24 The Beauty of Her Eyes

272 19 0
                                        

"Terlihat dari keindahan alam semesta yang kemudian merangkak menuju keindahan matanya dan kemudian terpaut saling menatap lalu membuat hati ini berdesir hingga menjalar ke seluruh tubuh. Keindahan yang Sang Pencipta berikan kepada setiap insan pemilik hati."

@Faqeeh Musthofa Alvaro

❤❤❤

Pria itu kembali menuruni bus lalu menyusuri kota Istanbul yang udaranya masih sangat dingin. Melewati setiap koridor toko yang terlihat masih sebagian yang sudah membuka pintu-pintu tokonya. Mungkin hanya beberapa orang yang tahu bahwa banyak rejeki yang datang saat dini hari.

Meskipun sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Pria itu melakukan hal yang merupakan hobinya sejak dulu dan sudah lama dia tidak melakukannya lagi. Seperti yang pria ini katakan, ini hanyalah sebuah hobi.

Namun, bisa dikatakan sebuah bakat karena hasil dari pemotretannya sungguh Indah. Bahkan waktu kelulusannya yang meskipun menjadi wisudawan terbaik, masih banyak temannya yang meminta untuk dipotret oleh Faqeeh bukan meminta untuk sama-sama berpose lalu dipotret oleh orang lain. Bakatnya yang menjadikan dirinya seperti seorang fotografer.

Berjalan menyusuri lorong-lorong kota Istanbul tanpa rasa takut akan tersesat. Bagi Faqeeh, perjalanan yang seperti itu sudah biasa karena kita tidak akan pernah menemukan sebuah keindahan tanpa tersesat terlebih dahulu. Mungkin ada, namun hanya sebagian kecil darinya.

Setiap langkah, pria itu senantiasa menikmati keindahan yang Allah ciptakan dan anugerahkan di kota Istanbul. Seperti halnya Granada. Mungkin karena sudah lama berada di kota itu, sehingga terkadang rasa bosan melanda hatinya ketika melihat pemandangan yang hampir tiap hari dia lihat dan Inilah pertama kalinya dia datang ke Turki.

Tanpa banyak bicara pun, dengan spontan akan memuji kebesaran Allah yang menciptakan keindahan yang ada di depan matanya.

Akhirnya, pria itu tiba di tempat yang pemandangannya sungguh sangat memikat. Tidak heran karena setiap perjalanan menuju tempat itu, banyak pemandangan yang membuat Faqeeh tidak henti-hentinya memuji kebesaran Allah. Ternyata di depan ada yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Tanpa aba-aba, Faqeeh kemudian mengambil gambar dari sudut yang baginya terlihat indah.

Tanpa disadari, seorang gadis berjilbab yang memiliki mata yang indah ikut masuk dalam foto itu. Wajahnya tidak terlihat jelas karena sebagian wajahnya tertutupi oleh syal bulu berwarna pink dengan jilbab hitam yang menutupi kepalanya, hanya saja sedikit pipinya yang terlihat merah merona mungkin karena cuaca yang sangat dingin. Faqeeh awalnya acuh pada gadis itu. Namun mata indah itu tidak asing lagi bagi Faqeeh.

Apakah ada yang salah? Hatiku berdebar tak karuan lagi, batin Faqeeh yang terus-menerus bergemuruh.

***

Keesokan harinya, Faqeeh kembali ke tempat itu memastikan apakah gadis itu setiap hari mengunjungi dan memandangi keindahan yang tidak berbeda jauh di Granada. Hampir setiap hari Faqeeh datang ke tempat itu. Namun, disuatu ketika ada seorang wanita paruh baya memanggilnya dan membuat Faqeeh terkejut.

"Ms. Haba, What are you doing?"

Ha.. Haba? Itu benar-benar Haba? Pantas saja, hatiku kemarin berdebar tak karuan memandang matanya yang tiap hari terlihat sendu. Yaa Allah, hamba telah menemukannya, batin Faqeeh.

Namun, dia hanya memandanginya dari jauh. Faqeeh menahan dirinya untuk tidak bergerak ke arah gadis itu. Dia takut jika Haba pergi lagi. Cukup memandanginya dari tempat Faqeeh berdiri, baginya sudah cukup untuk mengobati rasa rindu yang belum pantas untuknya.

Saya harus membuat sebuah rencana agar dia bisa kembali ke Granada, batin Faqeeh.

Tiba-tiba terbesit sebuah rencana untuk memastikan apakah itu benar-benar Haba atau tidak.

Saya harus melakukan sebuah penyamaran, batin Faqeeh yang kemudian menyamar sebagai seorang badut dengan meminjam pakaian yang menyerupai badut.

"Permisi Nona. Apakah Anda mengerti dengan bahasa saya?"

"Iyaa, saya mengerti. Saya orang Indonesia." jawab Haba kegirangan karena ada orang yang paham dengan bahasanya. So, dia tidak perlu untuk terus menerus berbahasa Inggris.

"Wow, nama Anda siapa Nona?"

"Haba, Asheera Haba Adzkiyah." jawab Haba yang membuat Faqeeh begitu senang. Ternyata gadis yang tiap hari menutupi wajahnya dan berdiri tepat di depan Saya adalah gadis yang selama ini Saya cari, batin Faqeeh. Tanpa sadar Faqeeh meneteskan air mata.

"Nama yang sangat Indah. Haba yang artinya Cinta." kata Faqeeh lalu dibalas dengan sebuah anggukan oleh Haba.

"Oiyaa Nona, Jika boleh saya tahu apa yang Anda lakukan tiap hari disini.? Saya sering melihat Anda memandangi matahari mulai dari pagi hari hingga sore hari saat terbenam matahari.?" tanya Faqeeh panjang lebar.

Dia tersenyum. "Saya merindukan Granada. Saya merindukan seseorang disana. Kau tau? Saya sudah menyakitinya. Disaat dia menikmati keindahan langit di sore hari, Saya justru melontarkan kata yang kejam padanya. Saya sungguh menyesalinya. Saya belum bisa melupakannya." jawab Haba yang meneteskan air matanya.

Hal itu membuat Faqeeh merasa sesak. Ingin rasanya dia mengatakan sesuatu hal yang bisa menenangkan hatinya.

"Pria itu juga sudah pasti merindukan Nona. Dia pasti senantiasa mencari cara untuk menemukan Nona. Percayalah." ucap Faqeeh menenangkan lalu Haba pun kembali tersenyum.

"Oiya, saya minta maaf Nona karena menanyakan hal tersebut. Saya benar-benar tidak.."

"Iyaa tidak apa-apa." jawab Haba sambil tersenyum.

Aku benci dengan senyumanmu itu, Haba. Berhentilah tersenyum, batin Faqeeh.

***

Faqeeh POV :

Maafkanlah saya Haba karena telah membangkitkan kesalahpahaman ini.

Izinkanlah saya menjelaskan segalanya dan memperbaiki kesalahan saya.

Allah saja mampu memaafkan kesalahan Hamba-Nya sebesar apa pun itu dan tetap membuka lebar pintu taubatnya.

Sedangkan kita? Hanyalah seorang Hamba Haba.

So, Maafkanlah diri ini. Ku mohon kembalilah ke Granada. Aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting bagiku.

Hanya beberapa pesan yang Saya kirimkan padanya. Saya harus membuatnya kembali ke Granada dan kemudian melamarnya. Ayah dan Ibu selalu menanyakan rencana saya untuk memilih gadis pilihan saya. Jika Haba menolak saya, hal itu berarti saya harus ikhlas menerima segala keputusannya. Saya tidak akan kembali memperjuangkannya setelah semuanya sudah jelas.

Tiba-tiba handphone saya berbunyi dan muncul notifikasi pesan baru. Pesan baru dari Haba.

Assalamu'alaikum, saya akan memikirkannya terlebih dahulu yah Pak dan meminta izin kepada Umii dan Abii. Kalau beliau menyetujuinya, saya akan segera berangkat ke Granada menemui Bapak.

Saya merasa bersyukur karena Haba sudah mulai kembali dan ingin menemuiku. Meskipun, hal itu merupakan permintaanku.

Wa'alaikumsalam. Baiklah Haba. Semoga kamu kembali lagi kesini untuk menemui saya.

Iyaa Pak. Sampai berjumpa lagi. Assalamu'alaikum.

Wa'alaikumsalam Haba.

Saya bersyukur jika Haba sudah kembali seperti ini lagi. Mungkin akan sulit untuk kembali seperti awal Ketika kami pertama kali bertemu di Granada. Namun, tinggal menunggu waktu itu datang. Dimana akan kembali seperti sedia kala.

Pak Faqeeh, aku menyadari kekeliruan terhadap perasaanku Sendiri. Aku menyadari bahwabhatiku masih tetap sama. Sama seperti sedia kala.

🛬🛬🛬

"Granada"

Asheera Haba Adzkiyah

Granada [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang