[SUDAH DITERBITKAN OLEH AMB PUBLISHER]
[Tersedia di shopee @dennaasmara, website ambpublisher.com dan ebook di playstore]
#ProjectCelebrity-01
"Cerita ini telah diikutsertakan dalam kompetisi ODWC menyambut anniversarry AMB Publisher tahun kedua."
H...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Irish menggigit bibir dalamnya ketika ia sedang merias wajah tampan di depannya itu, sedangkan yang dirias justru menatapnya tanpa berkedip. Irish tau ia sudah baper duluan karena model top itu malah menatapnya intens, membuat kedua pipinya merona secara tiba-tiba.
Perihal ajakan Alarick secara tiba-tiba tadi, Irish sama sekali tidak menjawabnya. Bukan karena tidak ingin, hanya saja Irish bingung dan takut jika apa yang didengarnya hanya sebuah kesalahan. Irish merasa jika ia salah dengar tadi.
Gara tiba-tiba masuk ke ruang make up. "Lima belas menit lagi dimulai ya."
Irish mengalihkan tatapannya, ia segera menjauhkan tubuhnya dari model top itu. "Udah selesai, Mas." Irish tersenyum.
Gara membalas senyumannya. "Makasih ya. Tumben banget Ambar nggak bisa, emang dimana kemana?"
"Katanya ke toko cincin."
"Jadi dia tunangan?"
"Masa enggak," balas Irish lalu terkekeh.
"Kali aja." Gara tertawa. "Buruan, Al," katanya lalu pergi keluar duluan.
Alarick berdehem keras. "Terima kasih."
"Sam—"
"Dan jangan dulu pergi," lanjutnya memotong ucapan Irish sebelum akhirnya pergi dari ruangan itu.
Irish mengeembuskan napas lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Berdekatan dengan model top itu membuatnya lupa caranya bernafas. Gila saja! Selama ini Irish sudah banyak berhadapan langsung dengan beberapa model ataupun selebritis, namun tidak ada yang separah ini. Alarick mampu membuatnya berdebar hebat.
"Kenapa sih?"
Seseorang menepuk bahunya membuat Irish menoleh. Ia menatap Nida yang sedang membantunya membereskan alat make up.
"Nid, lo percaya nggak sama gue kalo gue ngomong sesuatu yang gue denger tadi?" tanya Irish tiba-tiba.
"Apaan?"
"Alarick ngajak gue makan malem."
Tawa Nida langsung pecah seketika. Irish kata juga apa. Seorang Alarick tidak mungkin mengatakan itu padanya. Nida saja tidak percaya. Jadi memang benar jika ia salah dengar tadi.
"Ngehalu lo, Rish," Nida menggeleng-gelengkan kepalanya disela-sela tawanya. "Mana mungkin seorang Alarick Bale ngajak lo."
"Itu juga yang gue pikirin. Mana mungkin."
"Terus kenapa lo mikir kayak gitu?" kekeh Nida geli.
"Nggak. Cuma pas gue dateng, gue kayak denger dia ngomong kayak gitu. Atau, mungkin emang perasaan gue aja kali ya," ujar Irish.