Part 2

205 47 6
                                    

Sang ketua kelas mempersilahkan sosok yang berada didepan pintu untuk masuk kedalam kelas. Dan pada detik itu pun Salma tidak sadarkan diri, ia pingsang sewaktu melihat sosok yang tadi sudah memasuki kelas.

Semua orang yang berada dilokasi panik seketika, disini Najwa bingung dengan kondisi Salma yang seketika berubah jadi sakit. Bahkan sampai pingsan.

Tak lama petugas UKS membawa tubuh Salma yang berada diatas tandu. Najwa hanya memandang iba melihati tubuh Salma. Berbeda dengan Alina dan Iqbal. Mereka terlihat biasa saja dengan kondisi Salma, tak ada raut kekhawatiran disana.

"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarrakatuh, saya disini sebagai ketua rohis ingin menyebarkan formulir pendaftaran rohis. Barang siapa yang ingin mendaftar sebagai anggota rohis bisa mengisi formulir ini dan setelah diisi berikan kepada saya." ujarnya.

Tangan mungil Najwa dengan sigap mengisi formulirnya. Setidaknya ia bisa memperdalam ilmu agama dengan mengikuti rohis walaupun bukan dipesantren maupun aliyah.

Ketua rohis melangkahkan kaki keluar dari kelas. Najwa berlarih menemui ketua rohis untuk memberikan formulirnya.

"Kak tunggu." ucapnya sedikit berterik. Yang merasa dipanggil menolehkan pandangan kearah sumber suara.

"Iya."

"Kak saya ingin mendaftar sebagai anggota rohis, ini formulir saya." ucap Najwa yang setia selalu menundukkan pandangan.

"Alhamdulillah masih ada yang mau mendaftar." Najwa yang mendengar hanya tersenyum.

"Ha?" tanya Najwa bingung. Pasalnya mengapa ketua rohis bilang kalau masih ada yang mau mendaftar. Apakah sebanyak mahasiswa disini tidak ada yang minat dengan kegiatan rohis. Entahlah.

"Ehm, kegiatan rohis hari senin sama rabu jadi besok kamu datang diruang rohis sepulang sekolah. Yah sudah saya pamit dulu, Assalamu'alaikum"

"Waalaikumussalam"

Najwa kembali memasuki kelas, ia ingin mengajak Alina untuk menjenguk keadaan Salma sekarang diuks.

"Alina ayo ke uks lihat keadaan Salma." Alina menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

Mereka berdua melewati banyak ruangan dan lorong yang ramai. Tahu sendiri kan kalau sudah jamkos murid tidak akan diam didalam kelas. Pasti ada aja yang keluar, entah itu kekantin, nongkrong didepan kelas, ataupun cuman ngadem sebentar. Maklumin aja yah namanya masih stabil.

Diperjalan Najwa menanyakan penyakit yang diderita Salma. Kenapa sebelum penyakitnya kambuh tidak ada gejalah dan keadaannya masih sehat bugar.

*Author memangnya kalau mau sakit harus gimana dulu?.

Alina memang tidak tahu pasti dengan penyakit Salma, yang ia tahu hanya gini,"lo tahu yang tadi dikelas kita bagiin formulir?" Najwa mengangguk."itu namanya kak Fatih, orang yang disukai sama Salma. Setiap Salma ketemu sama kak Fatih ada aja penyakit yang keluar. Mulai dari demam, tifus, radang, kadang kadang sampai mimisan bahkan pingsan mendadak." ujar Alina.

"Sebab itu gue selalu panggil dia bucin, lo tahu kan bucin itu apa?" Najwa menggeleng dengan wajah polosnya. Gimana mau tahu hampir setengah hidupnya berada dipesantren. Selama ia dipesantren tak tahu apa itu bucin bahkan tak pernah mendengarnya.

"Budak cinta, dia itu berlebihan kalau suka sama seseorang. Tapi sih kalau gue mandangnya lucu, sebab selama gue hidup gak nemuin manusia kayak Salma. Aneh banget bukan?"lanjutnya.

Percakapan mereka berakhir ketika sampai dedipan ruang uks. Bauh obat sangat menyengat diindra penciuman. Bagaikan obat adalah parfun yang terlekat dalam ruang uks.

Cinta DiamkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang