CANDALA

4.1K 499 31
                                        

Udara Istanbul begitu membuat lega Aruni tidak seperti biasanya, dia pulang dengan senyuman penuh diwajahnya. Siang ini rasanya begitu cerah dan membuat hatinya pun berbinar bahagia.

Mamanya menatap Aruni dengan heran, tidak seperti biasanya putrinya tersenyum saat pulang setelah melaksanakan kegiatan serta wajah cerah bukan wajah lelah karena kantuk seperti biasanya.

“Assalamualaikum Ma.” Salamnya.

“Wa’alaikumsalam, sudah sarapan nak?”

“Sudah, tadi bersama teman – teman di sana. Aku izin istirahat ya.”

Mamanya hanya mengangguk. Dikamar Aruni langsung membuka handponenya melihat photo – photo yang dikirimkan Musab saat acara juga photo panitia bersama Fahim Sidiq. Senyum Aruni terbit diwajahnya. Kenapa mendadak dirinya jadi senang hanya melihat photo saja.

Groupnya kembali ramai.

Musab : Persiapan untuk ke Hagia shopia besok sudah selesai, kumpul ditempat yang sudah ditulis di Rundown acara.

Fatima : Alhamdulilah, Siap berangkat.

Sulis : Tidak sabar menunggu besok.

Yunus : Alhamdulilah

Sulis : Ustadz Fahim ada digrup ini?

Tidak ada yang membalas pertanyaan Sulis, ini grup khusus agar memudahkan mengkoordinir peserta oleh para panitia. Aruni pun penasaran, dirinya melihat nama – nama yang tertulis digrup. Ternyata benar ada nomer yang bertuliskan nama lelaki itu.

Musab : @Arunika Jangan lupa pesanan kue kunefe untuk besok. Kamu sudah bilang kepada kakakmu?

Arunika sedikit tersentak karena hampir saja lupa.

Arunika : Hampir saja lupa, Akan aku hubungi kakakku segera.

Fahim Sidiq : Kue yang bikin rindu jika ke Turki.

Musab : Iya Akh, kita sudah memesan direstoran kakak Aruni untuk makan siang untuk besok.

Aruni tidak berkedip saat nama Fahim Sidiq ada dilayar chatnya.

Fatima : Bukankah kalian dirumah yang sama @Musab? Kenapa harus balas diChat.hehe

Musab : Tidak, Akhi Fahim menginap dihotel keluarganya di Turki.

Fahim Sidiq : Takut tertukar, mengira pengantinnya saya. Jadi saya pindah.

Musab : Becanda orang shalih begitu ya.

Percakapan itu tidak berlanjut lagi. Percakapan dalam bahasa inggris agar dimengerti oleh semuanya di sana. Aruni merebahkan tubuhnya diranjang, memejamkan matanya mendengar detak jantungnya yang tidak diam.

Dia sedang tidak mengerti apa yang diinginkan hatinya saat ini. Pintu kamarnya ada yang mengetuk, Mamanya.

“Ada Mirza, katanya ingin bertemu denganmu.”

“Mirza, bersama isterinya?” Tanya Aruni.

“Sendiri.”

Aruni langsung menghampiri Mirza diruang tamu dengan pikiran yang menduga macam – macam. Melihat Aruni datang, Mirza tersenyum.

“Ada apa? Tidak seperti biasanya kamu ke sini.”

“Aku biasa ke sini, dulu pun begitu.” Jawab Mirza.

“Sekarang sudah beda lagi, kamu sudah menikah.”

“Ya, aku tetap sepupumu. Kita keluar hari ini. Aku mau mentraktirmu.”

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang