11 Peaceful Religion

277 24 0
                                        

"Allah senantiasa meniupkan hidayah kepada setiap orang dari segala sudut. Hanya saja mereka tidak pernah menyadari kedatangannya dan belum siap untuk menjemput hidayah itu sehingga tiap kali salah langkah, dia akan berkata, Tuhan tidak pernah adil."

@Asheera Haba Adzkiyah

❤❤❤


Setengah bulan sudah rasanya mereka menetap di Kota Granada yang sungguh menawan. Begitu banyak kejadian yang terjadi setelah mereka tinggal di kota itu.

Mulai dari kesulitan mereka saat beradaptasi di kota itu, sampai menjalankan studinya di Universitas yang bernama University of Granada sekaligus melakukan penelitian untuk pembuatan skripsinya pada saat mereka pulang ke Indonesia. Namun, Crishtian dan Ashura lebih memilih melakukan penelitian di Indonesia dari pada di Granada dengan alasan belum mengerti sepenuhnya mengenai kota dan negara itu.

Berbeda dengan Haba yang memilih untuk kuliah sekaligus melakukan penelitiannya di kota itu karena berpikir ingin secepatnya menyelesaikan S1nya. Apalagi dosen pembimbingnya adalah Pak Syamsul yang katanya terkenal sangat killer di kalangan para mahasiswa. Tapi, Sebenarnya itulah ujian seorang mahasiswa pada saat melangkah di semester akhir.

Tiba-tiba handphone Haba berdering yang berarti adanya panggilan masuk.

"Assalamu'alaikum, Umii." sapa Haba ketika telah menerima panggilan masuk yang ternyata adalah Uminya.

"Wa'alaikumsalam, Nak. Gimana kabarmu disana sayang?" jawab Umi sekaligus menanyakan keadaan putri satu-satunya.

"Kabarku Alhamdulillah baik Umii. Umii sendiri bagemana?" tanya Haba.

"Alhamdulillah, sehat nak." jawab Uminya.

"Abi gimana?" tanya Haba karena ingin mengetahui kabar Abinya yang telah lama tidak mendengar suaranya.

"Alhamdulillah, Sehat-sehat aja Nak. Abimu lagi ke Mesir ngurusin proyeknya sekaligus jenguk Abangmu disana. Katanya Abangmu disana lagi sakit jadi belum bisa pulang beberapa hari yang lalu. Tapi besok Abii udah mau balik lagi di Indonesia soalnya kakakmu udah agak baikan dan nggak tega katanya kalo Umii terlalu lama sendirian disini." jelas Uminya yang membuat Haba semakin kagum pada Abangnya itu.

"Ahhh, bener-bener yahh Abang itu pengertian dan sayang sama Umii. Kalo Umii aja dia hormati dan dia sayangi, apalagi istrinya nanti. Heheheheh." ucap Haba yang berdecak kagum pada Abangnya itu.

"Bisa aja kamu, Nak. Kakakmu aja belum ketemu sama jodohnya. Siapa tau kamu duluan yang bakalan ketemu sama jodohnya. Hahahahaha." ucap Uminya yang asal-asalan dan membuat Haba tersipu malu.

Dia saja belum tahu perasaannya kepada siapa, ehh Uminya udah bahas ketemu jodoh.

"Apasih Umiiii. Haba mau sukses dulu." jawab Haba.

"Haba sayang, kamu nggak kepikiran nikah dulu sebelum lanjut S2? Umii khawatir loh sama kamu. Nggak ada yang jagain karna biasanya kalo udah sukses, bakalan banyak yang gangguin kamu,Nak. Makanya Umii Khawatir." ucapnya dengan nada yang memang menjadi salah satu bentuk kekhawatiran seorang Ibu kepada anaknya.

Haba memang belum memberitahu Uminya tentang kejadian yang hampir menimpanya saat itu.

"Iyaa iyaa Umii. Nanti Haba pikirin yahh tawaran Umii itu. Lagian Haba belum menemukan lelaki yang pas di hati Haba." jelas Haba untuk meyakinkan Uminya.

"Okee sayang. Yaudah, kalo besok Abimu udah datang, nanti Umii bakal nelpon kamu lagi yah. Abimu juga sudah rindu sama kamu." kata Uminya

"Okee Umii, Assalamu'alaikum." jawab Haba yang dibalas "Wa'alaikumsalam." oleh Uminya pertanda percakapan mereka telah berakhir.

Granada [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang