You Realized I Lie

240 40 16
                                        

   Pagi hari di kampus, aku sudah menikmati secangkir kopi susu hangat di kantin teknik bersama Melly.

   Sepertinya aku datang terlalu pagi. Kabar buruknya, aku jadi harus menunggu lebih lama jam masuk dosen untuk mengajar, dan kabar baiknya, tidak akan ada isu miring tentang aku dan Arga karena tidak ada yang melihat kami datang berdua pagi tadi.

Bahkan Melly pun tidak tau.

Tidak sama sekali.

   "Capek nggak Key kerja sambil kuliah?"

   "Ya begitulah."

   Selanjutnya sruputan minuman kami yang menjadi jawaban.

   "Nyokapnya si Leo gimana?" tanya Melly lagi.

   "Baik."

   "Terus anaknya? Itu si kunyuk apa kabar?"

   "Baik."

   Sejenak hening. Melly menatap ke arahku, sebaliknya, aku menatap ke arah Melly. Ada sorot bertanya di dalam matanya, bertahun-tahun berteman dengan dia, aku bisa membaca tatapan itu.

   "Tumben lo nggak sumringah bahas si Leo," ujarnya.

   "Ya nggak gitu, Mel."

   "Nah terus?"

   "Lagi males bahas apa-apa."

   Melly menatapku sekali lagi, lalu terdiam dan kembali pada minumannya. Ia seakan mengerti diriku yang sedang malas membahas apapun, ini memang sikapnya, Melly selalu membiarkan aku terdiam dan rela membuat hambar suasana diantara kita untuk setidaknya membuatku lebih nyaman untuk tidak ditanya.

   Namun jika saja Melly tau, aku hanya takut salah ucap dan rahasia soal aku dan Arga terbongkar.

   Sebenarnya ini hal biasa. Biasa sekali. Bercerita soal pria atau bahkan junior-junior baru yang kami nilai tampan sudah menjadi hal lumrah, sedari SMA pun kami hobi menggosipi cowok-cowok tampan incaran wanita seantero. Bahkan aku akui Melly akan sangat excited jika mendengar aku bercerita soal Arga, idola kampus yang digilai sana-sini.

   Tapi entah kenapa, rasanya bibir ini kelu untuk menceritakan semua itu sekarang.

Ting!

Arga
   Nanti kalo lo belum liat gua di depan kelas lo, tunggu gua di parkiran ya

   Aku melirik sedikit kepada Melly yang ternyata masih asik menyeruput kopi susu miliknya.

Key
   Nggak usah, nanti balik sendiri aja. Btw thanks tadi tumpangannya

Arga
   Nggak gitu lah. Gue jemput lo, ya harus anter lo juga

Arga [2]
   Tunggu ya nanti

   Seperti biasa, pesannya hanya aku baca. Mungkin keadaan ini akan sama seperti kemarin malam. Bimbang di awal, lalu setuju di akhir, jadi aku memilih untuk diam dulu, mungkin nanti aku akan berubah pikiran.

***

   "Jalan-jalan dulu gimana?"

   Aku agak tertegun ketika Arga bertanya demikian.

   "Duh, enggak deh, Ga. Gue harus langsung cabut," balasku.

   "Kemana?"

Homesick HeartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang