Empat Mata

281 15 2
                                        

Diatas ring, hampir sejam Rega bergulat dengan samsak besar menggantung didepannya. Tanpa ia ketahui seorang guru olahraga yang kemarin menghukumnya memperhatikan ia dari arah pintu. Posisi Rega memungginya jadi ia tak tahu sepasang mata itu memperhatikkannya lebih dari 15 menit.

Rega terduduk dipinggir ring meluruskan kakinya, nafasnya terengah-engah dengan gusar ia menggambil benda pipih di saku celananya mengetik sebaris pesan. Merasa sangat gerah ia membuka kancing seragam yang barusan ia dapatkan dari kopsis memperlihatkan lelehan peluh membasahi dada dan tubuhnya, seragam itu basah oleh keringatnya.

Lantas guru olahraga tersebut tersenyum entah apa yang ia fikirkan, berbalik badan menuruni anak tangga menuju area kolam renang, ia harus mengawasi para siswanya berlatih. Kompetisi pekan olahraga antar SMA sebentar lagi akan dimulai ia harus jeli memilih dan melatih siswa yang berbakat.

"Hei, elo mau bawa gue kemana sih Di?"

Dexa menarik lengan Aldi ketika ia hendak menaiki tangga menuju gedung olahraga lantai dua.

"Dah ikut ja.. ntar elo juga tau"

Jawab Aldi tetap berjalan menuju lantai atas.

Lagi-lagi Dexa hanya nurut memasang tampang tanda tanya besar dikepalanya. Aldi memasuki ruangan yang cukup luas, selama Dexa disini baru kali ini ia menginjakkan kakinya ditempat ini.

Tempat itu sepi, tiba-tiba mata Dexa menangkap pergerakan manusia diatas ring tinju. Seketika kakinya terhenti mendapati cowok yang katanya lagi di UKS kini ia tengah turun dari ring berjalan mendekatinya, matanya tak berkedip mulutnya sedikit terbuka, melihat cowok tegap dengan peluh bercucuran menatap garang ke arahnya dan dada yang terbuka memperlihatkan cetakan kotak-kotak diperutnya.

Dexa menelan saliva-nya, lalu membuang muka asal, salah tingkah dengan apa yang ia lihat sekarang, itu bukan kali pertamanya ia melihat cowok dengan tubuh yang terbilang sempurna, kakaknya dan teman-temannya sering ngumpul dirumahnya untuk berenang, maen game, menginap atau sekedar makan-makan. Namun entah melihat cowok yang ia benci saat ini membuat ia tertegun lebih tepatnya terpesona, tapi namanya Dexa ia menolak untuk mengakuinya.

Seperti mengetahui apa yang Dexa fikirkan Rega mengancingkan seragamnya, menyisakan dua kancing teratas membiarkan dadanya terbuka.

"Nih..."

Aldi melempar sebotol air mineral yang ia beli dikantin tadi, tanpa menoleh Rega menangkap botol tersebut.

"Thanks... elo boleh pergi" Ucapnya, membuat Dexa kaget, Aldi hanya mengangguk dan berbalik.

Ketika melewati Dexa, ia menatap Dexa yang melotot kearah Aldi menandakan ia tidak setuju ditinggal berdua ma Rega.

"Tenang, ia tak akan melukaimu"

Aldi menepuk bahu Dexa dan tersenyum, Dexa hendak mengatakan sesuatu namun suara Rega lebih dulu terdengar

"Gue mau ngomong empat mata ma elo" 

Rega berhenti lima langkah dari tempat Dexa berpijak. Aldi sekali lagi menepuk bahu Dexa mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Lalu menit berikutnya bayangan Aldi hilang dari ruangan tersebut, kini tinggallah Rega dan Dexa yang terpatung berdiri didepannya.

"Elo mau ngomong apa? Buruan. Gue gak punya banyak waktu"

Dexa sesantai mungkin mengatur intonasi nada bicaranya.

Bukan jawaban yang ia dapatkan, namun kini langkah Rega kembali mendekat padanya.

"Elo mau apa?!"

First Love Is True LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang