26 As'aluka Billah

284 21 0
                                        

"Awalnya, semua orang melihat Saya seperti mayat berjalan. Seperti itulah saya tanpa dirimu, Haba."

@Faqeeh Musthofa Alvaro

❤❤❤

Haba POV :

Malam yang ditunggu pun akhirnya tiba. Hitungan mundurku akhirnya telah berakhir. Untuk apa pria itu menyuruhku mengunjungi tempat yang begitu indah ini.

Apa sebenarnya rencanannya? Taman yang indah. Perasaanku menjadi tidak karuan. Hatiku berdebar sangat kencang. Sebuah pertanda yang lain akan terjadi. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong yang telah dihiasai oleh bunga yang bermekaran menuju tempat yang gelap di depan sana. Saat aku telah tiba di tempat yang kurang bercahaya itu.

Tiba-tiba di depan mataku, terpancar sebuah cahaya yang sangat bersinar dan menyilaukan mata hingga sontak membuat tanganku reflek menghalangi cahaya yang mengenai mataku.

Aku memandang layar itu sekilas dan aku menatapnya seolah tak percaya bahwa itu adalah gambar diriku dahulu ketika berada di taman.

Kenapa Fotoku terpampang di layar itu? Siapa yang melakukannya? Pak Faqeeh? Ku rasa nggak mungkin.
Dari mana coba dia mengambil gambarku ketika masih kecil. Atau mungkin Kak Alva? Tapi bagaimana mungkin dia berada disini dan mengetahuiku. Apa lagi sih rencana pria itu? batinku yang masih dalam keadaan tanda tanya dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kembali aku mendengar suara lembut dan merdu milik Pak Faqeeh beriringan dengan penayangan sebuah video di layar lebar itu. Video yang berisi gambar diriku ketika berjalan menuju taman yang berada di sebelah rumah Kak Alva.

Berdasarkan pengambilan gambarnya, posisi yang mengambil gambarku itu berada di rumah Kak Alva. Bisa jadi Kak Alva bersaudara atau memiliki hubungan keluarga dengan Pak Faqeeh? Atau mungkin.. Pak Faqeeh itu adalah Kak Alva? Ahh, Nggak mungkin.

Assalamu'alaikum Haba.. Bagaimana perasaanmu ketika melihat tayangan ini? Telah Lama Saya merencanakan semua ini. Sejak awal mata indahmu bertemu dengan sebuah tatapan mata yang terkesan dingin, hingga saat dimana kesalahpahaman ini hadir diantara kita. Mungkin kau akan sedikit terkejut. Bukan sedikit, tetapi mungkin sangat terkejut melihat gambar dirimu yang ditayangkan oleh seorang Pria yang tiap harinya selalu kau panggil dengan panggilan yang begitu sopan, seperti Pak Faqeeh. Terus terang, Saya tidak suka dengan caramu memanggil Saya karena Saya pun harus berusaha lebih formal dan Saya lebih suka jika kau memanggil saya, Kak Alva.

Aku menatap seolah tak percaya. Ternyata selama ini dia adalah Pak Alva. Lelaki yang dahulu mengatakan sebuah janji padaku.

Kau ingat awal pertemuan kita dimana? Awal pertemuan kita, ketika ada seorang anak yang terkapar lemah di dalam sebuah gudang akibat terkena alergi. Disitulah pertemuan awal kita. Bintik-bintik akibat memakan seafood menghiasi tubuh mungilmu. Kau mungkin tidak mengingatnya. Saat itu kau berbicara pada Saya ketika kau telah sadar dari tidurmu dan mengatakan, Kakak, nanti jadi doktel yahh supaya nanti bisa nolongin banyak olang atau setidaknya jadi gulu-gulu dali doktel. Katamu yang begitu lugu dan kelu akibat lidahmu saat itu yang terkena alergi. Sehingga, saya mewujudkan apa yang kau katakan itu dan menjadi seorang dosen sekaligus dokter karena dirimu. Berlanjut sebuah impian yang kau katakan ketika berada di sebuah taman di samping tempat kediaman saya. Namun, ketika kita bertemu kedua kalinya, kau sudah tidak mengenali saya. Impian yang terikat dengan sebuah janji yang saya ucapkan, terus menerus Saya genggam hingga saatnya tiba saya akan menepatinya. Kemudian, kita kembali dipisahkan oleh sebuah takdir dimana saya harus mengejar sebuah impian awal di Mesir yang kau katakan ketika umurmu masih 5 tahun dan menepati keinginan Ayah dan Ibuku menjadi seorang Hafidz.

Kemudian, takdir kembali mempertemukan kita di Indonesia sebagai seorang dosen dan mahasiswa. Saya begitu heran dengan seorang gadis bernama Haba yang cerdas namun tak mampu mengenali wajah seseorang yang pernah ia temui dimasa kecilnya. Padahal, saya sempat mengatakan sebuah nama panggilan yang mungkin sangat familiar di telinganya. Namun, gadis itu tidak menggubrisnya sama sekali. Saya berusaha mencoba memancing ingatanmu tentang saya. Tetapi, segalanya sia-sia. Sehingga saya memilih cara seperti ini untuk mengatasi kesalahpahaman yang kemarin.

Sekian lama saya mencarimu, berusaha untuk bertemu kembali denganmu dan akhirnya saya berhasil menemukanmu. Menjagamu ketika berada di Eropa masih Saya ingat hingga saat ini. Kita kembali bertemu di Eropa dan diam-diam menjagamu yang akhirnya saya berhasil menepati janji saya. Banyak janji yang ingin saya tepati.

Rasanya ini sebuah kejutan bagiku yang benar-benar sulit untukku percaya. Tiba-tiba, muncul gambar diriku ketika berada di Turki dan membuatku bertambah kaget dan bingung.

Selama dua bulan kau meninggalkan Granada dan pergi. Hal itu membuat saya sangat khawatir karena tujuanmu bukan kembali ke Indonesia, tetapi pergi ke Negara asing.

Selama dua bulan ini, Saya mencari keberadaanmu. Hingga kemudian, Saya tiap hari mencoba untuk ikhlas namun sulit Untuk saya lakukan. Kau lihat keadaan saya ketika kau pergi tidak jelas selama dua bulan ini? Awalnya, semua orang melihat Saya seperti mayat berjalan. Seperti itulah saya tanpa dirimu, Haba.

Hingga kemudian takdir berulang kali mempertemukan kita di negara yang Indah dan tiap hari bersama menikmati keindah Sunrise dan Sunset. Allah menggerakkan hati ini untuk melangkah mencarimu di sebuah tempat yang tidak pernah terlintas di pikiran saya. Saya melihatmu hingga membuat mataku memanas dan Saya benar-benar bersyukur hingga dengan sombongnya air mataku menetes. Badut yang menghampirimu kemarin, itu adalah pria yang sampai saat ini namanya masih ada dalam hatimu.

Haba, dengarkan saya baik-baik. Dengarkan apa yang saya ucapkan.

Sedari tadi aku terus menerus mendengarkan ucapan pria itu. Takdir ini memang kadang sangat menyakitkan. Mendengar keseluruhannya, mataku mulai memanas. Mataku mulai berkaca-kaca. Rencana apalagi yang akan Engkau perlihatkan padaku, Yaa Allah?

Haba, Uhibbuki. Tolong, Bantulah saya untuk menepati janjiku yang terakhir ini.

Haba, As'aluka Billah, Will you Marry me?

🛬🛬🛬

"Granada"

Asheera Haba Adzkiyah

Granada [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang