17 Back to Allah

242 18 0
                                        

"Senja itu seperti dirimu, Haba. Indah dipandang namun sulit untuk saya raih. Karena setiap kali saya raih, kau senantiasa pergi meninggalkan saya."

@Faqeeh Musthofa Alvaro

❤❤❤

Hari demi hari telah berlalu. Haba menjalani kehidupannya di waktu-waktu terakhir berada di Granada. Berjalan-jalan tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya dengan segala keberanian yang dia miliki. Kini, dia sudah tidak merasa takut lagi.

Pasrah? Bukanlah kata yang tertulis dalam kamusnya. Hanya saja rasa sakit yang masih dia rasakan sampai saat ini, melebihi rasa takutnya untuk keluar dari tempat tinggalnya. Ingin rasanya dia melepaskan segala beban dan rasa sakit yang telah tertancap di dadanya.

Mungkin ini adalah waktu terakhirnya berada di tempat dimana dia kembali merasakan debaran yang tercipta saat dia masih berumur 8 tahun kepada lelaki yang berbeda dari sebelumnya.

Mungkin dan mungkin dia tidak akan kembali lagi ke tempat ini. Entah mungkin rasa cinta ini, telah berubah menjadi benci yang semakin ku pendam di Kota ini. Lebih baik pergi, daripada terus-menerus memendam.

Lagi pula Haba telah menyelesaikan penelitiannya, tinggal menunggu waktu dua minggu untuk pergi ke tempat yang telah dia rencanakan. Niatnya untuk pergi tanpa pamit kepada Crishtian, Ashura, Faqeeh atau bahkan semua orang akan tetap dia jalankan.

Biarlah aku yang membawa segalanya pergi dari kota ini, baik kebahagiaanku bertemu dengannya hingga dia mampu menciptakan debaran di dadaku, maupun rasa sakit yang telah dia tanam. Sampai saat ini, aku masih menanti kedatangannya untuk menjelaskan segalanya kepadaku. Namun, aku menyadari semuanya. Untuk apa dia menjelaskannya padaku, sedangkan aku bukan siapa-siapa baginya. Terdengar sangat lucu bagiku, Batin Haba yang saat ini dia sedang berjalan menyusuri kota Granada yang begitu indah.

Tiba-tiba terdengar suara pria yang baginya sangat familiar di telinganya dan memanggil namanya.

"Haba." panggil pria itu.

"Aduuuuhh, haba. Kamu kenapa sih? Kok sering banget halusinasi.
Halusinasi suara dia lagi. Aku ini kayaknya pengen dirukyah yah. Huft." omel dan gerutu Haba kepada dirinya sendiri sambil menampar pelan pipinya.

"Sini biar saya yang rukyah." ucap pria yang membuat hatinya berdesir sekaligus dosennya itu sambil tertawa melihat tingkah Haba yang baginya terlihat kocak. Sontak membuat Haba terkejut dan sangat malu.

"Ooooo. Jadi selama ini kamu sering berhalusinasi tentang saya?" tanya Faqeeh yang sangat percaya diri dan membuat Haba memanyunkan bibirnya.

"Idiiiihhh, dasar Ge-er." ucap Haba tanpa menoleh ke arah Faqeeh.

"Tingkahmu yang membuat saya tiap hari menjadi orang yang paling ge-er dalam hidupmu. Tingkahmu yang sulit saya baca yang membuat saya berpikiran tiap hari kau sedang memikirkan saya." jelas Faqeeh yang kemudian bertanya,

"Apakah saya salah, Haba?" pertanyaan itu yang membuat Haba yang semula tidak ingin memandang wajah pria itu, sontak menoleh ke arahnya kemudian tersenyum.

"Mungkin awalnya memang benar. Namun, setelah aku mulai berpikir jernih, ternyata pernyataan itu salah. Buat apa saya menghabiskan waktu saya hanya untuk memikirkan Anda, Tuan Alvaro. Bagi saya itu tidak ada gunanya. Kalo begitu saya pamit. Assalamu'alaikum." jawab Haba dengan nada yang dingin, lembut, dan bahkan menggunakan bahasa yang sangat formal.

Yang lebih menyakitkan bagi Faqeeh ketika dia di panggil dengan sapaan Tuan Alvaro. Rasanya bagi Haba, dirinya sangatlah asing dalam hidupnya. Faqeeh tidak sempat menjelaskan segalanya, namun Haba kini telah berada di dalam taksi yang kemudian semakin menjauh.

Granada [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang