Hari ini adalah hari minggu, hari dimana saatnya para anggota Adhitama yang selalu sibuk menyempatkan diri untuk saling bercengkrama dan mengetahui kabar masing-masing. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan berkumpul dengan keluarga sendiri, setidaknya sehari dalam seminggu.
Namun saat para cucu Adhitama menelisik berbagai sudut mansion, yang berkumpul hanyalah anggota keluarga yang selalu sibuk. Sedangkan Mami, Mamah, dan anggota keluarga yang masih sekolah tidak terlihat di pandangan mereka.
“Pah, Aileen mana?” Pasalnya ia tidak melihat adik kecilnya itu. Jangankan melihat, mendengar suaranyapun tidak.
“Rea juga gak ada Pah” Keenan ikut bertanya karena adiknya itu juga tidak ada.
“Anak bungsu Papih juga engga ada” Arion ikut memberikan suara, biasanya mansion akan dipenuhi oleh tawa Aksa maupun Rea dan Aileen.
“Aileen sama Rea lagi pergi beli persiapan buat sekolah” Jawab Mahendra.
“Aksa pergi sama temen-temennya, tadi dia udah ijin Papih” Mahaprana ikut menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Arion.
“Kamu gak usah khawatir kaya gitu Dri” Mahendra tahu bahwa anak kakaknya itu khawatir, terlihat dari diri Aladri yang berjalan mondar-mandir di dekat jendela ruang keluarga. Tapi Mahendra tersenyum dibuatnya, keponakannya itu memang sangat menyayangi buah hatinya.
“Mereka semua perempuan Pah” Perkataan Aladri diangguki oleh Keenan dan Arion, mereka semua memang khawatir dengan yang lain.
“Kakekmu itu udah nyuruh beberapa bodyguard jadi kamu tenang aja. Papih tahu kamu khawatir sama Aileen, tapi disana juga ada Mami kamu” Penjelasan dari Mahaprana setidaknya dapat membuat Aladri sedikit bernapas lega.
“Kemarin kakek dapet telepon dari Pak Mario. Sebenernya ada apa?” Adhitama mengalihkan pembicaraan, agar mereka semua tidak cemas karena menunggu para wanita yang sedang asik berbelanja.
“Anaknya nyakitin Aileen” Aladri menjawab seadanya, pertanyaan kakeknya itu seketika membuat Aladri menahan amarah, dia mengepalkan tangannya karena teringat dengan perlakuan anak dari relasi bisnisnya itu.
“Lakuin yang menurut kamu bener” Adhitama percaya bahwa semua cucu nya dapat menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, tergantung bagaimana si pencari masalah bertingkah, ingin dengan cara lembut atau mengerikan. Tapi kedua cara itu sama-sama akan membuat siapa saja sengsara seketika.
-----*-*-----
“Sayang, kamu yakin yang kamu butuhin udah semua?” Zailine bertanya saat mereka sedang berjalan menuju salah satu restaurant yang masih berada dalam kawasan Mall.
“Iya Mah, semua keperluan Aileen udah semua kok. Bahkan Mamah udah beliin Aileen handphone baru, padahal handphone lama Aileen masih bisa digunain”
“Gak apa-apa sayang, itu hadiah dari Papah sama Mamah buat kamu”
“Makasih ya Mah” Zailine hanya tersenyum dan merangkul anak semata wayangnya itu dengan sayang. Ini adalah momen berharga bagi Zailine, karena ini adalah pertama kalinya ia pergi dengan Aileen. Salah satu impiannya tercapai, yaitu membeli dan menemani anaknya itu kebutuhan sekolah yang seharusnya ia rasakan sejak dulu. tapi setidaknya Zailine tetap bersyukur karena setidaknya Tuhan masih berbaik hati mengembalikan permata hatinya.
“Aileen, kamu udah bilang belum sama Kak Ladri kalau kita pergi kesini?” Jovanka bertanya, pasalya anak tertuanya itu baru mengirim pesan padanya dan bertanya kemana mereka pergi mengajak Aileen.
“Mati, Rea juga gak bilang sama Kak Keenan” Rea menepuk jidatnya pelan, kelakuannya itu dilihat oleh Jovanka dan Zailine, tapi mereka hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Brother's (TELAH TERBIT) (Part Of Possessive)
Novela Juvenil'Complete' Tidak ada seorangpun yang ingin menjadi dirinya. Selalu menjalani kehidupannya dengan masalah. Dia tidak ingat sama sekali bagaimana masa kecilnya. Entahlah dia tidak yakin itu. Yang terpenting sekarang untuk dirinya adalah sang ibu. Hany...
