Kue bronis cokelat yang tengah disajikan di depan mata hanya ditatap oleh Erwin dalam diam. Bukan meragukan rasa yang terkandung, namun lebih heran kepada bentuk. Berbentuk hati berukuran kecil dengan krim rasa stroberi di pinggir-pinggirnya dan tambahan ceri di sudut lekukkan sempit di tengahnya.
Erwin baru ingin membuka mulut ketika Isabel sudah masuk dapur duluan untuk membersihkan sisa-sisa adonan.
"Ambil lagi sana, kalau mau tambah. Boleh kau bawa pulang juga kok semuanya," bisik Rivaille seraya duduk di sisi seberang meja.
"Bukannya dia membuatkan untukmu?"
"Aku tak suka manis-manis."
Sedikit ragu, Erwin mengambil suapan pertama. Rasanya enak juga.
"Jadi? Aku tak mendapat info apapun tentang bocah itu seminggu ini. Kenapa? Tak sanggup lagi karena osteoporosis?"
Rivaille memulai pembicaraan. Inilah alasan mengapa dirinya—dengan senang hati—mengundang Erwin ke apartemennya.
Lumatan bolu sedikit tersendat untuk ditelan. Erwin diam sejenak sebelum membalas, "Dia tak masuk sekolah. Ibunya bilang kalau Eren sakit dan minta izin tiga hari. Setelahnya tidak ada keterangan."
"Kunjungi dia dong. Demi memantau keadaannya untukku juga."
"Tanpa kau suruh pun aku sudah berencana untuk datang besok. Itu sudah kewajibanku sebagai wali kelasnya."
Jeda sejenak. Erwin mengambil dua suap bronis, sedangkan Rivaille meneguk teh hitamnya sambil membuka ponsel. Ikon Lime berwarna hijau di menu utama membuatnya ingat akan sesuatu.
"Oh iya. Kau belum memberitahuku tentang foto yang kau kirim waktu itu, botak."
Mata Erwin membola. Pipinya menggembung, terisi oleh lumatan yang setelahnya segera ditelan. "Kau serius mau tahu? Ini juga alasan kenapa aku menjatuhkan hukuman skorsing pada Farlan lho, seperti yang kuceritakan kemarin."
"Aku punya firasat Eren juga terlibat di situ. Ceritakan padaku semuanya."
Pria bersurai pirang menghembus napas. Memain-mainkan bulatan ceri yang belum dilahapnya. Menjelaskan kronologi kasus secara singkat, sesuai dengan pernyataan Farlan dan penglihatannya.
"Kau bohong," begitu balas Rivaille selesai menyimak.
"Aku tak sengaja merekamnya waktu itu. Mau lihat?"
"Ga, makasih."
Erwin kembali menenggelamkan ponselnya dalam kantung. Ia melirik sosok Rivaille yang tengah memandang permukaan meja. Sedikit getaran di kulit tangan pucat tertangkap oleh iris biru muda itu.
"... bodoh. Farlan kelewat bego. Anak itu... kuharap bukan anak itu yang ia sentuh. Dia sudah pulih. Dia sudah melupakan semuanya, dan bajingan itu—"
Sebagai seorang yang lama menjalin hubungan pertemanan dan mengikuti lika-liku masa lalunya, Erwin mengerti. Untuk suatu alasan, ia tak ingin membungkam mulut yang terus mengucapkan sumpah serapah.
"Dan mungkin karena trauma juga, Eren absen nyaris seminggu," gumamnya.
Rasanya Rivaille ingin sekali berlari dan memeluk Eren, mengusap lembut rambutnya sambil membisikkan kata-kata penenang sekarang juga. Tapi jelas hal itu tak mungkin ia lakukan. Selain karena jarak, tidak mau pula ketahuan identitasnya. Justru mungkin hal itu makin memperparah keadaan remaja tersebut.
Alasan Farlan yang dikemukakan Erwin mengulang di pikirannya. Rivaille mendengus. "Karena dia manis, katanya. Aku tak bisa menyebut itu sebagai alasan. Kau terlalu lembut, Erwin. Jika aku jadi kau, dia langsung kukeluarkan dari sekolah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Roomchat [HIATUS]
Fanfic"Dunia maya tempat yang misterius. Dunia dimana kita bisa mengarang apapun sesuka hati, tanpa perlu takut ketahuan berbohong." [Requested] [WARN: R18+ BXB, HAREM] Disclaimer: Hajime Isayama, slight Fujimaki Tadatoshi :> Cover cr © Artist
![Roomchat [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/117392902-64-k928065.jpg)