60. Semua Menjauh

39.7K 2.3K 556
                                        

Berbeda dengan keadaan Aileen yang bisa dibilang nyaman di pesawat, keadaan sebaliknya terjadi di mansion keluarga Adhitama. Semua berkumpul tanpa adanya percakapan hangat yang terjadi seperti dulu.

Hening. Tidak layak disebut sebagai keluarga.

Kepala keluarga yang masih terbaring lemah di kamarnya.

Zailine yang juga ikut jatuh sakit saat mendengar Aileen pergi.

Kecanggungan menyelimuti hari-hari mereka.

"Aladri sarapan diluar aja" Aladri berdiri dari duduknya, merapikan jas yang ia kenakan.

"Kemarin kamu sarapan diluar, masa sekarang juga diluar?" Jovanka mencoba untuk menghentikkan Aladri

"Gimana Aladri bisa sarapan dengan tenang?!! Kalo Aladri aja gak tahu adik Aladri udah makan atau belum. Kita gak tahu dia dimana. Lagian Aladri gak mau makan bareng sama mereka. Aladri pergi" Aladri berjalan keluar meninggalkan mereka semua.

"Arion sarapan bareng Kak Ladri aja" Arion berjalan menyusul Aladri.

"Aksa juga berangkat Mih"

"Sa kamu berangkat sama Rea" Mahawira menyuruh Aksa berangkat bersama. Apa Papihnya itu tidak tahu kalau saat ini dia sedang membenci Rea.

"Males Pih. Aksa mau naik motor aja"

"Aksa!"

Aksa tidak memperdulikan panggilan Papihnya, ia terus berjalan melenggang meninggalkan mereka semua dalam keheningan.

Jovanka dan Mahawira sama-sama menghembuskan napasnya berat.

"Dari awal Mamih udah bilang. Pilihan ada di tangan kalian, dan kalian pilih pilihan yang ngecewain kita semua"

"Papih harap kalian berdua maklum atas sikapnya mereka, mereka kaya gitu karena kalian juga. Satu-satunya cara untuk ngembaliin keluarga kita kaya dulu lagi cuman satu, yaitu Aileen pulang dengan selamat. Tapi kalian tahu sendiri, ini udah hari ke tiga Aileen ilang. Kita semua udah nyari, sewa orang sana-sini. Tapi hasilnya nihil"

"Mamih sebenernya kecewa sama kalian, kalian berdua berpikiran dangkal untuk masalah yang serius. Kakek sama Mamah Zailine sampe sakit karena masalah ini. Mamih harap kalian bisa nemuin Aileen"

Jovanka dan Mahawira meninggalkan Keenan dan Rea. Hanya tinggal mereka berdua yang ada disana.

"Kak..." Rea menatap Keenan yang sedang melamun.

"Kesalahan kita gak bisa dimaafin ya?"

"Kesalahan kitu itu besar, gak bisa dimaafin. Nyawa Aileen ada dalam bahaya karena kita" Keenan menyesali kebodohannya yang seenaknya dalam bertindak.

"Rea... Rea nyesel Kak" Rea menangis, semuanya hancur gara-gara perasaannya.

"Sssttt udah, semua gak akan selese meskipun kamu nangis. Kakak udah nyuruh orang buat cari Aileen. Semoga kita nemuin Aileen" Keenan memeluk Rea yang duduk tepat di sampingnya.

-----*-*-----
"Lo dari mana aja?! Kenapa baru dateng?" Kelas hampir dimulai dan Aksa baru sampai sekolah, sedangkan Rea saja sudah dari tadi.

"Gue abis nyari ade gue. Lo pindah depan, biar gue sama si kulkas" Aksa duduk di samping Delio. Dan membiarkan Arsen duduk dibangkunya terdahulu.

"Gimana ? Udah ada perkembangan tentang Aileen?" Arsen bertanya pada Aksa, membuat Delio tertarik dengan topik pembicaraannya.

Aksa menggeleng dengan lemah.

"Gue udah nyuruh orang buat bantu cari Aileen"

"Makasih ya... Gue tahu lo lagi patah hati" Aksa menepuk bahu Delio untuk menguatkannya. Padahal saat ini hatinya juga rapuh, dan gelisah. Apa yang akan terjadi pada adiknya itu. Diluaran sana itu terlalu bebas untuk gadis polos seperti Aileen. Ditambah keadaan Aileen yang memang sedang sakit.

My Possessive Brother's (TELAH TERBIT) (Part Of Possessive)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang