"Tujuan Abang keluar negeri buat nuntut ilmu supaya bisa membahagiakan kedua orang tua."
@Asheera Haba Adzkiyah
🛬🛬🛬
Usai dari Kampus, Haba mencari sosok pria yang selama 20 tahun lebih membanting tulang untuk menafkahi keluarga kecilnya. Bukan hanya itu, wanita paruh baya yang senantiasa menyambutnya dengan hangat ketika pulang dari kampus tidak terlihat.
"Umii, Abii, Assalamu'alaikum. Umii." teriakku dengan penuh semangat dan bahagia.
"Wa'alaikumsalam, neng. Ada apa? kok teriak-teriak gitu loh? apa ada berita yang bagus yoh?" tanya Bibi yang merupakan seorang pembantu di rumah keluarga kecil Haba.
"Iyaa mbok. Kok rumah sepi yah? Umii sama Abiinya Haba kemana, Mbok?" tanya Haba dengan raut wajah yang kebingungan melihat situasi rumah yang sepi dan tanpa adanya sosok malaikat dan super heronya di tempat ia sekarang berpijak.
"Abiinya neng Haba masuk rumah sakit. Asmanya kambuh. Jadi keliatan sesak napas gitu neng. Tadi Mbok kepengen kasih tau neng Haba tapi keburu dicegah sama Nyonya. Katanya, nanti konsentrasi neng Haba jadi buyar. Makanya Nyonya larang. Tunggu Neng pulang aja dulu baru di kasih tau." jelas Mbok Siti yang tertunduk karena merasa bersalah.
"Astaghfirullahal'adzim, kok bisa kambuh yah Mbok? Yaudah, Haba nggak apa-apa kok. Mbok nggak usah merasa bersalah sama Haba apalagi itu kan perintah dari Umi. Sekarang, kasih tau Haba aja di rumah sakit mana Abi sekarang berada?" jelas Haba dengan nada yang tenang namun raut wajahnya menandakan rasa kekhawatirannya pada sosok Abinya.
Mampu bersikap tenang adalah salah satu keistimewaan yang dimiliki Haba, meskipun kekhawatiran melanda pikirannya namun ia mampu menyembunyikan kekhawatirannya dan menenangkan mereka yang khawatir.
"Ini neng di rumah sakit Ibnu Sina kata Nyonya."
"Okee Mbok, Haba kesana dulu yahh. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati neng."
Haba kemudian kembali mengendarai motor scoopynya menuju rumah sakit. Khawatir? pasti. Sebagai seorang anak kita pasti merasa khawatir, takut, dan perasaan mengganggu lainnya akan bercampur aduk menjadi satu yang sulit dijelaskan. Perjalanannya menuju rumah sakit sangat lama menurutnya. Padahal jaraknya tidak terpaut jauh. Namun selang beberapa menit kemudian, Haba pun tiba di rumah sakit Ibnu Sina.
"Assalamu'alaikum Abii." sapa Haba yang berlari dengan mata yang berkaca-kaca dan memeluk Abinya. Air matanya siap untuk membanjiri wajahnya.
"Wa'alaikumussalam, sayang. Kamu jangan nangis dong. Kan, jadi jelek." kata Abinya sambil mengusap air mata Haba. Tapi tetap saja, perkataan Abinya tidak mampu membuat dirinya nampak baik-baik saja.
"Abii udah sembuh, Nak. Nggak usah nangis lagi yah. Senyum dong." Abinya berusaha membujuk sang putri agar berhenti meneteskan air matanya karena sakit yang di deritanya.
Perkataan Abinya sontak membuat Haba tersenyum paksa agar Abinya tidak akan merasa sedih melihat putri bungsunya yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik nan cerdas itu menangis.
"Oiyaa, Abi, Umi, aku punya berita bagus loh." kata Haba tersenyum antusias yang sengaja mengalihkan perhatian mereka agar tidak sedih lagi.
"Berita apa sayang?" kini Uminya mulai terlihat berbinar-binar. Wajah yang sedari tadi terlihat sendu, kini kembali ceria seperti sedia kala.
"Aku lulus program pertukaran pelajar ke Eropa Umii, Abii." jelas Haba yang kini terlihat semangat memberitahu kedua orang tuanya itu. Seperti anak kecil yang bahagia diberi ice cream oleh Ibunya.
"Maa Syaa Allah, Alhamdulillah, Nak." ucapan syukur terlontar di bibir pucat Abinya.
Uminya pun mengatakan hal yang sama. Sontak mereka memeluk Haba. Terlihat jelas mata mereka berkaca-kaca tanda bahwa mereka sangat terharu dengan apa yang barusan mereka dengar. Kebahagiaan orang tua memang terletak pada anaknya. Jika keinginan baik anaknya tercapai, itulah kebahagiaannya.
"Tapi, dimana sayang? kan, di Eropa negara itu banyak banget." lanjut Uminya.
"Di Kota Granada, Spanyol Umi. Kota yang Indah dimana banyak sekali sejarah peradaban Islam disana. Aku sudah pernah baca artikel yang berkaitan dengan Eropa, termasuk kota Granada yang berada di Spanyol." jelas Haba dengan penuh semangat.
"Putri Abi memang kalo udah tentang Eropa, mmmm, udah tau semua kayaknya yahh." canda Abinya yang mengundang kekehan istri dan putrinya itu.
Setelah tawa mereka padam, mereka pun hanyut dalam pikiran masing-masing. Haba berpikir, haruskah ia pergi meninggalkan Abinya yang kesehatannya belum begitu pulih? dan Uminya akan sendirian di rumah selama 1 tahun ajaran atau bahkan bisa memakan 2 tahun.
"Umii, Abii, aku pamit keluar dulu yahh. Assalamu'alaikum." pamit Haba yang memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.
"Iyaa sayang, Wa'alaikumsalam." jawab beliau bersamaan.
Haba pun keluar dan kemudian menghubungi Abangnya yang sekarang berada di Kairo melanjutkan S3 nya disana. Oleh karena itu, Abinya sering bolak balik Indonesia-Kairo. Selain mengurus bisnisnya, juga mengunjungi saudara keduanya Haba. Sedangkan abangnya Haba yang sulung, jangan ditanyakan lagi. Dia adalah pengusaha muda sukses di Singapore dan menikah dengan gadis disana. Mereka kerap kali ke Indonesia ketika bulan Ramadhan tiba dan mendekati hari raya Idul Adha.
"Halo, Assalamu'alaikum Haba." sebuah sapaan yang terdengar dari seberang sana melalui telepon Haba.
"Wa'alaikumsalam Bang. Aku pengen cerita nih. Mau minta pendapat Abang." jelas Haba to the point.
"Ngomong aja dek. Ada apa?" tanya sang Kakak dengan lembut kepada adik satu-satunya.
"Gini loh Bang, Haba lulus program pertukaran pelajar ke Eropa selama 1 tahun ajaran atau bahkan 2 tahun. Menurut abang, Haba ikut atau nggak?" jelas Haba.
"Alhamdulillah, yahh ikut ajalah dek. Rejeki kamu tuh. Kapan lagi kamu dapat kesempatan emas kayak gitu? Dek, kalo kamu mikirin nggak mau ninggalin Umi sama Abi, kamu nggak bakal bisa sukses ke depannya. Lagi pula Umi Abi juga pasti meridhoi kamu kok. Abang juga ngerasain hal yang kayak gitu juga pas mw lanjut S3 disini. Tapi pesan Umi selalu abang ingat. Tujuan Abang keluar negeri buat nuntut ilmu supaya bisa membahagiakan kedua orang tua. Gitu loh. Kamu gimana sihh dek. Patah semangat. Tumben." jelas sang Kakak dengan tegas yang akhirnya diselingi kata candaan supaya pembicaraan diantara keduanya tidak terlalu tegang dan kaku.
"Iyaa Bang maafin Haba. Haba mah kayak gitu kalo udah berurusan sama orang tua. Tapi Haba ternyata sudah salah. Makasih nasehatnya Bang. Aku tutup telponnya yah, Assalamu'alaikum." kata penutup Haba ketika mengakhiri pembicaraan via telepon dengan Kakaknya yang lebih akrab dipanggil Abang.
"Granada, wait for me."
🛬🛬🛬
"Granada"
KAMU SEDANG MEMBACA
Granada [TERBIT]
Romance[Spiritual-Romance] Sebuah janji masa kecil yang mempertemukan kedua Insan sebagai seorang Dosen dan Mahasiswa. Profesor Muda berdarah Spanyol bernama Faqeeh Musthofa Alvaro kembali bertemu dengan gadis berdarah Indo-Arab, Asheera Haba Adzkiyah yang...
![Granada [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/196681134-64-k883485.jpg)