[SUDAH DITERBITKAN OLEH AMB PUBLISHER]
[Tersedia di shopee @dennaasmara, website ambpublisher.com dan ebook di playstore]
#ProjectCelebrity-01
"Cerita ini telah diikutsertakan dalam kompetisi ODWC menyambut anniversarry AMB Publisher tahun kedua."
H...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Irish mendengar suara derap langkah di depan kamarnya. Ia sudah tau jika itu pasti Alarick, namun Irish enggan beranjak untuk sekedar membuka pintu saat Alarick sudah mulai mengetuk pintu kamar dan memanggil namanya.
"I, aku bawa makanan kesukaan kamu. Buka pintunya, I!"
Alarick masih berteriak dan mengetuk pintu kamarnya. Irish menghela napas. Entah kenapa ia merasa sudah tidak mempunyai tenaga hanya untuk sekedar menghampiri Alarick. Irish tidak sanggup lagi melihat wajah tampan itu sekarang.
"Irish!!!"
Gedoran Alarick di pintu semakin mengencang. Jadi, sebelum pria itu merusaknya, Irish mau tak mau bergegas untuk membukanya.
"Kenapa? Aku lagi—"
"Kamu nggak papa, 'kan? Aku khawatir banget karena kamu nggak jawab pas aku panggil barusan."
Ah sial. Ekspresi Alarick sekarang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Alarick terlihat resah dan ketakutan.
Irish menghela napas pelan. "Aku boleh keluar?"
Alarick menggeleng cepat. "Nggak. Kamu nggak boleh ke mana-mana. Kamu nggak boleh ninggalin aku!"
"Mas, aku mau ke kampus doang, mau bimbingan sama Dosen. Boleh ya? Lagi pula, aku udah lama nggak bimbingan dan nyerahin skripsi yang udah aku tulis."
Alarick tampak berpikir sejenak. "Tapi, kamu bukan mau ninggalin aku, 'kan?"
"Boleh ya?" tanya Irish lagi.
"Aku anterin, terus aku tunggu sampai kamu selesai."
Irish memutar bola matanya. "Mas, aku—"
"Iya atau nggak sama sekali? Aku cuma nggak mau kamu pergi ninggalin aku."
Irish menghela napas kasar. "Yaudah. Minggir, aku mau siap-siap."
***
Alarick benar-benar mengantar Irish ke kampus. Bukan hanya sekedar mengantar, tapi juga menunggunya selama ia bimbingan pada dosen.
Setelah setengah jam bimbingan, Irish keluar dari ruangan dosen dan mendapati Alarick yang masih berada di depan ruangan menunggunya.
"Udah selesai?" tanya pria itu setelah berdiri.
Irish mengangguk. "Aku mau pulang."
"Ayo." Alarick meraih tangan Irish, namun gadis itu langsung menahannya saat hendak melangkah.
"Bukan ke apartemen kamu, tapi ke apartemen aku," ucapnya.
Alarick menghela napas lalu melirik sekitar. Sejak Irish meninggalkannya untuk bimbingan, orang-orang seakan tak pernah surut mengelilinginya meskipun tidak benar-benar dekat. Hanya saja Alarick tau jika mereka berada di sana hanya untuk melihatnya.