[SUDAH DITERBITKAN OLEH AMB PUBLISHER]
[Tersedia di shopee @dennaasmara, website ambpublisher.com dan ebook di playstore]
#ProjectCelebrity-01
"Cerita ini telah diikutsertakan dalam kompetisi ODWC menyambut anniversarry AMB Publisher tahun kedua."
H...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Irish menenggelamkan wajahnya di atas batal dengan kaki yang menendang-nendang ke udara. Jangan tanyakan kenapa Irish bisa seperti ini. Apalagi kalo bukan karena insiden di bioskop tadi.
Irish menghela napas panjang lalu menggigit bibir bawahnya gugup. Wajahnya sudah memerah karena ia mengingat kejadian itu.
Entah mendapat keberanian mana ia bisa mengatakan kalimat menggelikan itu.
Irish masih ingat setiap detik yang mereka lakukan saat itu. Mereka bahkan mengulangi kejadian itu di mobil saat Alarick mengantarnya pulang. Ya, meskipun saat itu Irish gugup setengah mati karena takut satpam gedung apartemennya memergoki mereka.
Aish! Membayangkannya lagi membuat Irish tidak bisa untuk tidak tersenyum.
Irish mengambil cermin kecil yang berada di dalam tasnya lalu menatap wajahnya lewat pantulan cermin itu. Irish memperhatikan bibirnya yang memerah dan bengkak. Astaga, Irish tidak menyangka jika Alarick akan membuat bibirnya bengkak hanya karena ciuman saja.
Bagaimana jika Nida pulang dan bertanya tentang bibirnya? Apa Irish harus menceritakan ini semuanya? Karena sejauh ini Irish masih belum menceritakan apapun tentangnya dan Alarick.
"IRISH!!!"
Irish gelagapan saat mendengar suara Nida memanggilnya. Astaga, bagaimana ini? Bagaimana bibirnya?
Lalu gadis itu terlonjak kaget saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan Nida masuk.
"Kenapa sih kok kaget gitu?"
Irish menggeleng, berusaha untuk bersikap normal. "Nggak kok. Tadi sedikit ngelamun aja makanya kaget pas lo masuk."
Nida tiba-tiba menyipitkan matanya. "Bibir lo kenapa?"
Irish melotot. "Emangnya bib—"
"Astaga!" pekik Nida, membuat Irish mendundukkan kepalanya.