"Sebelum saya dan dirimu lahir dimuka bumi ini, Allah telah menakdirkan perjumpaan kita yang begitu unik dan menjadikanku sebagai perisai untukmu."
@Asheera Haba Adzkiyah
❤❤❤
Sudah seminggu aku menyesuaikan diri disini. Jalan-jalan, belanja kebutuhan rumah, dan belajar. Tapi hari ini adalah hari pertama masuk kuliah di Universitas Granada. Aku, Shura, Crish, dan dosen pembimbing kami bergegas berangkat ke tempat itu.
Aku merasa deg-deg-an karena ini adalah pengalaman pertamaku berbaur dengan mahasiswa luar. So, aku harus terus-menerus berbahasa Inggris. Aku pikir, tidak ada salahnya juga untuk berbahasa Inggris tiap hari. Malah itu lebih bagus karena meningkatkan kemampuan speakingku dan aku tidak akan lupa dengan kosa kata yang bisa dikatakan sudah tersusun rapi di otakku.
Apalagi kalau masalah nerveous, aku adalah ahlinya. Yahh, aku bisa memaklumi diriku sendiri. Aku itu orangnya pemalu dan bahkan dari segi umurku juga, aku terlalu cepat menempuh pendidikan, karena sesuatu hal yang masih aku simpan sedalam-dalamnya dan mungkin diantara kami bertiga, aku yang paling muda.
Aku masih berdiri mematung di depan pintu gerbang Universitas, mengatur napas, dan berusaha menghilangkan rasa gugup. Sedangkan, yang lain sudah lebih dulu masuk tanpa mereka sadari aku masih berada di pintu gerbang.
"Excuse me Miss Cute." sapa seseorang lelaki dibelakangku dan rasanya sangat dekat dengan telingaku yang membuatku terperanjat kaget dan sontak membuatku menoleh.
"Astaghfirullah, kagetnya diriku Yaa Allah. Dasar ngagetin aku aja. Kirain penjahat atau pria cabul yang mencoba menggodaku. Tapi Aku harus berhati-hati. Siapa tahu beneran." lirihku dengan nada yang sentimen. Jangan lupa tatapan jengkelku kepada lelaki itu dan tak sengaja ia dengar sehingga membuat dirinya tersenyum bahkan dia seperti menahan tawanya.
"Ada apa Nona? kenapa masih berdiri disini? Tidak mau masuk? Tenang Nona, saya tidak akan menggodamu." kata lelaki itu dengan tawanya yang tidak mampu ia tahan dan sontak membuatku kaget tingkat dewa hingga membuat mataku terbelalak saking kagetnya diriku.
Waduuuuhhh, Yaa Allah malunya aku. Dia ternyata mengerti bahasa Indonesia. Aduuuuhh, pengen lari aja tapi nanti ketahuan banget kalo aku sangat malu karena kejadian ini, batinku.
Wajahku mulai memanas hingga membuat semburat merah di pipiku kembali menari-nari.
"Maafkan saya Tuan karena kata-kata saya yang kurang sopan." ucapku sambil membungkukkan badan ke arahnya. Setelah itu aku mengipas-ngipas wajahku yang terasa panah karena malu.
"Hmm. Kok tempat ini jadi panas yahh." gumamku yang mungkin terdengar olehnya sehingga aku melihatnya tersenyum sembari menatapku.
"Iyaa tidak apa-apa. Saya juga minta maaf karna sudah membuatmu terkejut dan iseng sama kamu. Tapi sumpah, tadi kamu lucu sekali." balasnya yang masih tertawa karena kejadian tadi yang kemudian membuatku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Mendengar gaya bicaranya itu membuatku ingin tertawa. Kaku, lugu, baku amat. Pengen bercanda, tapi nggak lucu. Lucunya hanya karena cara bicaranya yang aneh. Makanya aku pengen ketawa.
"Kamu sudah lupa sama saya?" sambungnya yang kemudian membuatku berpikir keras mengingat wajahnya sambil menyimak wajah yang ada di depanku.
"Tuan kan, tuan dosen yang kemarin di Indonesia yah? Mr. Faqeeh? Iyaakan?" tanyaku yang bertubi-tubi membuat Mr. Faqeeh tertawa, "Iyaa, Nona" jawabnya.
"Katanya nggak tau bahasa Indonesia, tapi nyata-nyatanya tau. Tukang bohong." ucapku dengan nada yang kesal. Entah kenapa aku langsung akrab dengannya. Kayak sudah kenal lama.
"Saya tau sedikit bahasa Indonesia tapi terlalu formal dan terdengar aneh kan? Lagian saya pernah tinggal di Indonesia 3 tahun saat saya masih Junior High School. Maklumlah, saya kan asli Spanyol. Hanya saja saat itu saya dititip di bibi di Indonesia karena kedua orang tua saya pergi ke Kairo untuk mengurus bisnisnya disana selama 3 tahun." jelas dosen yang bernama Mr. Faqeeh itu.
"Maafkan saya, Nona Haba." sambungnya sambil tersenyum padaku hingga membuat pipiku merah bagaikan kepiting rebus.
"Yasudahlah, Pak. Temenin saya masuk yah. Saya gugup banget nih." ucapku yang mengalihkan perhatiannya agar tidak memperhatikan wajahku yang sudah memanas.
"Baiklah, ikut saya. Saya akan membantumu mencari kedua temanmu dan dosenmu itu." kata dosen muda itu.
Kami pun berjalan-jalan mencari mereka yang tidak menyadari keberadaanku yang tidak ada disisi mereka sambil berbincang-bincang.
Selang beberapa waktu, Si Ashura yang bawel melihatku bersama Mr. Faqeeh dan menghampiriku yang diikuti oleh Crish dan Mr. Syamsul si dosen pembimbing kami yang killer tetapi beberapa hari ini beliau sedikit baik pada kami bahkan beliau sekarang menjadi dosen yang so funny.
"Yaa Allah, Habaaaa, kamu kemana aja sih? Kirain kamu udah hilang. Saya udah hampir jantungan pas tau kamu nggak ada ikut di belakang. Ternyata kamu sama Mr. Faqeeh. Untung yaa Gusti, saya tidak jadi dibunuh sama Abinya. Tau nggak? Abi kamu berpesan kepada saya, kalo kamu ilang, saya bakal dibunuh." ucapnya yang panjang lebar dan sontak membuat kami semua tertawa dan Mr. Syamsul pun ikut tertawa. Tapi ada yang beda dengan Crish dari tadi wajahnya terlihat muram. Mungkin hanya perasaanku saja.
"Ehhh, tunggu dulu, kok kamu bisa ketemu dan sama si Mr. Faqeeh ini? Jangan-jangan kalian jodoh." ejek Shura yang membuatku malu dengan perkataannya.
Sejak kapan perasaan malu ini ada jika diejekin masalah jodoh sama Ashura? Aduuuuhhh, penyakit Ashura kambuh lagi nih, batinku.
Aku hanya diam tertunduk. Jangan sampai semua orang tahu dan melihat wajahku yang sudah memanas kalau aku sedang malu. Sedangkan, Mr. Faqeeh hanya tersenyum ramah.
"Udah, udah, kita balik ke kelas aja." ucap Crish dengan nada datarnya mengalihkan pembicaraan.
"Bilang aja kalo cemburu." lirih Ashura yang terdengar oleh Crish.
"Bodo' amat." jawabnya singkat hingga membuat Ashura merasa menang.
Aku heran, mengapa mereka sering banget ribut kayak kucing sama tikus? Tapi kalau boleh jujur mereka terlihat sangat cocok. Jadi gemas sendiri melihat mereka berdua. Tapi anehnya juga, Mengapa Crish tidak suka aja sama Ashura, malah bilang I Love You nya ke Aku lagi? Benar-benar yah, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan, pasti salah seorang diantaranya bakal tersakiti. Jadi tinggal memilih saja.
Pilih cinta yang didasari keegoisan, seperti halnya memaksakan seseorang untuk kita miliki tetapi orang itu nggak cinta, atau memilih cinta yang didasari keikhlasan, seperti halnya merelakan seseorang yang kita cinta bersatu dengan orang lain. Tapi pada saat itu pula kita bakal diajar menjadi seorang yang munafik.
Katanya bakal bahagia kalau lihat dia juga bahagia. Padahal kan, kita membohongi diri sendiri dan hati kita bahwa itu sungguh menyakitkan. Intinya, terlihat serba salah antara pilihan pertama dan kedua. Oleh karena itu, aku takut terlibat cinta dengan umurku yang masih labil ini.
Terkadang telingaku juga udah panas mendengar ocehan orang yang mengatakan bahwa aku itu orang yang gila belajar dan tidak memiliki hati untuk jatuh cinta. Bukannya aku nggak punya hati, aku juga punya rasa cinta kok. Tapi kan bukan saatnya, seperti cinta yang mereka aplikasikan ke dalam pacaran. Aku nggak mau aja kayak gitu. Aku hanya ingin pacaran setelah aku telah halal bersama dia yang saat ini masih berstatus orang lain yaitu dia sang jodoh.
Sudahlah, jangan bahas hal yang seperti itu dulu. Tuntutlah ilmu, maka akan datang seseorang yang berilmu pula. Tuntutlah ilmu Agama, maka akan datang seseorang yang ahli agama.
🛬🛬🛬
"Granada"
Asheera Haba Adzkiyah
KAMU SEDANG MEMBACA
Granada [TERBIT]
Romance[Spiritual-Romance] Sebuah janji masa kecil yang mempertemukan kedua Insan sebagai seorang Dosen dan Mahasiswa. Profesor Muda berdarah Spanyol bernama Faqeeh Musthofa Alvaro kembali bertemu dengan gadis berdarah Indo-Arab, Asheera Haba Adzkiyah yang...
![Granada [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/196681134-64-k883485.jpg)