Part 19

566 80 20
                                        

"Hah?" Historia melempar pandangan sinis. "Mana mungkin aku bilang begitu. Sudah kubilang, aku ganti nomor sekarang. Kontakmu dan yang lain hilang di nomor lama."

"Lagipula, Sabtu ini kami akan berkencan. Jadi tidak mungkin Historia mengundangmu jadi nyamuk," tambah Ymir sambil merangkul mesra Historia.

Mulai keki, tapi Eren berusaha menahan agar tidak meledak. Banyak siswi yang mendadak meriung di sekitaran koridor tempatnya berdiri. Namun tangan yang menarik ponsel dari kantung dengan kasar itu menyuarakan kekesalan. Ymir tahu itu.

"Lihat. Ini nomormu kan?" tanya Eren, menunjuk nomor pengirim dari pesan semalam.

Kedua gadis itu melongok. Mereka menggeleng bersamaan. Sebagai bukti lagi, Historia memberi lihat susunan nomor baru miliknya. "Yang di tanganmu nomor lamaku."

"Penggemarmu kali tuh. Sembarangan memakai nama kesayanganku sebagai modus," celetuk Ymir, lalu tumbuh seringai kecil di wajah androgini-nya. "Atau bisa saja ... Kirschtein? Mungkin semalam sudah pede perasaannya terbalas hari ini, jadi berani ajak kencan."

Historia dan Eren mendelik. Jantung si pemuda sudah berdebar tak karuan, pernyataan Ymir menyiratkan simpulan bahwa perempuan itu menyaksikan mereka di halaman belakang tadi. Ia berusaha tenang—ambil napas, tarik napas.

"Oke. Intinya bukan kau yang mengirim. Terima kasih, kalian berdua," ucap Eren sebelum melangkah cepat menuju kelas.

"Oi, Jaeger! Jangan sampai kisah cintamu dengan Si Muka Kuda itu ketahuan oleh cewek-cewekmu ya!"

Salahkan suara lantang si perempuan jadi-jadian, sekarang pasang mata para siswi mengarah pada Eren.

Bodo lah. Eren semakin mempercepat langkahnya. Aku ga dengar apa-apa, di sini terlalu gelap.

.

.

Armin tercenung. Fokus tak fokus, antara sosok pemuda yang tengah mengerjakan soal di depannya dan gantungan setelan kasual di gagang lemari.

"Kau mau ke mana?" tanya Armin.

"Ke Stoquarium," jawab Eren tanpa balas menatap. "Aku dapat ajakan dari orang yang mengaku Historia sekitar jam sebelas nanti. Makanya aku minta tolong kau ajarkan materi kemarin pagian. Ah tolong jangan bilang-bilang Mikasa. Aku tak mau mengganggu waktu liburnya."

"Tunggu, orang yang mengaku? Jelas-jelas itu bukan Historia Reiss kan?" Armin menautkan alis. "Lebih baik tak usah turuti. Bisa saja dia menipumu."

Eren mendongak, cemberut. Gerakan pena melayang terhenti. "Orang mau refreshing kok tidak boleh. Jangan ikut-ikut melarang seperti Mikasa dong."

"Ya bukan gitu maksudku." Armin mengusap poninya. "Takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan ...."

"Lagian, kalau pun dia memang penipu, aku bisa mengatasinya sendiri," sahut Eren. Pandangan mereka saling bertemu. "Jadi kalian berdua tak perlu ikut."

Mendadak, dering ponsel memecah suasana. Alarm yang tersetel berbunyi tepat pukul sepuluh tiga puluh. Eren menyudahi waktu belajarnya dengan memasukkan alat tulis dan memberes buku.

"Kau sudah mengerti materi yang tadi, Eren?" tanya Armin tak yakin. "Sini kuperiksa dulu kerjaanmu."

"Silakan." Eren beranjak, mengambil setelan yang digantung beserta handuk. "Aku mau mandi. Jika ada yang salah, akan kukerjakan habis pulang."

"Dasar, mentang-mentang libur." Armin tertawa kecil sebelum sosok Eren menghilang di balik pintu. Ia mengambil salah satu dari tumpukan buku dan meminjam pulpen, mulai memeriksa.

Roomchat [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang