Alasan Untuk Tetap Ada di Dunia

70 6 0
                                        

Nata punya satu alasan yang kuat kenapa ia harus menjadi dokter di masa depan. Semuanya karena keluarga tercinta. Klise memang, mengatasnamakan keluarga sebagai alasannya masuk kedokteran. Tapi, kenapa memangnya? Setiap orang punya alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia. Meski alasan yang digunakan hanyalah sebatas untuk memberikan kebahagiaan pada keluarga atau mungkin agar bisa balas dendam dengan keadaan yang tak adil di masa lalunya. Setiap orang punya alasannya sendiri, begitu pun Nata.

Nata itu anak pertama, satu-satunya yang diandalkan. Wajar jika orang tuanya banyak menaruh harapan pada sosok laki-laki yang satu ini. Nata juga tidak masalah sebenarnya. Sebagai anak pertama ia tahu betul kewajibannya di sini. Membalas budi orang tua, membantu meringankan beban orang tua, dan segala macam hal yang erat kaitannya dengan dua orang paling berharga di dunia.

Nata memiliki satu adik laki-laki yang kini masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Sebagai kakak yang baik, tak jarang Nata memberikan uang saku pada adiknya itu agar tak perlu repot-repot meminta kepada kedua orang tuanya. Jika dibilang dia bukan orang berada, sebenarnya salah juga. Nata bukan tipikal anak pintar yang nyerempet jenius untuk bisa dapat beasiswa seumur hidup di tahun pertama ia kuliah. Nata masuk kedokteran memang murni menggunakan otaknya yang katanya pas-pas-an itu. Juga tentunya dari sokongan materi kedua orang tuanya.

"Papa sama Mama bakalan ngelakuin apa aja buat kamu sama Nathan biar bisa sekolah tinggi-tinggi. Kamu enggak perlu mikirin gimana caranya kita cari uang ya, Nat. Selama kamu belajar dengan benar dan nunjukin kalau emang kamu serius, kita enggak akan merasa berat untuk ngebiayain kamu sekolah."

Nata boleh saja mengiyakan semua perkataan mamanya itu, tapi dalam hati ia juga berpikir. Meskipun papanya adalah pensiunan pegawai negeri, tapi biaya kuliah Nata jika dihitung-hitung dari awal masuk pasti sudah bisa membeli beberapa rumah. Atau bahkan membangun kos-kosan seribu pintu. Oke, yang itu mungkin berlebihan. Tapi, tetap saja. Nata berpikir bagaimana bisa mereka membiayai seluruh biaya kuliahnya di saat sang adik juga masih bersekolah. Terlebih adiknya juga bersekolah di salah satu sekolah swasta, keinginan dari papanya tentu saja.

"Ma, Nata berhenti sampai spesialis aja gimana? Lumayan, kok. Kalau harus lanjut ke sub-spesialis nanti-nanti aja," ujar Nata pada sang mama. Sebenarnya, Mamanya itu sama sekali tidak keberatan dengan apapun yang Nata lakukan selama anaknya itu senang dan suka. Mama tak pernah memaksa Nata untuk melakukan sesuatu yang anak itu tak sukai. Semua kehidupannya, Nata sendiri yang menentukan.

"Mama terserah kamu aja, Nat. Mama sama Papa siap biayain kamu kalau emang kamu mau terus lanjut. Tadi, kan Mama udah bilang kalau enggak ada yang perlu kamu pikirin selama itu menyangkut masa depan kamu. Kita pasti dukung," jawab sang mama dengan senyum terbaiknya. Nata balas tersenyum dan menarik sang mama dalam dekapannya. Rasanya sudah lama sekali dirinya tak memeluk sang mama begini. Terakhir kali yang ia ingat adalah waktu ia lulus dari kedokteran beberapa tahun yang lalu. Tapi, meskipun begitu rasanya masih tetap sama. Sama-sama menghangatkan, damai, dan masih seperti rumah yang selalu Nata rindukan setiap saat.

...

"Kakak Keyla nanti mau jadi apa?" tanya Alessia, keponakan Keyla yang umurnya baru enam tahun itu. Keyla menyentuh dagunya dengan mata yang melihat ke atas seolah sedang berpikir. Ditanya begini oleh bocah umur enam tahun membuatnya agak sedikit panik juga.

"Aku mau jadi apa, ya? Kalau Leci mau jadi apa?" tanya Keyla balik. Leci, panggilan akrab Alessia itu membuat pose seperti sedang berpikir keras. Lengkap dengan dahinya yang mengerut membuat Keyla gemas sendiri.

"Aku mau jadi beauty vlogger aja, deh. Nanti aku dandan Kak Key biar cantik, nanti buat konten-konten seru juga sama temen aku." Keyla tertawa mendengar jawaban Leci barusan. Lucu juga jawabannya. Ingin jadi beauty vlogger, katanya.

We Bar BarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang