22 Where are You Now, Haba?

251 20 0
                                        

"Yaa Allah, jika diri ini sudah tidak pantas lagi, maka hilangkanlah perasaan yang bisa membutakan mata hatiku sehingga diri ini tidak akan pernah berhenti untuk melihat kenikmatan Cinta yang terus menerus Engkau berikan kepada Hamba. Biarlah Hamba kembali kepada Engkau, Dzat yang Maha Pemilik Hati."

@Faqeeh Musthofa Alvaro

❤❤❤

Faqeeh POV :

Kemarin, Saya telah mencari Haba di segala tempat di Granada. Bahkan, saya telah menyuruh orang untuk memeriksa segala data penerbangan terakhir. Namun, hasilnya nihil.

Saya sungguh tidak paham dengan jalan pikiran anak itu. Dia ingin menjauh dari saya? Itu hal yang tidak mungkin. Saya tidak ingin menikah dengan gadis pilihan Ibu dan Ayahku.

Sejak kemarin, saya terus menerus menghubunginya hingga saat ini, namun dia tetap saja tidak mengangkat teleponku. Ashura dan Crishtian pun meneleponnya, namun tetap saja hasilnya nihil. Tetap tidak dia angkat.

Kemarin, Crishtian menghubungi Uminya Haba. Namun, beliau pun tidak tahu keberadaan Haba. Hanya saja beliau tidak begitu panik karena kepercayaan yang dia berikan pada putrinya dan Haba berkata ingin menenangkan diri sambil menyusun skripsinya yang kemudian Crishtian dan Ashura pun menjadi lebih tenang.

Berbeda dengan saya yang sampai saat ini saya tetap tidak bisa tenang. Saya khawatir dia akan melupakanku karena saya berpikir bahwa dia ingin menenangkan diri dan sekaligus melupakanku. Saya tidak ingin hal itu sampai terjadi. Saya memang bodoh sampai tidak menyadari perasaannya dan membuatnya salah paham.

Andaikan saat itu, saya langsung melamarnya tanpa ini dan itu, pasti tidak akan terjadi hal yang seperti itu. Ahhh, saya sangat frustasi.

Saya sudah mencoba menanyakan kepergiannya pada Pak Syamsul, namun beliau pun tetap tidak tahu karena Haba hanya meminta izin padanya untuk pergi menyusun skripsinya dan katanya sudah mempunyai izin dari kedua orangtuanya sehingga Pak Syamsul pun mengizinkannya untuk pergi.

Tetapi, pergi untuk menyusun skripsi haruskah pergi diam-diam tanpa izin? Saya tahu saya bukan siapa-siapa baginya. Meskipun seperti itu, setidaknya jangan membuat semua orang panik. Ada Ashura dan Crishtian di rumah itu, tetapi dia juga tidak meminta izin padanya. Sebenarnya, apa sih maunya, anak itu? Hobi sekali dia membuat saya seperti ini.

Assalamu'alaikum Haba.

Bagaimana kabarmu? Are You Oke, right?

Please, angkat telepon saya atau setidaknya balas pesan saya.

Haba, kamu kemana? Saya ingin menjelaskan segala hal dari awal. Saya ingin kamu tahu yang sebenarnya. Setelah itu jika kamu ingin pergi, silahkan. Saya mohon, Jangan pergi membawa segala kesalahpahaman ini, Haba. Come On. Angkat telepon saya.

Saya mohon, Haba. Saya minta maaf jika saya telah menyakiti hatimu.

Jangan pergi seperti ini. Ayolah.

Haba. Jangan membuat saya memohon terus menerus seperti ini.

Come On, Haba. Maafkan saya.

I'm Sorry, Haba.

Please, Listen to me. I wanna say something.

Asheera Haba Adzkiyah, come on.

Tak lama kemudian, aku sudah merasa putus asa menahan segala gejolak yang ada di hatiku yang senantiasa menggangguku. Aku harus mengatakannya.

Uhibbuki, Asheera Haba Adzkiyah.

Granada [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang