"Eren." Carla membuka suara ketika tangannya tengah sibuk mencuci piring bekas makan. "Akhir-akhir ini Ibu tidak pernah lihat kamu minum obat dari Ayah ya. Apa penyakitmu yang waktu itu sudah tak kambuh lagi?"
"Obat?"
"Iya. Yang Ayah kasih sebelum balik bekerja."
Sambil mengingat-ingat lagi, Eren mengelap piring. Oh benar juga. Yang waktu itu Sir Erwin sampai datang berkunjung. "Iya, aku beneran sudah sembuh kok, Bu. Jadi kupikir tak perlu minum lagi."
Carla manggut-manggut. "Syukurlah kamu bisa mengatasi traumamu sendiri. Ibu percaya, tanpa bergantung dengan obat Ayah, pelan-pelan akan hilang kok."
Eren tak menyahut apapun. Kalau dipikir-pikir kembali, tempat sempit yang setiap malam menghantuinya dalam tidur tak muncul lagi. Bayang-bayang masa lalu ketika Farlan membuatnya "keluar" di gimnasium, ketika Jean menyudutkannya di belakang pintu toilet, perlahan memudar. Eren tak tahu pasti apa yang membuatnya bisa terlupa, tapi entah mengapa ia percaya bahwa ujian, Akashi, dan Heichou-lah sebabnya sehingga kini ia merasa baik-baik saja.
Pemuda itu tersenyum seraya meletakkan piring terakhir di rak cucian. Aku akan berterima kasih kepada mereka.
"Oh iya, kamu enggak main sama Armin dan Mikasa? Biasa mereka ke sini akhir minggu kan?" tanya Carla sambil mengeringkan tangannya.
"Kan minggu-minggu kemarin pas ujian tengah semester, jadi enggak ke sini. Ah, kemarin hangout sebentar sih, di perpustakaan buat belajar," jawab Eren. "Karena hari ini ujiannya sudah selesai, mungkin Sabtu atau Minggu ini mereka ke rumah."
Carla menggumam. "Kalau begitu, temanmu yang waktu itu ketemuan sama kamu pas habis mengantar Ayah, enggak kamu ajak ke sini?"
"Yang mana? Memang ada Ibu juga?"
Memutar bola mata, Carla menghela napas. "Waktu di Layson itu lho. Kamu sempat menghindar buat ketemu, tapi akhirnya mau juga."
Seketika, dalam kepala Eren, muncul satu nama dan sosok pemilik nama tersebut. "Ah, dia. Kami kenalan belum lama, jadi kalau tiba-tiba mengajak dia datang main rasanya agak ...." Eren menggaruk tengkuknya, ragu-ragu.
"Ya justru dengan kamu mengundang dia ke sini, kalian jadi semakin akrab kan." Carla tersenyum. Ia menepuk puncak kepala Eren, mengelus surai brunetnya sebelum beranjak dari dapur. "Lagipula, Ibu juga ingin ketemu anak itu lagi kok. Dia ganteng dan sepertinya bakal cocok sama Ibu."
Eren mengernyit. "Aku bilang Ayah nih."
Carla tergelak. "Bercanda, bercanda."
.
Riv.
Hei
Ujianmu sudah selesai?
Saat itu juga, si lelaki berambut brunet mengerjap. Baru saja ia ingin mengirim pesan duluan, menanyakan ketersediaannya untuk bertemu dan menghabiskan waktu di rumahnya, sesuai permintaan sang ibu. Selain itu, tidak biasanya Heichou mengirim pada waktu pulang sekolah. Normalnya, mereka akan saling berbincang ketika malam hari.
"Eren! Ayo cepat! Sudah ditunggu Sasha tuh di gerbang sekolah!" Connie menyeru dari arah pintu kelas.
"Iya, duluan saja! Nanti aku susul kalian di pintu gerbang!" balas Eren, mengalihkan perhatiannya sejenak dari ponsel.
"Cepet ya! Sasha enggak main-main kalau urusan makan-makan!"
"Iya, tahu!"
Eren Jaeger
KAMU SEDANG MEMBACA
Roomchat [HIATUS]
Fiksi Penggemar"Dunia maya tempat yang misterius. Dunia dimana kita bisa mengarang apapun sesuka hati, tanpa perlu takut ketahuan berbohong." [Requested] [WARN: R18+ BXB, HAREM] Disclaimer: Hajime Isayama, slight Fujimaki Tadatoshi :> Cover cr © Artist
![Roomchat [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/117392902-64-k928065.jpg)