"Nanti saya jemput. Mau ke toko buku dulu, kan?"
Elsa mengangguk di sela-sela gigitan roti bantal isi cokelat yang ia makan. Yakin sekali jika orang di seberang sana dapat melihat kegiatannya barusan.
"Nanti kamu tunggu aja di kantin rumah sakit. Saya nyusul kalau udah selesai."
"Oke."
"Belajar yang bener, jangan lupa makan, kalau cape istirahat."
"Iya, dok, iya."
Selepas perang dingin kemarin sore, Elsa dan dokter Nata kembali akur lagi. Semuanya tidak akan pernah terjadi tanpa campur tangan Keyla yang tiba-tiba saja bersin sepanjang perjalanan pulang. Dokter Nata terlihat amat sangat khawatir begitu melihat Keyla yang bersin-bersin sambil sesekali mengusak hidungnya yang bisa Elsa pastikan gatal itu. Elsa, sih anteng di jok belakang. Bukannya tidak perhatian, tapi dia memang sedang dalam mode kesal dengan dokter Nata.
Kemarin, mereka mengantar Keyla lebih dulu ke rumahnya dan dokter Nata memberikan seribu satu nasihat tentang menjaga kesehatan pada gadis itu. Keyla, sih iya saja. Kasian, sudah nolep gitu dia. Elsa cuma bisa bilang ke Keyla semoga anak itu cepat sembuh. Ia tak ingin membuat dokter Nata berujung marah padanya karena secara tak langsung membuat Keyla sakit akibat dirinya yang nekat menerobos hujan. Lagipun, siapa yang mengira kalau Keyla lebih memilih untuk membiarkan dirinya dipayungi? Tapi, daripada harus mendengar celotehan dokter Nata jika dirinya tak mengatakan apa-apa pada Keyla, lebih baik dirinya buka suara. Ya, dokter Nata se-perhatian itu pada Keyla, kalau mau tahu.
"Lo sama si dokter itu pacaran atau gimana, sih?" tanya teman Elsa tiba-tiba begitu melihat Elsa yang sibuk merapikan buku-bukunya. Siap-siap pergi ke rumah sakit, hitung-hitung jalan-jalan dulu.
"Mana ada? Gue sama dia cuma sebatas partner doang," jawab Elsa.
"Masa, sih? Enggak ada cewek sama cowok yang temenan itu emang murni temenan. Pasti ada salah satu di antara kalian yang suka-sukaan. Iya, kan? Ngaku lo?"
Elsa memutar bola matanya jengah. Gimana bisa suka kalau sikap dokter Nata saja jauh dari list sikap yang yang harus dimiliki oleh pacar masa depan Elsa?
"Udah, gue mau balik. Dah!"
...
Mulutnya mengercut kesal sedaritadi. Bahkan es jeruk yang ia pesan sudah tandas sejak setengah jam yang lalu, meski sengaja dilambat-lambatkan waktu meminumnya. Elsa sesekali melihat ke arah jam dinding yang terpasang di tembok atas dekat stand siomay. Sudah jam empat sore, itu tandanya Elsa sudah ada di sini selama satu jam. Gila apa, ya?
"Ke mana, sih?" Elsa menggerutu dan meraih ponselnya. Mengetik sesuatu dan menempelkan ponselnya di telinga. Dering sambungannya begitu syahdu, Elsa malah sempat berpikir kalau yang ditelepon lupa akan janjinya. Sampai akhirnya dering sambungan itu berganti menjadi suara seseorang.
"Dokter Nata di mana? Aku udah nunggu satu jam di kantin, tapi enggak ada batang hidungnya!" omel Elsa begitu dokter Nata, si oknum kejahatan itu mengangkat teleponnya.
"Aduh, El! Saya lupa! Saya lagi di rumah Keyla, ketiduran habis jenguk dia. Maaf, ya."
Pundak Elsa merosot begitu mendengar alasan dokter Nata barusan. Jadi, dia lupa karena tadi langsung pergi ke rumah Keyla. Katanya, Keyla demam dan halu berbicara yang tak jelas. Mamanya panik dan langsung menghubungi dokter Nata, jadilah dia di sana sekarang. Elsa sendiri hanya diam, tak ada niatan untuk menjawab perkataan dokter Nata barusan. Rasanya aneh. Kenapa juga jadi susah untuk bicara?
KAMU SEDANG MEMBACA
We Bar Bar
Teen FictionIni cerita dokter Nata dan dua kawanannya, ditambah dokter Faris yang entah datang dari mana. ©mochikuchim 2020
