'Complete'
Tidak ada seorangpun yang ingin menjadi dirinya. Selalu menjalani kehidupannya dengan masalah. Dia tidak ingat sama sekali bagaimana masa kecilnya. Entahlah dia tidak yakin itu. Yang terpenting sekarang untuk dirinya adalah sang ibu. Hany...
"Sayang ini Mama, Aileen buka pintunya ya" Zailine membujuk anaknya itu, ia khawatir sedari Aileen meninggalkan meja makan ia tidak pernah keluar dari kamarnya. Zailine terus mengetuk pintu itu, ia harus membujuk anaknya untuk keluar.
Sedangkan di dalam kamar, Aileen tidak bisa di katakan baik-baik saja. Tempat tidur yang berantakan, sprei yang terbuka dan bantal guling yang berserakan di lantai. Entah karena terlalu lama menangis atau karena sebab lainnya Aileen merasa kepalanya sangat pusing sekali.
"Awww" Aileen memegang kepalanya sambil terus mencari posisi yang nyaman agar kepalanya tidak terlalu sakit. Tapi sepertinya tidak berhasil karena ia masih merasa pusing.
Hiks
Aileen menangis dengan suara yang tertahan, dia tidak mau membuat yang lain khawatir khususnya Mamanya dan Aladri. Ia tahu Mama nya ada di depan pintu. Ia harus bangun dan terlihat baik-baik saja.
Perlahan kamar yang tertutup dan terkunci dari pagi itu terbuka perlahan dengan menampilkan muka Aileen yang masih menyisakan jejak air mata, bahkan beberapa anak rambutnya menghalangi wajah cantiknya yang kini masih dalam keadaan merah dan bengkak.
"Aileen kenapa ?" Zailine bertanya dengan berusaha terdengar setenang mungkin.
"Mama" Aileen memeluk Zailine dengan mengeluarkan air matanya lagi.
"Leen kok kamar kamu berantakan banget ?" Tapi sayangnya tidak ada jawaban dari Aileen.
"Aileen kenapa sayang?" Zailine bertanya saat dia mendudukan Aileen di ranjang milik anaknya itu sambil mengelus pelan rambutnya.
"Aileen gak suka sikap Kak Ladri"
"Kak Ladri kaya gitu karena dia khawatir sama kamu, Kak Ladri sayang sama Aileen"
"Aileen gak suka dipaksa Ma"
"Tap-"
"Mama sayangkan sama Aileen?" Aileen memotong perkataan Mama nya itu, bukannya Aileen tidak punya sopan santun, hanya saja Aileen tidak sedang mau membahas Aladri.
"Iyalah Mama sayang banget sama Aileen, kenapa Aileen nanya gitu hmm?"
"Kalo gitu jangan bahas dulu masalah yang tadi ya Ma"
KRIUK
"Aileen laper sayang?" Zailine tersenyum kecil saat mendengar bunyi yang berasal dari anaknya itu.
"Hehe" Aileen hanya bisa tertawa malu, dalam keadaan seperti ini kenapa perutnya malah berbunyi.
"Ayo, Mama bakal masakin makanan yang spesial buat Aileen" Zailin menggandeng tangan anaknya itu.
-----*-*-----
"Aileen laper banget?" Jovanka menggoda Aileen yang sedang makan dengan sedikit terburu-buru.
"Hehe" Aileen hanya tertawa malu, maklum saja seumur hidupnya-ah maksudnya seingatnya dia tidak pernah memakan makanan enak. Bahkan makan daging saja hanya saat awal bulan, saat dimana kebanyakan orang akan menerima gaji mereka.
"Leen soal yang tadi-"
"Ah Mami harus cobain masakan Mama, ini enak loh Mi. Aaaa" Aileen menyuapi Jovanka makanan miliknya, ia tahu Mami nya itu akan membahas masalah yang tadi pagi. Tapi sungguh, Aileen tidak ingin moodnya rusak begitu saja.
Zailine dan Jovanka tersenyum, mereka juga tahu Aileen tidak ingin membahas masalah Aladri, Jovanka juga tidak ingin membuat Aileen merasa tidak nyaman akibat sifat anaknya itu. Jovanka tahu Aladri terlalu menyayangi Aileen melebihi siapapun, memang caranya Aladri saja yang salah. Dia terlalu keras kepala dan pemaksa.
"Ma, Mi temenin Aileen nonton tv yuuu" Aileen mengapit lengan kedua wanita yang dia panggil itu dengan senyum yang mengembang.
Aileen saat ini sedang fokus pada layar yang menampilkan film kartun. Namun kedua wanita itu malah menjadikan Aileen sebagai fokusnya. Zailine terus saja tersenyum, akhirnya dia bisa merasakan menjadi ibu kembali. Aileennya masih sama, dia masih suka melihat film kartun apapun itu. Jovanka juga ikut tersenyum dan bersyukur melihat adik iparnya bisa tersenyum kembali.
"KITA PULANG" Teriakan itu membuat mereka bertiga melihat kearah pintu utama mansion ini.
"Kak Rea, Kak Aksa" Aileen tahu suara siapa itu, setidaknya keberadaan mereka dapat menghibur Aileen.
Tapi sosok yang ada paling belakang diantara mereka membuat Aileen berdiri dan berkata.
TBC
Karena ternyataaa kalian masih setiaaa sama akuuuu, eh maksudnya sama ceritaaa ini meskipun aku kadang lupa buat up karna banyaknyaaa alesan, jadinyaaa insyaallah aku akan up sebisaaa aku dan ngeluangin waktu buat fokus maximal seharian di duniaaa orange ini.
Oh yaaa jangan lupa kritik dan sarannyaaa yaaaa.
Tolong kasih tauuu aku berapa rata-rata suku kata yg author diluaran sana publish untuk 1 part biar aku bisa menyesuaikkan, tapi ga janji loh yaaaa. Karena menurutkuuu 500 kata aja udaah banyak :')
Ah yaaa jangan lupa mampir ke ceritakuuu yang Ayah Dari Muridku, aku ganti judul yg asalnya He is Father of My Student.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.