"wohooo"
"semangat guys"
"nggak dapet Edgar mau deh dikasih Marco"
"aduh, kenapa kak Jason ganteng banget sih ya ampun"
Teriakan maupun pembicaraan orang-orang yang ada di pinggir lapangan memenuhi pendengaran Feli. Sejak kemarin sekolahnya sedang mengadakan lomba sebelum libur kenaikan kelas, maka dari itu banyak siswa siswi yang berada di lapangan dan tentu saja sebagian besar guru berada di ruang guru.
Feli tersenyum kecil mendengar pekikan pujian dari siswi-siswi yang memandang kagum ke arah lapangan. Jika saja Olin dan Rere ada disini pastinya Olin akan mengomeli siswi itu dan Rere akan protes pada Olin yang terlalu posesif, karena memang sekarang yang sedang bertanding adalah kelas edgar. Sedangkan Edgar duduk santai di kelasnya lantai 3 karena tak ingin bermain dengan alasan ia lelah menjadi pusat perhatian. Berlebihan memang tapi apa yang bisa dilakukan jika seorang Edgar sudah berkata tidak.
Langkahnya kembali menyusuri koridor yang menuju taman belakang yang berdekatan dengan pintu tangga menuju rooftop dengan membawa botol air minum yang baru saja Feli beli, ia sedikit bingung kenapa tadi Nathan menyuruhnya kesana setelah ia selesai bertanding. Dimana tempat itu jarang dikunjungi warga sekolah dan juga tempat itu menjadi tempat yang membuat Feli mengakui perasaannya terhadap Nathan.
Senyuman terbit di wajah Feli ketika mengingat kejadian itu, merasa lucu jika ia sempat mengelak perasaannya. Tapi sekarang ia tidak menyesal telah mengakui perasaannya karena pada akhirnya cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Feli berhenti 10 langkah dari bangku yang berada tepat di depannya, wajah yang tadinya memperlihatkan senyum indah sekarang berganti dengan wajah datar yang menyembunyikan kesakitan yang luar biasa. Matanya percaya dengan apa yang dilihatnya namun tidak hatinya, ia ingin menghiraukan dengan apa yang dilihatnya namun percuma saja apa yang dilihat benar-benar nyata.
Dua manusia berlawanan jenis yang sedang duduk berhadapan. Satu berpakaian olahraga dan satunya berpakaian seragam SMA-nya. Kedua wajah mereka sangat dekat, bahkan hampir menempel sempurna.
Tanpa sadar botol air yang Feli bawa lolos dari genggamannya, menimbulkan suara yang membuat kedua manusia itu menoleh kaget. Feli yang juga tersadar dari lamunan sakit hatinya, segera pergi tanpa menghiraukan panggilan Nathan. Ya itu Nathan dan pastinya perempuan tadi adalah Gytha.
Feli berlari meninggalkan taman dengan air mata yang mulai membasahi pipinya, ia berharap Nathan akan mengejar dan menarik tangannya untuk berhenti menjauh dan memberi penjelasan.
Namun harapa hanyalah sebuah harapan untuk Feli saat ini, ia tak merasa ada cekalan tangan ataupun teriakan dari belakang sana. Bahkan sekarang ia sudah berada di lantai dua, koridor kelasnya.
Ia berhenti dan terduduk di lantai tak jauh dari tangga, menoleh ke kanan masih berharap Nathan akan muncul dari sana dan memeluknya. Sekali lagi perkiraannya salah, Nathan tak muncul setelah 10 menit berlalu. Dirinya berdiri dan melangkah pelan menuju kelasnya, meninggalkan tatapan risih yang ia dapat saat duduk tadi.
'BYURRR'
Seluruh tubuh Feli kedinginan merasakan air es yang mengguyur tubuhnya saat membuka pintu, ia tak tau apa yang terjadi. Dirinya terlalu fokus dengan tubuhnya yang menggigil, selang beberapa detik tubuhnya terjatuh akibat dorongan seseorang di belakangnya.
Serefina.
Dia yang mendorong Feli tanpa peduli Feli yang sedang kedinginan. Sekarang Feli tau apa yang sedang terjadi, dirinya di bully. Seorang siswi lain maju dan menaburkan sekantong tepung dan diikuti oleh yang lain dengan kantong yang sama.

KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Nerd
Teen FictionFelicia agatha alexander (16) yang berubah menjadi nerd setelah kejadian yang tak ingin ia ingat. Nathaniel orlando (17) orang yang di kagumi banyak orang termasuk feli. ◽ ◽ ◽ Graphic by @whiteboardcc ⚡highest rank⚡ #44 in beautiful #7 in alexander...