tetap saja esok pasti akan jadi bahan gibahan di sekolah.

“ini kamu kan? Ngaku aja, mama tau itu kamu.”

Kalo tau ngapain nanya..

Velin menghela napas agak kasar, tatapannya lempeng tepat di foto itu lalu membuang muka dan berjalan ke arah kamar. Lagi-lagi tanpa menjawab omongan mamanya.

“BERTAHAN JIKA DIA SETIA, PERTAHANIN APA YANG PANTAS DIPERTAHANIN, LEPASKAN APA YANG SEHARUSNYA DILEPASKAN.” Rani berteriak dari bawah, Velin sudah di lantai 2 Cuma mengangguk-angguk aja.

Gini-gini Rani suka baca kata-kata bucin..

“kalau nggak setia gimana?” sedikit berteriak dari atas sambil menunduk memandang Rani.

“bacok aja kepalanya.” Ibunya berbakat menjadi psycho memang.

--

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 09, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RahasiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang