[SUDAH DITERBITKAN OLEH AMB PUBLISHER]
[Tersedia di shopee @dennaasmara, website ambpublisher.com dan ebook di playstore]
#ProjectCelebrity-01
"Cerita ini telah diikutsertakan dalam kompetisi ODWC menyambut anniversarry AMB Publisher tahun kedua."
H...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Oh, jadi Bale itu bukan nama marga keluarga Mas ya?"
Alarick mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan. "Iya. Dulu pas awal mau debut, Bos Indra nanya aku mau pake nama asli atau nama panggung gitu."
Irish mengangguk mengerti. Ia mengira jika Bale adalah marga keluarga Alarick, namun ternyata Bale adalah singkatan dari Bantara-Letisya.
"Jadi nama asli Mas itu Alarick Bantara?"
Alarick menoleh sekilas dan mengangguk. "Aneh ya?"
"Agak aneh sih, soalnya udah biasa denger Alarick Bale."
Alarick tersenyum. Ia melirik sekilas jam tangan mewah di pergelangan tangan kirinya. "Ini masih sore, ke mall dulu mau? Beli baju buat ke Paris nanti."
"Mas mau beli baju?"
Alarick menggeleng. "Kamu."
Mendengar itu, Irish sontak menggeleng. "Jangan, Mas! Nggak usah."
"Nggak papa, I, nanti aku beliin. Kita di sana bakal ngelakuin banyak hal." Alarick tersenyum manis.
"Tapi, Mas, beneran deh nggak papa."
Alarick menggeleng. Ia tidak menyahut lagi dan tetap membawa mobilnya menuju salah satu mall.
"Mas, aku nggak perlu baju, beneran deh." Irish masih menolaknya, bahkan ketika mereka sudah sampai di basement mall itu.
"Ayo, Sayang." Alarick tersenyum lalu keluar dari mobilnya.
Mau tidak mau Irish juga mengikuti Alarick. Ia berjalan sedikit jauh di belakang Alarick. Ia tidak ingin ada orang yang menyadari mereka berdua. Sebelumnya mereka telah masuk akun gosip itu lagi dan mereka pasti gampang dikenali karena masih mengenakan baju yang sama.
Alarick pun membiarkan itu, membiarkan untuk berada di jarak yang aman. Ia masuk ke dalam sebuah toko pakaian pria untuk membeli pakaian agar tidak ada yang mengenalinya, tak lupa juga sebuah topi.
Irish menunggu di depan toko itu sambil memainkan ponselnya. Sepuluh menit kemudian Alarick telah selesai dan telah berganti pakaian.
Mereka kembali berjalan menyusuri mall, hingga mereka sampai di sebuah toko pakaian wanita yang Irish cukup tau brand itu. Cukup ternama namun harganya tidak terlalu mahal.
Toko itu kosong jadi Alarick berani melepas masker dan menghampirinya. "Kamu pilih mana yang kamu mau, sekalian baju kamu ganti."
"Mas, beneran deh aku nggak perlu ini semua."
Alarick menghela nafasnya. Ia berjalan meninggalkan Irish tanpa menyahut ucapan Irish.
"Tolong yang ini, ini, ini, ini...." Alarick menunjuk satu persatu baju yang menurutnya cocok untuk Irish.
Bahkan gadis itu hanya mampu menganga tanpa bisa menghentikan Alarick yang sudah menunjuk lebih dari sepuluh setelan atas dan bawah. Belum lagi sepatu dan tas.