Hari ini sesuai janji, Elsa menunggu dokter Nata di rumah sakit. Niatnya ingin langsung pergi ke poli, tapi diurungkan karena perutnya yang lapar tiba-tiba. Alhasil, dirinya pergi ke kantin rumah sakit dan memesan satu porsi nasi soto serta satu botol air mineral. Elsa yang sedang asik makan tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran dokter Nata yang entah dari mana datangnya. Dokter itu kini duduk di depannya sambil tersenyum dan mengusak rambut Elsa yang sedikit berantakan itu.
"Kok, udah dateng?" tanya Elsa dengan mulutnya yang dipenuhi makanan. Dokter Nata tersenyum dengan tangannya yang terjulur untuk menghapus noda kuah soto yang ada di sudut bibir Elsa, membuat gadis itu sedikit kelimpungan karena perlakuan dokter Nata yang tiba-tiba. "Kamu samanya kayak Keyla kalau makan enggak rapi," katanya sambil tersenyum.
"Lanjutin aja makannya. Kita nanti ke ruang tunggu OK aja, ya. Poli udah tutup, bisa aja saya minta kuncinya. Tapi, saya males. Mending di ruang jaga saya aja," katanya lagi. Elsa mengangguk dan tanpa sadar mempercepat makannya. Masih sedikit kaget dengan perlakuan dokter Nata beberapa menit yang lalu.
Tiba-tiba dering ponsel Elsa terdengar saat keduanya tengah sama-sama dalam keadaan diam. Elsa melirik ke arah ponselnya dan menemukan nama Keyla di sana. Ia memberi kode pada dokter Nata untuk mengangkatnya karena tangannya kotor sehabis memegang potongan-potongan tulang ayam yang ada di dalam sotonya. Dokter Nata dengan senang hati melakukannya dan mengangkat telepon dari Keyla.
"Elsa, kok enggak bilang-bilang mau ke rumah sakit?!"
Dokter Nata menjauhkan ponsel Elsa dari telinganya begitu disambut oleh teriakan Keyla di ujung sana. Elsa sendiri menatap dokter Nata dengan tanda tanya, namun selanjutnya ia hanya melihat dokter Nata berkata bahwa tidak ada apa-apa.
"Kamu kalau nelepon orang harus banget teriak-teriak gitu, La?" tanya dokter Nata sambil memangku dagunya menatap ke arah Elsa yang masih asik dengan tulang ayamnya.
"Loh, dokter? Elsanya mana?"
"Ada lagi makan. Kenapa? Kamu mau ke sini? Enggak usah, La. Elsa mau belajar sama saya, kalau ada kamu nantinya malah Elsa enggak belajar. Saya pinjem Elsa dulu sampai nanti enggak tau jam berapa, saya mau dia fokus sama saya dulu. Oke?"
Elsa diam saja mendengar perkataan dokter Nata. Masa bodoh dengan ekspresi Keyla di sana, yang jelas Elsa sudah tidak karuan di sini. Apalagi dengan tatapan dokter Nata yang tak berpaling barang sedetik pun. Gadis itu jadi segan ingin memakan satu lagi tulang ayam yang ada di mangkuknya.
"Ya udah, saya tutup. Dah, Keyla."
Dengan begitu terputuslah sambungan telepon Keyla. Dokter Nata meletakkan lagi ponsel Elsa di samping tempat sendok dan garpu di atas meja. Sang dokter kembali memperhatikan Elsa yang kini memakan ayamnya dengan gerakan lambat. Gengsi sebenarnya, apalagi dilihat dokter Nata. Kesannya Elsa kelaparan, padahal memang benar lapar.
"Makan aja, enggak perlu takut jelek di depan saya. Kamu itu cantik, kok."
...
Dokter Nata menjelaskan segala macam teori tentang tindakan-tidakan yang akan diujikan satu minggu lagi itu. Sebenarnya tak ada yang berbeda dari penjelasan dosen dan juga dokter Nata. Tapi, katanya praktek yang asli pasti akan berbeda jauh dengan teori yang diterima. Elsa mengangguk setiap kali dokter Nata menjelaskan. Mulai dari sudut-sudut dalam melakukan injeksi, tentang bagaimana cara melakukan pemeriksaan fisik dengan benar, mengoplos obat, dan segala macamnya. Terkadang bahkan Elsa sampai lupa mengatupkan mulutnya saking fokusnya mengamati dokter Nata.
"Nih, kalau nanti nginfus kamu cari vena yang besar. Kalau bisa, pakai aja aboket yang ukurannya dua puluh dua. Nanti kalau venanya udah ketemu, tusukin deh. Tarik ujungnya, ada darah atau enggak. Kalau ada berarti masuk. Tinggal kamu tarik sedikit jarumnya, terus dorong si aboketnya ke dalem. Kalau udah, sambungin ke infus set. Ngerti?" jelas dokter Nata. Elsa mengangguk, kalau sebatas teori Elsa mengerti. Kalau praktek, dirinya terkadang suka tidak percaya diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Bar Bar
Teen FictionIni cerita dokter Nata dan dua kawanannya, ditambah dokter Faris yang entah datang dari mana. ©mochikuchim 2020
