44. Menyesal

43K 2.4K 146
                                        

Sunyi.

Hampa.

Hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali, vital sign monitar menjadi suara satu-satunya yang mereka harap akan terus mengeluarkan suaranya dengan semestinya, menemani mereka dengan sebuah pengharapan, harapan jika orang yang paling mereka sayang akan bangun suatu saat nanti, entah hari ini, esok, lusa, atau bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak ada yang tahu bukan? Hidup seseorang sudah tertulis sebelum dilahirkan.

Mereka terdiam dengan pikiran yang rumit, semua yang terjadi seperti sebuah mimpi buruk. Mereka harap ini semua hanyalah mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi.

Tapi... Sebuah harapan tetaplah harapan. Mereka tidak bisa menyangkalnya, tidak bisa menolak atas apa yang telah terjadi pada Aileen. Mereka hanya bisa pasrah dan terus mendoakannya.

Setelah dokter memeriksa Delio, ia hanya luka pada bagian kepala yang tidak terlalu parah dan luka di lengan yang mencoba melindungi Aileen. Namun keadaan Aileen sebaliknya, dokter mangatakan bahwa Aileen koma, kepalanya terbentur dengan keras pada pinggiran trotoar. Tentu saja berita itu membuat mereka semua lemas seketika, pernafasan mereka tercekat, dada mereka sakit. Kenapa semuanya harus terjadi?

Aksa yang biasanya selalu berisik dan tidak bisa diam, sekarang yang dia lakukan hanya duduk, melamun menatap Aileen. Biasanya Aileen dan Rea akan menjahili Aksa, bertengkar dua lawan satu, yang tentu saja para gadis yang akan menang. Selalu memperebutkan hal yang tidak seharusnya direbutkan. Saling beradu argumen namun diakhiri dengan kata maaf.

'Kakak kangen kamu Leen' Aksa meneteskan kembali air matanya. Ia tak mampu mengeluarkan isi hatinya, ia hanya bisa menitikan air mata sebagai rangkaian kata yang tidak bisa ia ungkapkan, rasa sakit melihat adiknya terlalu menyakitinya.

Suara pintu terbuka membuat mereka mengalihkan atensinya.

Delio. Lelaki itu datang dengan dahi, sikut, dan tangan yang di perban. Arsen juga ada dibelakang Delio, ia selalu menemani Delio.

"Gimana keadaan Aileen???" Pertanyaan yang dilontarkan Delio membuat mereka semua diam membisu. Rasanya hanya untuk menceritakannya saja membuat mereka sakit hati.

Yang ada di dalam ruangan hanya para cucu Adhitama, dan mereka semua diam membisu, Aksa juga hanya menatap dalam Aileen yang terbaring membuat Delio merasakan perasaan khawatir. Arsen juga makin penasaran dengan sikap Aksa yang diam, tidak menjawab pertanyaan sama sekali.

"Aksa..." Arsen menghampiri Aksa, membuat Aksa mau tak mau menatap teman-temannya. Hanya menatap, bibirnya terlalu kelu dan hatinya tidak ikhlas jika mengatakan bahwa Ailennya koma.

"Kak... Aileen gapapa kan?" Delio bertanya pada mereka yang hanya diam saling tatap.

"Koma" Satu kata yang keluar dari mulut Aksa membuat Delio dan Arsen menatapnya.

Namun membuat Aladri berdiri dari duduknya dan langsung keluar dari ruangan meninggalkan mereka semua. Aladri tidak sanggup mendengar kata koma untuk kesekian kalinya. Adiknya hanya tidur. Adiknya butuh istirahat yang panjang. Mereka semua manatap punggung Aladri dengan sedih, kakak tertuanya itu pasti sangat merasakan kehilangan.

"Apa?" Delio bertanya untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

"Aileen koma" Pendengaran mereka tidak salah, Aileen memang koma.

"Ini salah gue... Harusnya gue nolong Aileen yang bener" Delio menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi menimpa Aileen.

Arsen memegang pundak Delio, menyalurkan kekuatan dan ketenangan bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja, tidak ada yang ingin seperti ini.

My Possessive Brother's (TELAH TERBIT) (Part Of Possessive)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang