Elsa memejamkan matanya, mengatur napasnya yang sempat berantakan karena emosinya yang tiba-tiba naik. Ia terus-terusan meyakinkan dirinya bahwa dua orang yang ia lihat di salah satu restoran itu bukanlah Keyla dan dokter Nata. Tapi, setiap kali ia meyakinkan diri, setiap itu pula ia percaya bahwa dua orang itu adalah Keyla dan dokter Nata.
Ia memang tak sengaja melihat dua temannya itu ketika dirinya hendak pergi ke sebuah toko yang menjual berbagai macam aksesoris. Awalnya, ia biasa saja. Namun, tiba-tiba hatinya mendadak panas ketika mendapati dua temannya asik bercengkrama sambil memakan makanannya.
Cih. Elsa tersenyum miring begitu tangannya mengambil salah satu cat kuku berwarna ungu muda. Menertawakan kebodohannya yang tiba-tiba merasa tak dianggap. Kalau Elsa ditanya bagaimana rasanya, ia bahkan tak sanggup untuk menjelaskan hanya dengan satu kali tarikan napas.
Gadis itu masih asik berdiri di depan deretan cat kuku warna warni meski tangannya sudah mengambil satu yang berwarna ungu muda. Tujuannya cuma satu, masih ingin berlama-lama di sini hingga dua temannya itu dirasa telah pergi. Elsa menatap kukunya dan juga botol cat kuku yang ia pegang. Seakan berpikir apakah warnanya akan cocok atau tidak. Dulu, Keyla pernah bilang jika Elsa cocok mengenakan warna ungu yang satu ini. Terkesan manis dan lebih kalem ketika berada di atas kukunya. Tapi, sejurus kemudian ia kembali meletakan cat kuku yang sudah sempat ia ambil. Menggantinya dengan warna hitam pekat yang tak pernah ia bayangkan akan ia kenakan di kuku-kukunya. Apakah akan bagus? Atau justru ia akan dianggap sebagai paranormal karena mengenakan cat kuku warna hitam?
"Pusing amat, Mbak."
Elsa berjengit begitu mendengar seseorang berbicara tepat di belakangnya. Ingin mengumpati dengan kata-kata kasar, namun masih sadar diri bahwa ia masih berstatus sebagai pelajar--mahasiswa. Dilihatnya seseorang yang kini sudah berdiri dengan apik di sampingnya. Tangannya juga ikut menyentuh botolan-botolan cat kuku yang berjajar rapi di rak.
"Kalau kata saya, kamu cocoknya pakai warna yang ini." Ia mengambil satu botol cat kuku berwarna cokelat muda, menyerahkannya pada Elsa yang kini masih terdiam di tempatnya.
"Dokter Faris ngapain, sih? Ngikutin aku?" todong Elsa tak santai sambil menerima uluran botol cat kuku yang barusan diberikan. Dokter Faris mengedikan bahunya dengan ekspresi wajah yang dibuat dramatis.
"Enggak tau, tuh. Tiba-tiba aja radar saya nangkap kamu ada di sini," jawabnya tak pernah serius. Elsa melengos begitu mendengar jawaban dokter Faris. Dirinya mengambil satu botol aseton--pembersih cat kuku dan bergegas menuju kasir, membayarnya, lalu pergi dari toko dengan langkah yang dibuat besar-besar.
Sebenarnya, percuma. Selebar apapun langkah yang Elsa ambil, dokter Faris punya seribu kali langkah yang lebih besar darinya. Membuatnya lagi dan lagi harus berhadapan dengan sang dokter.
"Habis ini mau kemana?" tanya dokter Faris sambil berjalan dengan santai di samping Elsa.
"Mau balik," jawab Elsa ketus.
"Mau ngebaso dulu enggak?" tawarnya. Elsa mendecih, dirinya tengah dijadikan korban modus oleh dokter Faris. Mana bisa!
"Enggak, makasih."
...
Penolakan Elsa berbuah petaka.
Sekarang, gadis itu duduk di depan dokter Faris yang tengah sibuk memakan satu mangkuk bakso urat yang beberapa menit lalu mereka pesan. Awalnya, Elsa enggan--tak mau ikut dokter Faris. Namun, sang dokter memaksa dengan cara yang paling tidak elit sedunia.
"Ikut atau sita ini ponsel kamu?"
Sialan.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Bar Bar
Genç KurguIni cerita dokter Nata dan dua kawanannya, ditambah dokter Faris yang entah datang dari mana. ©mochikuchim 2020
