"Pagi, tante."
Leo yang berjalan di belakang Melly menutup pintu lalu selanjutnya menghampiri mama. Melly menepati ucapannya yang kemarin, untuk menjenguk mama Leo hari ini. Leo barusan menjemputnya di resepsionis, untuk bisa lebih mudah tiba di kamar mama. Ia ke sini sendiri, hanya membawa diri dan kantung berisi buah-buahan, bawaan umum khas orang menjenguk.
"Kamu temennya Leo?" tanya mama pada Melly setelah ia mencium tangan.
Melly meletakkan buah-buahan bawaannya di atas nakas. "Iya, tan. Satu kampus."
"Oh gitu, berarti kenal Key juga dong?"
"Wah kalo dia mah udah bukan kenal lagi, udah kayak sodara sendiri."
Mama tertawa kecil. "Deket banget ya?"
Melly mengangguk.
"Duduk," kata mama menunjuk pada kursi di dekat ranjangnya. Melly menarik kursi itu, lalu duduk di dekat mama. Sementara Leo, duduk di atas sofa, menemani Carla bercerita tentang boneka-bonekanya.
"Kamu namanya siapa?" tanya mama.
"Melly, tan."
"Melly kuliahnya sambil ngekos apa pulang pergi?"
"Ngekos. Soalnya rumah rada jauh dari kampus."
"Oh gitu," mama mengangguk-angguk. "Key mana? Nggak ikut Melly ke sini?"
Melly tertegun sejenak. "Enggak, tan. Dia lagi banyak tugas kuliah."
"Key itu pacarnya Leo, dia biasanya sering ke sini jagain tante, jagain Carla juga. Cuma belakangan ini udah jarang, ternyata banyak tugas ya?"
Melly melirik ke arah Leo, dibalas tatapan tanpa jawaban olehnya. "Iya, tan. Banyak banget, dia juga kadang suka numpuk tugas, jadi selesainya lama."
Mama terkekeh. "Anak muda," kata mama. "Tapi Leo santai-santai aja kayaknya, malah tante nggak pernah liat dia ngerjain tugas," lanjut mama, lalu kini menatap ke arah Leo.
Leo hanya diam, tak mungkin memberi tau bahwa ia sebenarnya sudah putus kuliah.
"Kalo Leo mah rajin, tan. Dia sekalinya ada tugas, langsung buru-buru dikerjain, jadi selesainya cepet, biar pulang kampus bisa langsung leha-leha. Iya kan, Le?" Melly yang seakan paham suasana kaku itu pun langsung buka suara.
"Iya lah. Leo kan mahasiswa paling teladan, ma. Ya kan, Mel?" balas Leo meledek.
Melly mendecak. "Ya nggak nyampe paling teladan juga."
Mama tertawa. "Bagus deh kalo gitu. Seneng mama dengernya," kata mama. "Oh iya, kalo Key? Dia di kampus gimana?" lanjutnya
Melly lagi-lagi tertegun sejenak. "Dia baik kok, tan. Nggak pernah bikin masalah, jarang bolos, ya paling itu doang tadi, dia suka males kalo ngerjain tugas."
Mama mengangguk-angguk. "Leo sama Key kalo di kampus gimana? Nggak berlebihan kan pacarannya?"
"Enggak. Biasa-biasa aja."
Melly kehabisan kebohongan dalam pertanyaan terakhir tadi. Entah harus menjawab bagaimana, karena memang nyatanya Leo sudah tidak kuliah, dan hubungan mereka pun sudah kandas, jadi tak ada gambaran hubungan apapun lagi yang mungkin bisa ia ucapkan sebagai kebohongan selanjutnya.
"Terus terus, kamu sama Key sedeket apa? Coba cerita."
Melly diam, kali ini setidaknya ia bisa lebih jujur menjawab pertanyaan mama Leo. Ini lebih mudah, ada banyak hal kedekatan antara mereka yang bisa Melly gambarkan pada beliau, meskipun ia tak menceritakan hubungan buruk antara dirinya dan Key akhir-akhir ini, hal itu ia rahasiakan, ia hanya terus berkata banyak hal yang menyenangkan dan mungkin masih ditambahi sedikit bumbu kebohongan.
***
01.33 WIB
"Sembilan, sepuluh, sebelas. Sebelas juta lima ratus."
Leo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Meletakkan tumpukkan seratus ribu rupiah di atas meja sofa rumahnya. Memikirkan biaya rumah sakit yang kemungkinan masih kurang.
Leo hela napas panjang lalu bersandar sejenak pada sofa. Hari ini ia di rumah, bukan di rumah sakit. Ia bilang pada mama bahwa ada tugas kampus yang harus ia kerjakan bersama kelompok belajar, dan mama jelas saja menyetujui, ia bahkan meminta Leo pergi sendiri tanpa Carla karena takut akan mengganggu, biar mama yang menjaga. Begitu pikirnya.
Padahal ia bohong. Selepas jam lima sore tadi ia memang pergi meninggalkan mama dan adiknya di rumah sakit. Namun jelas saja bukan untuk tugas. Rolfie mendapat shift sore di mall hari ini, ia berangkat jam lima, memulai kerja jam enam, lalu pulang jam dua belas malam, lantas setelah selesai dengan pekerjaannya di mall, ia langsung tancap gas untuk pertandingan.
Karena kemenangannya melawan juara bertahan kemarin yaitu Glenn, Leo alhasil semakin dipercayai untuk terus menjadi pemain dalam hal ilegal ini, padahal kemenangan kemarin hanyalah perihal kebaikan Glenn. Tapi ia tetap datang, bermain lagi dan berkutat dengan lawan di dalam ring, lalu kemudian pulang dengan status pemenang dan juga uang. Ia tidak lupa dengan janjinya tadi pada sang mama yang memintanya berhenti bertengkar tidak jelas, namun sebuah kalimat yang keluar dari mulut mama saat berbicara hal tadi pun tidak juga ia lupakan.
Abang cuma boleh pake kemampuan bela diri abang untuk nolongin orang lain atau untuk sesuatu yang mendesak.
Untuk nolongin orang lain atau untuk sesuatu yang mendesak.
Untuk sesuatu yang mendesak.
Dan Leo pikir ini adalah masa yang tepat. Leo harus menolong mama untuk perihal rumah sakit, dan juga perlu menolong Carla untuk perihal kebutuhan pertumbuhanya. Masa ini mendesak, ayah tidak ada, dan belum ada uang yang dikirim sejauh ini, membuatnya harus kembali memutar otak, dan pertandingan ilegal itulah jawabannya.
"Huhh," Leo lagi-lagi ambil napas panjang. Kepalanya menatap ke atas, langit-langit rumah yang tidak ada istimewanya. Memang, matanya menatap langit-langit, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Cold bones. Yeah, that's my love. (Bertulang dingin. Ya, itulah kekasihku)
She glides away, like a ghost. (Dia meluncur terbang, seperti hantu)
Does she know that we bleed the same? (Taukah dia bahwa kita sama-sama terluka?)
Don't wanna cry, but i break that way (Tidak ingin menangis, tapi aku hancur begitu saja)
Suara dari musik di hape Leo menjadi pemecah suasana dari sunyinya malam ini. Uang yang tadi ia hitung masih ia biarkan di atas meja untuk besok ia serahkan pada pihak rumah sakit sebagai pengganti pelayanan yang sudah mereka berikan pada mama.
Leo menyandarkan kepalanya pada puncak sofa. Matanya masih menatap langit-langit, lalu ia lagi-lagi menghela napas memikirkan banyak hal. Ia lantas kemudian memejamkan mata, lalu menutup wajahnya dengan pergelangan tangan yang ia letakkan di atas mata. Mencoba istirahat.
Cold sheets. Oh where's my love? (Sofa yang dingin. Oh dimanakah kekasihku?)
I'm searching high i'm searching low, in the night. (Aku mencari kesana kemari, di malam hari)
Does she know that we bleed the same? (Taukah dia bahwa kita sama-sama terluka?)
Don't wanna cry, but i break that way. (Tidak ingin menangis, tapi aku hancur begitu saja)
***
Eh minal aidin wal faidzin yaa 🙏😗
