"Ma, Mi, Aileen cape. Aileen ke kamar dulu"
Zailine dan Jovanka saling pandang, mereka hanya diam tak berani berkomentar karena takut malah menjadi tambah runyam masalahnya.
Jovankan membawa Zailine pergi dari ruangan, ia yakin mereka semua akan menyelesaikannya dengan cara mereka. Entah dengan cara Keenan yang baik, atau cara Aladri yang penuh dengan paksaan.
"Aileen mau kemana?" Arion melihat adiknya itu berdiri dengan raut wajahnya yang tidak bersahabat. Bukan, bukan seperti musuh. Tapi, seperti orang yang kecewa. Aileen hanya memandang mereka tanpa berkedip, ah lebih tepatnya, fokus mata Aileen hanya tertuju pada Aladri.
"Aileen?" Keenan memanggil nama Aileen karena dia tahu bahwa adiknya itu hanya melamun melihat ke arah mereka. Entah memang melamun atau memang dia tidak berniat menjawabnya.
"Leen?" Panggilan terakhir dari Keenan membuat Aileen mengerjapkan matanya seketika.
"Aileen mau ke kam-" Aileen ingin menjawab pertanyaan Arion tapi seseorang sudah memotongnya terlebih dulu.
"Kita ke rumah sakit sekarang"
Aileen menghembuskan nafasnya berat, lagi-lagi Aladri yang paling membuatnya nyaman masih menggunakan nada yang dingin, nada yang siapapun tidak ingin mendengarnya.
'Tuan yang baik hilang kemana?' Itulah yang menjadi pertanyaan dalam benak Aileen. Aladri yang sekarang beda dengan Tuan Aladri yang pertama kali di temuinya. Ya cafe milik Rayen di Bandung.
"Aileen gak mau ka, Aileen enggak sakit"
Ada perasaan kesal dan sedih dalam diri Aileen, Aileen adalah tipikal orang yang tidak suka di paksa. Sedangkan Aladri adalah orang yang sangat otoriter.
"Engga ada bantahan" Aladri juga sepertinya merasa sedikit tidak menyukai cara Aileen yang memancarkan kekecewaan dalam manik matanya. Tapi, yang namanya Aladri tidak pernah bisa di bantah bukan?
"Aileen gak suka rumah sakit kak"
Aileen menunjukkan wajah memelasnya membuat Keenan sepertinya harus turun tangan.
"Dri, jangan paksa Aileen" Keenan menyentuh pundak Aladri tapi orang yang disentuh malah menghempaskan tangan Keenan begitu saja.
"Ini bukan urusan lo"
"Ini urusan gue"
"Kak udah, kasian Aileen jangan dipaksa terus" Rion harus melerai mereka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Lo diem Yon"
"Gue kakaknya" Keenan tidak mau kalah dari Aladri, Aladri harus belajar memikirkan perasaan orang lain, apalagi perasaan adiknya sendiri.
"Gue juga kakaknya" Aladri mencengkram kerah kemeja yang dipakai Keenan.
Okay sepertinya suasana bertambah tegang.
Aksa dan Rea hanya mengelus punggung Aileen sebagai dorongan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kalian itu apa-apan sih, udah pada gede jangan emosi terus yang di duluin" Arion memijat pelipisnya melihat kakak kandungnya dan kakak sepepupunya seperti itu.
"Lepasin Kak Keenan" Suara Aileen sedikit bergetar akibat ketakutan, ia takut mereka bertengkar hebat hanya karena dirinya.
"Aku mau kerumah sakit" Membuat semuanya tersenyum lega.
"Tapi" Aileen menggantungkan perkataannya begitu saja membuat mereka penasaran
"Aku bakal pergi" Aileen menghembuskan nafasnya berat.
"Dari rumah ini" Perkataan terakhir Aileen membuat mereka mematung seketika, Aladri juga sudah melepaskan cengkramannya.
"Kalau gitu, Aileen siap-sap dulu" Baru saja Aileen melangkahkan kakinya beberapa langkah, tapi ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
Aileen tahu itu Aladri, bau badan Aladri yang mempunyai wangi yang khas menyeruak begitu saja keseluruh indra penciumannya.
"Jangan pergi, kakak gak mau kamu pergi lagi"
"Kakak tinggal pilih. Kita ke rumah sakit tapi Aileen per-"
"Engga, kamu gak boleh pergi sayang. Jangan pergi lagi" Aladri tidak mau mendengar kata-kata sialan itu lagi, cukup Aileennya pergi dulu tapi tidak untuk sekarang.
"Kakak gak mau kehilangan kamu lagi, kamu adik kakak. Selamanya akan seperti itu, selamanya harus sama kakak"
TBC
JANGAN LUPAAA KRITIK DAN SARANNYA YAAAA 😙😙😙😙
16-03-2019
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Brother's (TELAH TERBIT) (Part Of Possessive)
Fiksi Remaja'Complete' Tidak ada seorangpun yang ingin menjadi dirinya. Selalu menjalani kehidupannya dengan masalah. Dia tidak ingat sama sekali bagaimana masa kecilnya. Entahlah dia tidak yakin itu. Yang terpenting sekarang untuk dirinya adalah sang ibu. Hany...
